Siklus hidup sebagian masyarakat di kawasan rawa gambut kini seperti terjebak dalam kutukan cuaca yang tak kenal ampun. Ketika musim kemarau tiba dan lahan dibakar, udara pekat dipenuhi kabut beracun yang menyiksa dada, memaksa warga mengurung diri di rumah demi sekadar bertahan hidup.
Ironisnya, saat musim penghujan akhirnya datang memadamkan bara api, kelegaan itu tidak bertahan lama. Air yang tadinya diharapkan justru berubah menjadi air bah yang merendam permukiman karena benteng alami hutan dan gambut yang berfungsi menyerap curahan air sudah musnah terbakar.
Simalakama Tahunan: Asap Pergi, Air Bah Menanti
Ungkapan getir warganet di linimasa medsos bukan sekadar keluhan kosong belaka. Asap tebal baru benar-benar reda ketika target pembukaan lahan sudah terpenuhi atau guyuran hujan ekstrem datang menyiram bumi secara paksa.
Namun kondisi tersebut menghadirkan situasi buah simalakama yang nyata. Lapisan gambut tebal dan tutupan kanopi rimba yang selama ratusan tahun menjadi spons penyerap air hujan kini tinggal hamparan abu arang.
Akibatnya sangat jelas: tanpa penopang resapan alami yang tersisa, limpasan air hujan langsung tumpah ke sungai dan menggenangi kampung-kampung di hilir, menciptakan siklus bencana kembar yang datang bergantian sepanjang tahun.
Ketimpangan Nyata di Balik Kepulan Abu
Kontras sosial paling menyengat dari rentetan bencana ekologis ini terletak pada pembagian risikonya. Warga di tapak dasar harus berjibaku dengan infeksi saluran pernapasan saat kemarau dan mengungsi saat kasur mereka terendam lumpur banjir.
Di kutub yang berbeda, para pihak yang berada di rantai pengambil keputusan, pembuat regulasi, maupun pihak pengembang lahan tetap dapat beristirahat dengan tenang di ruangan sejuk berpenjernih udara.
Arus keuntungan finansial dari pembukaan lahan dengan cara cepat dan murah itu tetap mengalir lancar, sementara beban kerusakan lingkungan sepenuhnya dioper menjadi penderitaan bersama masyarakat banyak.
Menagih Nurani dan Tanggung Jawab Ekologis
Menormalisasi bencana berulang dengan dalih faktor cuaca musiman adalah bentuk pengabaian yang sangat fatal. Kebakaran gambut dan banjir bandang bukanlah takdir buta alam, melainkan dampak langsung dari pilihan intervensi manusia terhadap bentang lahan.
Selama pengawasan izin dan penegakan hukum lingkungan masih tunduk pada kompromi ekonomi sesaat, masyarakat akan terus tersandera dalam perangkap dua musim: terbakar di saat kering, dan tenggelam di kala basah.
Referensi & Sumber: Fahmi Hasan Nugroho & monika_dt26







