Nusagatizen

Wanita Pertama yang Masuk Surga

Kisah inspiratif penuh hikmah ini perlu dijadikan sebagai bahan renungan bagi wanita-wanita yang ingin mendapatkan kemuliaan hidup di dunia maupun akhirat.

Kisah tentang wanita pertama yang akan masuk surga menurut sabda Baginda Nabi Muhammad ini sudah pernah kudengar sebelumnya. Namun, aku lupa mencatat sumbernya. Hari ini, aku dapatkan kisah ini dari akun Facebook milik bapak Musthofa Zuhri. Aku berharap bisa mendapat redaksi teks aslinya. Kalau sudah ketemu, insya Allah akan aku sisipkan di catatan ini.

Silahkan dibaca kisah penuh hikmah di bawah ini.

Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga?

 Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri?

 Maka timbullah keinginan fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.

Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam,

 “Assalamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah.

 Suaranya cerah dan merdu.

“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.

“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. 

Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.

“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.

“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.

“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah.

 Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:

“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.”

 “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.

“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah

“Di ladang,” jawab Muti’ah.

“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.

“Bukan. Bercocok tanam.”

“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”

“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyum.

” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain.

Maksudnya ?”tanya fatimah 

 Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.

“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala.

 Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus.

 Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”

tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu.

 Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. 

Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya.

 Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya.

 Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga…semoga dapat mengambil hikmah dari cerita di atas…’

Tahukah Kamu Arti sudut?

su·dut n 1 penjuru; pojok: -- bilik; -- mata; 2 Mat bangun yg dibuat oleh dua garis yg berpotongan di sekitar titik po tongnya: -- tumpul; -- siku-siku; 3 tempat yg jauh-jauh dan tidak mudah dikunjungi; pelosok: bendera merah putih berkibar sampai ke -- kota; 4 segi (arah pandangan, pokok, atau dasar pandangan yg tentu): ditinjau dr -- keamanan, daerah itu boleh dijadikan permukiman;-- alas Mat dua sudut dl sebuah segitiga dng alas segitiga itu sbg kaki persekutuan; -- lancip sudut yg besarnya kurang dr 90o; -- lurus Mat sudut dng kedua sisinya terletak pd garis lurus yg sama, tetapi terentang ke arah yg berlawanan dr titik sudutnya; sudut yg besarnya 180o; -- mata sudut yg dibentuk oleh pertemuan tepi kelopak mata; -- nol Mat sudut yg dibentuk oleh dua sinar yg berasal dr titik yg sama dan dl arah yg sama sehingga keduanya berimpit; sudut yg besarnya 0o; -- pandang cakupan sudut bidik lensa thd gambar; -- puncak Mat sudut dl sebuah segitiga yg berhadapan dng alasnya; -- siku-siku Mat bangun yg terjadi ketika dua garis berpotongan tegak lurus; sudut yg besarnya 90o; -- tumpul sudut yg besarnya lebih dr 90o;me·nyu·dut v 1 merupakan sudut; 2 menuju sudut; ke sudut: tembakan - dan keras itu luput dr tangkapan penjaga gawang;me·nyu·dut·kan v 1 menempatkan ke sudut; 2 ki berusaha agar orang lain tidak dapat melawan (menjawab); memojokkan;ter·su·dut v 1 terpepet ke sudut; 2 ki tidak dapat melawan (menjawab) serangan orang lain; terpojok
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close