Nusagachild

Waktu Yang Tepat Untuk Mengoreksi Perilaku Anak

Sebagai orang tua, kita sering kali dihadapkan dengan perilaku anak yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Misalnya anak suka membantah ketika diminta melakukan sesuatu, makan makanan dengan tangan kiri, bermain dengan sesuatu yang berbahaya, dan lain-lain. Untuk itu, mengoreksi perilaku anak adalah hal yang wajar dilakukan untuk menanamkan karakter positif pada anak sesuai dengan norma dan nilai yang dianut orang tua secara khusus atau lingkungan sekitar secara umum.

Ayah Edy pada sebuah bukunya yang berjudul Ayah Edy Menjawab menganjurkan orang tua untuk menghindari kata “Jangan” (misal: jangan lari, jangan gaduh, jangan nakal, dll.) untuk mengoreksi anak sebaliknya ia menganjurkan untuk menggunakan kata preventif semisal hati-hati, berhenti, diam di tempat atau stop. Aku mengamini sebagian argumentasi Ayah Edy namun jika diminta untuk menghilangkan kata “jangan” pada proses koreksi pada anak, aku tidak bisa. Kenapa tidak? Aku menanamkan kata “jangan” pada si K sebagai jalan pintas (short cut) untuk mengalihkan perhatian si k pada hal yang akan dilakukannya. Misal ketika ia mau memegang gelas berisi air panas dan pada saat yang bersamaan aku mengatakan kata “jangan” maka ia akan membatalkan aksinya antara 1 sampai 3 detik. Jeda waktu itu bisa kugunakan untuk menyingkirkan gelas yang panas atau mengalihkan perhatian si k dengan cepat dan simultan (terus menerus). 

Kenapa memilih kata “jangan” dan tidak menggunakan kata preventif yang tidak berbentuk susunan negatif?

Ada kalanya aku menggunakan kata preventif sesuai anjuran Ayah Edy. Namun di lain kesempatan tetap menggunakan kata jangan. Alasannya begini: pertama karena keterbatasan kosakata yang aku miliki, aku kesulitan untuk mengganti kalimat negatif dengan kalimat preventif yang positif. Proses yang dibutuhkan untuk spinning (mengganti susuanan kata negatif menjadi kata positif) yang dibutuhkan otakku cenderung lebih lama dibanding dengan kecepatan si k menjalankan aksinya. Dalam kata lain, si k lebih dulu beraksi dalam bahaya sebelum aku sempat mengoreksinya dengan kata preventif yang positif. Kedua: aku merasa lebih mudah menekankan satu kata sebagai instruksi larangan pada si k untuk hal-hal yang bersifat emergensi (darurat) daripada menggunakan kata-kata positif yang bervareasi. Kecepatan anak yang satu dengan anak lainnya dalam memahami kata tentu berbeda. Perbedaan itu membuatku berusaha keras untuk meracik ramuan kata yang efektif untuk melerai, melarang, atau lainnya dalam hal koreksi perilaku si k.

Waktu yang Tepat untuk Mengoreksi Perilaku Anak

Sebagaimana yang telah kusampaikan di atas, aku menggunakan kata “jangan” sebagai salah satu bagian untuk melakukan koreksi pada perilaku anak. Penggunaan kata “jangan” itu bukan kulakukan begitu saja untuk melarang si k melakukan ini dan itu. Namun, kata itu kutanamkan ke dalam memorinya mengikuti teori pengondisian (classical conditioning) yang diperkenalkan oleh Pavlov. Tujuan akhir dari pengondisian menggunakan kata “jangan” adalah si K memberikan jeda waktu beberapa detik sebelum melanjutkan aksinya. Ini adalah tahapan awal atau preconditioning untuk melakukan proses koreksi yang sesungguhnya. Proses inti koreksi biasanya akan kulakukan ketika si K sudah mulai tenang dan bisa diajak komunikasi. Contoh pemberian koreksi pada si K yang biasa kulakukan dengan menggunakan kata “jangan” adalah sebagai berikut:

Ketika si K akan melakukan hal yang berbahaya, aku cukup mengatakan kata “jangan”. Ia kemudian akan mengurungkan aksinya dalam waktu antara 1 sampai 3 detik. Dalam waktu singkat itu, aku harus memutuskan dengan cepat antara memilih 3 hal yaitu 1). menyingkirkan benda berbahaya, 2). mengajak pergi si k dari benda/tempat berbahaya, atau 3). mengalihkan perhatian si k tanpa menyingkirkan benda berbahaya atau mengajak si K pindah tempat. Ketika si k sudah aman dari bahaya kemudian aku harus memutuskan antara dua hal yaitu: 1). apakah mengajari si K menghadapi bahaya itu atau 2). Mengalihkan si K sepenuhnya dari bahaya.

Ketika aku memutuskan untuk mengajari si k dalam menghadapi bahaya maka aku perlu membuatnya tenang terlebih dahulu. Suatu instruksi atau koreksi tidak akan berpengaruh sama sekali ketika disampaikan saat si K sedang aktif ingin melakukan sesuatu. Untuk itu, ia harus dibuat tenang terlebih dahulu. Upaya untuk membuat tenang ini bisa dengan cara menyampaikan penjelasan mengenai bahaya yang akan dilakukan oleh si K. Aku sering menggunakan kata-kata preventif yang dianjurkan Ayah Edy pada tahapan ini. Jika kata-kata itu tidak mempan maka aku akan mengajak si K untuk membuktikan bahaya itu dengan mengupayakan resiko seminimal mungkin misal: 1). memandu si K menyentuh gelas berisi air panas agar dia bisa mengalami sendiri apa yang dimaksud bahaya dengan gelas itu. 2). Sengaja membuat si k terjatuh ketika ia tidak bisa dilerai bermain panjat-memanjat. Setelah ia merasakan sendiri atau mengalami bahaya yang dimaksud itu biasanya akan lebih mudah untuk diingatkan ketika ia akan melakukan bahaya yang sama.

Intinya, untuk melakukan koreksi pada anak, kita perlu membuatnya tenang terlebih dahulu. Kita tidak bisa mengoreksinya ketika dia sedang sangat aktif, marah, menangis, atau lainnya. Memarahi anak tepat ketika ia usai melakukan kesalahan tidak akan begitu berdampak pada perubahan perilakunya. Rasa takut, penyesalan, atau lainnya akibat kesalahan yang dilakukan akan menutup dirinya untuk menerima instruksi atau koreksi. Ia akan lebih mudah dikoreksi ketika ia sudah tenang dan berhasil mengendalikan emosinya. So, sebagai orang tua, kita harus bijak memilah waktu untuk melakukan koreksi. Jangan sampai salah waktu yang dapat menyebabkan anak menjadi tertekan, tak dihargai, atau perasaan lain yang dapat mengganggu psikologisnya. Amd.

Tinggalkan Balasan