Nusagachild

Waktu Yang Tepat Mulai Menyekolahkan Anak

Memiliki anak usia balita seringkali dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar sekolah anak. Misalnya kapan waktu yang tepat untuk mulai menyekolahkan anak, sekolah di mana, dan lain sebagainya.

Aku melihat banyak orang tua yang buru-buru menyekolahkan anak karena ingin “terbebas” sejenak dari mengurus anak. Sekolah semacam menjadi tempat penitipan anak. Mereka dipaksa masuk kelas meskipun menangis dan meronta-ronta. Seringkali anak-anak itu diancam macam-macam kalau tidak mau sekolah. Sungguh malang dan kasian!

Berbicara mengenai waktu yang tepat untuk mulai menyekolahkan anak harus melihat beberapa komponen yang ada. Kesiapan anak dari segi psikologis untuk bertemu orang-orang asing harus benar-benar dipertimbangkan. Anak yang belum siap secara psikologis tapi dipaksa orang tuanya untuk sekolah bisa mengalami trauma. Jika hal ini tidak mendapat perhatian khusus terlebih antara orang tua dan pihak sekolah abai dengan hal tersebut bisa berakibat kurang bagus. Trauma masa kecil itu bisa memunculkan rasa tidak suka bahkan benci pada dunia sekolah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesiapan anak dari segi sosial. Anak yang masih tidak mau lepas dari ibunya bisa menjadi masalah di kemudian hari. Jika hal ini tidak diperhatikan, anak bisa mengalami kegagalan proses sosialisasi yang akan berakibat terhambatnya proses perkembangan jiwa sosialnya. Bisa saja karena kegagalan proses sosialisasi itu menyebabkan anak menjadi tertutup, penakut, kurang percaya diri, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, hal yang tak kalah penting menjadi pertimbangan sebelum menyekolahkan anak adalah kondisi emosional anak. Jangan sampai anak tiba-tiba menangis saat di sekolah dianggap hal wajar karena baru mengenal lingkungan baru. Bisa jadi itu pertanda bahwa anak belum siap dari segi emosional.

Kalau anak yang merengek minta sekolah apa itu pertanda sudah waktunya untuk sekolah? Belum tentu. Jangan-jangan itu hanya keinginan sesaat karena terdorong imajinasi liarnya. Anak yang merengek mau naik rollercoaster bukan berarti dia siap untuk naik, kan? Oleh sebab itu, bonding antara orang tua dengan anak sangat diperlukan di sini untuk meraba kesiapan anak.

Beberapa hal yang ingin aku tekankan di sini adalah jangan mengukur kesiapan anak untuk sekolah terpaku pada usia atau kecakapan secara fisik belaka. Kesiapan secara sosial dan emosional juga sangat penting untuk diperhatikan demi mendapatkan pendidikan yang holistik.

Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: nusagates@gmail.com. Hubungi via 0822 2500 5825

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close