Nusagatizen

Uji Kesiapan Terakhir Pacarku Menjelang Munaqosah

Sebelum menyulam huruf menjadi rangkaian paragraf lebih jauh, aku mau minta maaf. Sedianya, tulisan ini akan aku muat ke blog satu hari menjelang (H-1) munaqosahnya Ayi. Tapi ndilalah kemarin itu, ketika mau menulis tentang ini, mendadak kepalaku pusing serta badan gemeteran. Menjelang waktu ashar itu, aku baru ingat kalau sejak pagi belum mengonsumsi karbohidrat yang cukup. Tapi sudah menyantap kopi dan beberapa batang rokok secara berkesinambungan. 

Cukup ya? Tak perlu lebih jauh mengoceh tentang kejadian kemarin itu. Malah jadi gagal fokus nanti. Yang jelas, nasi goreng cepat saji kemarin itu ada nilainya tersendiri untuk ujian pra Munaqosah. 😅

Tulisan ini merupakan bagian dari sekuen tulisan mengenai aktivitas kuliah pasca menikah. Kalau mau baca sekuen tulisan sebelumnya, silahkan cari sendiri ya.


===||===

“Perjuangan masih belum berakhir”, batinku ketika beberapa hari yang lalu masih harus melegowokan hati menjadi tukang ojeg pacar mengurusi berkas untuk pendaftaran munaqosah. Bahkan! Di tengah siang bolong, di bawah terik matahari yang begitu terasa membakar kulit, kami nekat mengajak si K motoran ke Ungaran untuk membayar SPP di sebuah bank BRI Syariah di sana. Setelah itu balik lagi ke kampus IAIN Salatiga untuk melaporkan bukti pembayaran SPP ditukarkan dengan dua buah lembar surat keterangan bukti bebas SPP dan semacam keterangan bebas uang gedung. Aku lupa namanya.

Mengingat perjuangan pacarku, Ayi yang begitu luar biasa untuk menyelesaikan studinya jenjang S1, aku berusaha untuk tidak menyia-nyiakan momen itu. Di beberapa titik waktu, kutandai sebagai restore point. Agar kelak mudah ketika ingin sekedar flash back mengenai kisah itu. Beberapa hari yang lalu, aku pun membuat semacam uji kesiapan Ayi untuk menghadapi munaqosah.

Aku memintanya untuk ngeprint 2 copy slideshow yang dibuatnya untuk kebutuhan munaqosah. Satu untukku dan satunya lagi untuk ia pegang. Usai diprint, lembaran berisi poin-poin penelitian itu diberikan padaku. Aku kemudian berusaha mencari beberapa titik kelemahan penelitian. Bergaya sebagai dosen dan mulai mencerca Ayi dengan berbagai pertanyaan.

Apa instrumen yang digunakan sehingga bisa menyatakan siswa lulus dan apa indikator kelulusannya?

Pertanyaanku itu membuat ia diam sejenak. Berpikir sambil mencarikan data penelitian beserta instrumen yang ia gunakan untuk menentukan sejauh mana aspek afektif anak didik selama dieksperimen olehnya.

Satu persatu, ia mulai membacakan instrumen beserta  indikator yang digunakan untuk menguji nilai afektif anak didik. Aku kemudian menanyakan satu per satu contoh indikator nilai afektif nyata yang ia temui di sekolah. Aku berusaha menguji kekuatan argumentasinya untuk mempertahankan sintesis penelitiannya. 

Pondasi penelitiannya berusaha kuserang dengan pertanyaan dan pernyataan kontra untuk mempengaruhi psikologi dan logikanya. Pertanyaan sepele pun ikut masuk ke dalam daftar pertanyaan yang kuajukan seperti apa perbedaan keaktifan siswa dengan kemauan siswa untuk bekerjasama? Mengapa indikator ini tidak dijadikan satu? Ia berpikir sesaat kemudian menjawabnya menggunakan analogi semut yang sama-sama aktif bekerja. Semut yang satu membawa makanan secara individual sedangkan semut yang lain membawa makanan secara gotong royong.

Aku hanya menyoroti penilaian afektif saja. Sisi kognitif dan psikomotor sama sekali tidak kuuji kecuali masalah penyajian data namun, rasanya tak perlu untuk ditulis di sini.

Apa saja variabel kontrol pada penelitian ini?

Mendengar pertanyaan itu, ia malah menyebutkan variabel bebas dan terikat pada penelitian. Aku mengulangi lagi pertanyaanku dengan penegasan dan penjelasan.

Variabel kontrol itu digunakan untuk mengontrol dan membatasi penelitian. Misalnya: Pagi hari, Siswa sudah sarapan, di ruangan kelas, cuaca mendung, suasana tenang dll.. Variabel-variabel kontrol ini harus bisa diukur. Misalnya pagi hari, apa ukurannya harus jelas. Sehingga ketika nanti ada penelitian yang sama namun variabel kontrolnya berbeda bisa dideteksi dengan mudah apalagi kalau hasilnya berbeda. Penelitian yang satu berhasil meningkatkan hasil belajar dan satunya lagi tidak. Ini bisa dilihat juga dari pengaruh variabel kontrol. Misalnya yang satu melakukan penelitian pagi hari dan siswa sudah sarapan atau dalam keadaan kenyang dan satunya menggunakan kontrol waktu siang hari dan siswa dalam keadaan lapar.

Paham? Kira-kira apa variabel kontrol penelitianmu?

Ia pun menyebutkan satu persatu. “Semakin banyak variabel kontrol semakin bagus”, kataku padanya.

Meskipun penelitian sudah usai, aku berusaha menanyakan variabel kontrolnya karena variabel kontrol itu sangat penting bagiku. Misalnya begini: ada seorang peneliti sedang melakukan penelitian mengenai uranium ternyata uranium itu meledak. Kalau peneliti itu tidak menyebutkan variabel kontrolnya misal: diuji dengan panas x derajat, tekanan x derajat, kelembaban x %, suhu udara x C° dll. Maka sulit dipetakan apa penyebab ledakan itu.

Variabel kontrol yang digunakan untuk mengontrol metode pembelajaran apa? 

Aku berusaha menanyakan apa yang ia gunakan untuk mengontrol penelitiannya sehingga penelitian itu benar-benar menggunakan reciprocal teaching. Bukan menggunakan lainnya. Bisa jadi konsep penelitian menggunakan RT namun pada pelaksanaannya malah berubah menggunan Jigsaw misalnya. Untuk itu aku menanyakan kontrol metode pembelajarannya. Ia menjawab tidak ada.

Bagaimana bisa mengetahui bahwa siswa sudah melakukan tahap predicting? Apa indikatornya?

Ia menjawab bisa mengetahui hal itu dari siswa mengira-ngira jawaban soal yang diberikan oleh guru sebelum mengerjakannya.

Iya! Bagaimana mengetahui bahwa siswa benar-benar memprediksi. Apa hasil prediksi ditulis atau bagaimana?

Jawabannya mbulet dan tak bisa kusimpulkan. 😅

Bagaimana mengetahui siswa sudah melakukan tahap klarifikasi dan apa yang diklarifikasi?

Ia menjawab siswa mengklarifikasi prediksi dengan jawaban yang ditemukan. Aku heran kenapa ia menjawab pertanyaan mengenai tahap pembelajaran dari tahap pengujian. Apa memang metode pembelajarannya langsung menghadapkan siswa dengab soal atau bagaimana aku tidak tanya lebih lanjut. 

Sebenarnya masih banyak pertanyaan dan adu argumentasi yang dilakukan. Ia malah sempat ngambek karena katanya pernyataanku yang mematahkan argumentasinya malah membuatnya tidak semangat. Anehnya lagi, disela-sela tak uji, tiba-tiba ia kok malah bahas mantan. 😅

Overall, ia sudah siap untuk munaqosah menurutku. Pembuatan instrumen, indikator, penggalian data, penyajian data, dan pembuatan laporan menurutku sudah bagus untuk mahasiswa setingkatnya.

Ada beberapa jawaban yang diluar prediksiku dan membuatku kagum padanya. Untuk itu, aku memberi predikat mumtaz pada uji persiapan munaqosah itu. Tapi aku berharap dia tidak GR! Predikat itu dariku. Kalau ternyata nanti hasil munaqosah mendapat predikat C- atau bahkan D ya jangan sedih. Tapi, aku tak akan menganulir predikat yang kuberikan itu.

Sebenarnya, aku sudah merancang konsep munaqosahnya sedemikian rupa. Aku mau buat seperti sidang terbuka dan kubuat live streaming agar bisa disaksikan masyarakat umum. Agar bapak/ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) bisa melihat secara langsung bagaimana seorang deaf melakukan ujian skripsi di kampus umum. Aku berharap bisa menjadi motivasi ABK untuk terus mengenyam pendidikan dan tidak minder untuk bersaing dengan anak tanpa kebutuhan khusus (anak normal).

Sayangnya, ketika kutanya bagaimana kira-kira proses munaqosahnya? Ia jawab menurut teman-temannya yang lebih dulu lulus, katanya tidak lebih dari 15 menit. Paling disuruh baca abstrak kemudian ditanya-tanya. Duorrrr…! Rancanganku untuk mengabadikan munaqosah itu hancur. “Ternyata hanya formalitas”, batinku.

Okelah. Aku nanti hanya jadi tukang ojeg saja lah. Setiba di kampus langsung parkir di kantin sampai selesai. Ya itung-itung refresing lah. Sambil mandangi teman-temanmu yang cantik. 😅

Selamat berjuang! Semoga sukses.

Cheers
Nusagates

Tahukah Kamu Arti sangar?

sa·ngar 1 a akan (dapat) mendatangkan bala atau bencana (tt rumah, tanah, dsb); angker: tempat itu terkenal -- sehingga orang-orang tidak berani melewatinya;ke·sa·ngar·an n perihal sangar; keangkeran
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close