Uncategorized

Tuan Deding Ishak, Komentator Tercerdas tentang Masjid Tolikara |

Tak ada yang baru dalam ragam komentar terkait peristiwa di Tolikara beberapa hari lalu. Seperti biasa, selalu ada dua kubu: deretan fundamentalis dungu yang menyerukan aksi balas dendam dan para sekular-humanis yang mengimbau kerukunan antarumat.

Hingga kemudian muncullah salah seorang anggota dewan yang terhormat ikut urun pendapat. Namanya Deding Ishak. Deding yang merupakan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini memberikan analisis yang teramat jitu. Menurutnya, kerusuhan di Tolikara didalangi oleh PKI.

Ya, kawanku, PKI yang itu, Partai Komunis Indonesia.

Demi Tuhan, begitu brilian analisis Deding, saya kira dunia pantas memberikan nobel kecerdasan dan membuatkan piramida gigantik untuk dirinya.

Dalam berita berjudul PKI, Dalang di Balik Tragedi Tolikara? yang dimuat oleh teropongsenayan.com pada Senin, 20 Juli 2015 kemarin, Deding mengatakan: “Saya tidak yakin dilakukan oleh umat beragama, seluruh agama itu mengajarkan kasih sayang tetapi pembakaran mushola di Tolikara pasti dilakukan oleh PKI.”

Politikus Partai Golkar itu melanjutkan, hal tersebut dirasa mungkin mengingat beberapa hari sebelumnya, Joko Widodo selaku Presiden Indonesia hendak menyampaikan permintaan maaf kepada para bekas anggota PKI. Dan bagi Deding, momentum tersebut dimanfaatkan orang-orang komunis di negeri ini untuk memecah belah bangsa.

“Coba lihat benang merahnya. Untuk itu presiden harus hati-hati dalam mengeluarkan statemen, terutama mengenai permintaan kepada PKI,” jelas Deding.

Sampai di sini, sungguh, rasanya saya ingin sekali menjadi Patrick dan hidup tenteram di Bikini Bottom.

Tentu saja, berdasarkan klise demokrasi yang sering didengung-dengungkan itu, setiap orang di negara ini berhak mengemukakan pendapatnya, termasuk memberikan analisis dangkal yang kelewat absurd untuk dipahami. Kita sudah sering melihat contoh absurditas semacam ini. Seperti, misalnya, belakangan ini muncul screenshot komentar seseorang di Facebook yang menganggap ajaran untuk menulis BAB 1 itu salah kaprah, sebab BAB 1 sejatinya merupakan kode lain dari BABI.

Coba ngana bayangkan…

Jika diperhatikan, kecenderungan semacam itu sudah muncul sejak wabah tuduhan konspirasi wahyudi dan kaum remason. Begitu mudahnya orang menduga sembarangan berbagai macam isu sensitif termasuk lawan debatnya. Apa pun isunya, siapa pun lawannya, jika mencurigakan dan berbeda, cukup bilang dengan gagah berani: semua pasti gara-gara wahyudi! Poor you, wahyudi. Poor you.

Komentar Deding termasuk ke dalam salah satu kebebalan tersebut. Tentu saja jika kita bicara peluang suatu kejadian, selalu ada kemungkinan atas ketidakmungkinan. Dalam matematika, hal semacam ini dapat dijelaskan melalui rumus sederhana probabilitas.

Probabilitas merupakan banyaknya kemungkinan pada suatu kejadian berdasarkan frekuensinya. Jika ada kemungkinan a yang dapat terjadi pada kejadian A, dan ada kemungkinan b yang dapat terjadi pada kejadian A, serta masing-masing kemungkinan mempunyai kesempatan yang sama dan saling asing, maka probabilitas bahwa akan terjadi a adalah: P (A) = a/a+b ; dan peluang bahwa akan terjadi b adalah: P (A) = b/a+b.

Rumusan tersebut juga dapat dihitung melalui pendekatan subyektif, di mana nilai probabilitas adalah tepat apabila hanya ada satu kemungkinan dalam suatu kejadian yang ditentukan berdasarkan tingkat kepercayaan individual atau berbasis pengalaman. Pendekatan lain untuk mengukur probabilitas ditentukan atas dasar proporsi dari kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu percobaan. Pendekatan semacam ini dinamakan frekuensi relatif.

Sejatinya, tanpa perlu penjelasan njlimet di atas, kita bisa tahu betapa dangkal pernyataan Deding. Anda hanya perlu nalar sederhana dan akal sehat yang becus.

Dan semua bisa dimulai dengan bertanya: Bagaimana mungkin PKI, partai berisi orang-orang kalah, yang puluhan tahun hidup diinjak-injak oleh kengerian dan nestapa, yang tak punya hak politik dan dikepung oleh pendekar-pendekar penjaga stabilitas nasional di setiap penjuru mata angin negara ini, tiba-tiba bisa merancang skenario cerdas tersebut? Dari mana PKI atau orang-orang komunis dapat memunculkan peluang tersebut? Siapa penggeraknya? Jika tujuannya memecah belah bangsa, lalu apa selanjutnya? Melakukan kudeta?

Walau demikian, kita harus tetap mengapresiasi Deding. Lewat komentarnya, ia telah berhasil menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi anggota dewan pengidap Dunning-Kruger Effect yang baik dan benar: memberi komentar asal, tidak memahami kompetensi diri, tetapi tetap menerima digaji besar dan dihormati.

Luar biasa, Tuan Deding. Saya sangat percaya, jika suatu hari nanti terjadi kasus serupa di pedalaman suku Badui, misalnya, Tuan Deding pasti akan berkomentar: “Ini jelas ulah separatis Macan Tamil untuk mengganggu keutuhan bangsa Indonesia!”

Oh iya, sebelum menyudahi tulisan ini, mari kita bertaruh, kira-kira akan ada berapa banyak orang yang menuduh saya antek komunis di kolom komentar?





Penulis
Eddward S. Kennedy

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/07/deding-ishak-masjid-tolikara/’][/link]

Tinggalkan Balasan