Uncategorized

Tribute to Kretek |

Pengantar redaksi: Ini adalah karya keroyokan dalam rangka memeriahkan Tribute to Kretek. Postingan ini akan terus kami update setiap ada naskah menarik yang masuk—tentang Tribute to Kretek, tentu saja. Bisa tentang alasan datang ke sana, atau mengapa acara itu penting dan lain-lain. Satu paragraf saja. Kamu bisa ikut berpartisipasi, kirimkan naskah satu paragrafmu ke email kami: [email protected]

“Cowok ngerokok itu bandel nggak sih, menurut kamu?” Pertanyaan di Ask.fm yang sungguh merusak mood pagi hari saya pada tanggal 31 Mei, disusul hashtag antitembakau yang merajalela di linimasa media sosial. Hari Anti Tembakau Sedunia mungkin memiliki ‘tempat’ teratas di linimasa, tetapi Tribute to Kretek (sayang sekali saya harus absen di acara sekeren ini) tetap menjadi ajang hebat yang menunjukkan betapa banyak hal-hal kreatif dan pemikiran-pemikiran hebat yang lahir dari para perokok. Merokok bukan tindakan kriminal. Bukan pula dosa yang membuat kamu mati besok pagi setelah menghisap beberapa batang. Yang masih bersikeras koar-koar menganggap rokok itu buruk sampai-sampai ada Hari Anti Tembakau (saya masih tidak bisa membayangkan, betapa sakit hatinya perasaan para petani tembakau dan buruh rokok menanggapi hal ini),  mungkin hidupmu kurang piknik. Oh, atau mungkin kamu belum pernah tau apa efek dari disatukannya secangkir kopi dan sebatang kretek.

Mahayu Koesoemo

Sederhana saja, Bung, merokok itu aktivitas yang legal dan serba lumrah. Sama lumrahnya dengan makan nasi, minum susu, kentut di pagi hari, balikan dengan mantan, nikah muda, atau muslimah mengenakan hijab. Tak perlu dihebat-hebatkan, apalagi dilarang-larang. Melarang orang merokok sama buruknya dengan melarang muslimah berhijab.

Ahmad Taufiq

Meskipun sangat ingin, namun karena kendala jarak, saya terpaksa memendam hasrat untuk ikut memeriahkan Tribute to Kretek—ajang sebagus dan sepenting ini, menurut saya lho. Tapi baiklah, selain rasa senasib saya sebagai petani, sebagai wujud kesukaan saya kepada portal Mojok.co, saya tetap mengirim, tepatnya mengabarkan sesuatu.  Bukan kabar wah memang, apalagi dahsyat. Saya cuma berkirim sekumpulan fakta (agak lalu) yang jika saya mengingatnya, hari-hari ini sontak terasa aneh. Aneh oleh keberisikan suara-suara “Hari Ini Sedunia”, “Hari Itu Sedunia”, dan yang paling menyengat : “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”. Orang tua saya, kakek, nenek dan entah berapa tetua saya di Bali adalah pengonsumsi tembakau level ‘hardcore’. Pendeknya, tembakau adalah kultur. Mereka mengonsumsinya sebagai rokok linting tradisional, sebagai sisig (diemil berjam-jam, diyakini punya efek bagus buat tubuh), sebagai sarana sesajen, sebagai peringan sakit pada saat keseleo/terkilir/salah urat, dan banyak lagi, terlalu panjang untuk ditulis. Mendengar seruan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”, saya bayangkan wajah-wajah terperanjat para tetua saya. Sebaiknya mereka tak usah tahu, saya tidak rela mereka menderita gara-gara sebuah seruan asing.

Komang Armada, Petani di Bali

Selain soal adil sejak dalam pikiran dan baris penutupnya yang legendaris, yang paling saya ingat dari Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer adalah: “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” Tribute to Kretek bagi saya adalah ungkapan terima kasih kepada kretek yang memberi kehidupan untuk orang banyak. Juga kepada tembakau. Ketika beberapa orang di negeri ini berkoar-koar sebagai antitembakau, mengatakan tidak kepada tembakau, membesar-besarkan dan merayakan hari anti tembakau dunia, apapun alasannya, Tribute to Kretek tidak ingin berteriak balik. Tribute to Kretek hanya pesta, bersenang-senang belaka, bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan tembakau sehingga banyak orang dianugerahi kretek dan bisa menghisapnya dengan nikmat, berterimakasih kepada puluhan juta petani tembakau dan buruh pabrik kretek, berterimakasih pada segala yang memberi kehidupan.

Arlian Buana

  terimakasih tembakau

Untuk para lebay antirokok yang menuduh setiap acara dukungan terhadap kretek didanai oleh korporasi kretek: sebagai orang yang berasal dari Kudus, sebuah kabupaten yang tak segan memasang predikat “Kota Kretek”, sebuah kabupaten tempat berdirinya berbagai macam industri kretek, dukungan saya terhadap kretek mungkin akan kalian tafsirkan sebagai pembelaan saya terhadap korporasi besar produsen kretek. Terserah kalau kalian beranggapan seperti itu, toh itu hak kalian. Tapi, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya kepentingan langsung terhadap korporasi kretek. Saya bukanlah penerima beasiswa dari perusahaan rokok. Saya pun merasa tidak pernah mendapat apapun dari perusahaan kretek. Ketika pendukung kretek makin lama makin kalian nistakan, sesungguhnya yang terpikir di benak saya hanya tetangga-tetangga saya yang bekerja sebagai buruh kretek, orangtua-orangtua teman-teman saya yang bisa menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi, dan 45% penduduk kota saya yang menggantungkan hidupnya pada komoditas kretek.

Nashir Haq, Orang yang bertahun-tahun tinggal di tengah puluhan ribu buruh kretek

Saya tidak pernah paham kenapa orang sampai harus bikin hari antitembakau. Ketika saya masih kecil, saya sering membantu bapak saya mengurangi tembakau dalam rokok kretek yang gemuk. Tembakau itu disimpan dalam gelas, dan Bapak akan meminta saya membelikan kertas papir untuk kelak melinting sendiri tembakau-tembakau sisa itu. Saya menyukai rasa papir, dan suka menjilatinya sebelum saya berikan kepada Bapak. Saya tidak menyukai bau rokok, karena secara keseluruhan memang tidak tahan dengan bau asap atau bau apapun yang tajam. Saya pasti mengambil jarak dari teman-teman yang sedang merokok. Tapi justru karena itu saya sering kasihan pada perokok-perokok yang terkurung dalam smoking room sempit. Setelah diteror plang dilarang merokok, mereka dipenjara dalam ruang sempit minim ventilasi. Baik saya, bapak saya, siapapun berhak atas udara sehat, dan itu artinya, bapak saya dan para perokok berhak menikmati ruang merokok yang sama luasnya dengan orang yang tidak merokok. Di manapun.

Pradewi Tri Chatami

Ada banyak hal yang menyenangkan di dunia ini. Makan masakan Padang ketika perut tengah keroncongan, bersenggama saat birahi memuncak, atau menyaksikan kesebelasan favorit menang melawan musuh bebuyutan. Dari sekian hal tersebut, menghisap kretek dalam-dalam sambil mendengarkan cemoohan kaum antitembakau adalah salah satunya. Kesenangan macam itulah yang ditawarkan Tribute to Kretek kepada Anda semua. Bahwa, meskipun Anda tidak merokok, Anda dapat tertawa bersama, bergembira, tanpa perlu merasa horor asap kretek akan membunuh Anda dalam waktu lima menit. Sebab nyatanya, pembunuh utama sepanjang sejarah peradaban bukanlah tembakau, melainkan sensivitas dosis tinggi. Tidak percaya? Coba dicicipi dulu kretek sehisap dua hisap deh buat buktiin…

Eddward Samadyo Kennedy

 Minggu pagi di akhir bulan Mei. Sudah nyarap, sudah mandi, dan sebentar lagi segera meluncur ke acara Tribute To Kretek di TIM. Saya tidak merokok, namun tidak mungkin antirokok. Tidak mungkin. Pasalnya, saya belum menemukan satu produk pun, selain rokok, yang berani konsisten mendukung sepak bola tanah air. Liga-liga sepak bola Eropa juga dapat saya saksikan dengan mudah dan murah di televisi, oleh karena rokok. Tidak hanya sepakbola, sebetulnya. Bulutangkis, olahraga kebanggan kita, mungkin akan mengalami kesulitan untuk terus bertahan di level seperti ini, apabila tidak ada perusahaan rokok yang mensponsori kegiatan mereka. Belum ditambah lagi dengan banyaknya konser-konser musik yang dapat terselenggara atas kerja sama dengan perusahaan rokok. Dan di luar itu semua, saya ingin hadir di Tribute to Kretek karena penasaran dengan para penulis Mojokdotco yang selama ini hanya saya ketahui dari avatar Twitter dan tulisan-tulisan mojok mereka. See you, Gaes.

Anggara Gita Arwandata

Kretek itu seperti telur. Ia menyatukan hal-hal yang sulit bersama. Ia menyatukan orang-orang yang saling asing di suatu persimpangan dan perhentian, seperti halnya telur menyatukan mentega dan air. Ia menyatukan manusia dengan setumpuk masalah, kesedihan dan segala keresahan hidupnya, tanpa harus menjadi gila. Mungkin menye-menye, tapi yang terdengar cengeng begini ini jadi topik utama filsafat abad ke-20. Jadi, bolehlah kamu berbangga sedikit saat cengeng. Kembali ke telur, bukankah ada kue yang baik-baik saja tanpa telur? Oh ya tentu. Apalagi dengan tren makanan sehat non-hewani akhir-akhir ini. Telur, sebagai pengemulsi, bisa diganti dengan bahan lain. Seperti juga kretek bisa disubstitusi dengan camilan atau candu yang lain. Tapi tak ada yang bisa menggantikan nikmatnya, meski kau bisa bilang bahwa kenikmatan itu relatif.

Maulida Sri Handayani

  tribute to kretek 

“Merokok gak apa-apa, yang penting hafal Pancasila.” Berulang kali saya merenungkan teks orasi dari Agus Mulyadi, Sang Deklarator Jomblo Bermartabat, saat datang ke acara Tribute to Kretek tahun lalu. Kalimat itu terpampang besar di sebelah panggung utama. Berulang kali saya merenung dan berpikir, Gus Mul yang tidak merokok saja sampai menulis teks orasi seperti itu. Masa saya, yang mantan playboy sekaligus perokok ini, menolak pesan yang disampaikan oleh Gus Mul? Mau ditaruh di mana gelar saya sebagai mantan playboy? Tribute to Kretek membikin saya akhirnya belajar bagaimana bersikap adil. Baik adil terhadap  yang merokok ataupun tidak, kepada para petani tembakau (dengan mendukung RUU Pertembakauan), sampai kepada Pancasila sebagai dasar negara. Tribute to Kretek juga mengajarkan saya bagaimana bersikap adil kepada mantan-mantan yang putusnya gak enak.

Tri EmMantan playboy. Lelaki penyayang mantan pacar

Masyarakat Indonesia punya banyak cara untuk menghibur dirinya sendiri. Ada yang relaksasi ke panti pijat, ada yang menikmati kopi di warkop, ada juga yang menghisap kreteknya. Terkait hal ini, masyarakat tidak bisa dipaksakan. Karena kesenangan bersifat individual dan tidak bisa disamaratakan. Bagi kalian yang menikmati kretek, silakan hadir ke acada Tribute to Kretek, mari merayakan kretek sebagai warisan budaya bangsa dan mari bergembira bersama.

Aditia Purnomo

Setelah mendapatkan sinyal internet di gajet saya, yang terlintas di benak saya adalah langsung membuka Twitter dan membaca jagat luar yang tertutup beberapa hari sebelumnya. Hashtag #HariAntiTembakauSedunia yang membuka pagi ini sedikit merusak mood saya yang masih berada di pedalaman Sulawesi mencari nafkah. Tapi mojok.co menghadirkan simpul senyum yang membangkitkan hari ini dengan tagar #TerimakasihTembakau, dengan penulis-penulis kondang ngaloko. Saya cuma mau berkabar dari tanah Sulawesi ini, kretek menjadi sahabat di tengah-tengah kampanye antirokok, santun perbincangan masyarakat selalu ditemani dengan kretek sebagai bagian pelengkap keindahan hidup. Jadi gini, intinya sia-sia berkampanye #HariAntiTembakauSedunia, karena kampenye itu hanya akan bermuara pada #HariAntiRokokSeduniaMaya. Karena jauh dari hingar bingar kota disana yang bersuara lantang dengan ego medis yang sangat njimet, kami di sini akan setia dengan tembakau. Karena sesungguhnya: “Urip mung mampir nyilih korek”. Sesungguhnya hidup ini hanya mampir pinjam korek.

Erlangga Singgih Anandito, Sarjana Pariwisata yang hidup layaknya backpacker

Jika akhir-akhir ini kalian mudah panik dan spaneng, itu tanda bahwa hidupmu kurang piknik. Maka saya sarankan kalian, di akhir pekan yang cerah nan sumringah ini untuk ke Taman Ismail Marzuki. Kenapa? Karena di sana ada acara keren yang bisa mengendurkan saraf-saraf kepala yang tegang itu dengan cara menghisap kretek, sinambi ngopi dan tertawa dan bahagia. #TributeToKretek. Bisa bertemu dengan orang-orang yang sudah Hebat Sejak Dalam Pikiran, dan membicarakan apa saja yang menyenangkan. Datang dan segarkan jiwamu!

Pujianto, Lelaki resah, berwajah gelisah, dan mata merah

Di Tribute To Kretek saya memiliki banyak kenangan. Salah satunya ketika ia, pacar saya waktu itu, mampu berjoget dengan lepas. Seolah di dunia ini tak pernah ada revolusi. Sebuah hal yang tak pernah ia lakukan di acara lain yang menyuguhkan pertunjukan musik. Bagi kalian yang masih merasa punya kekasih, dan atau setidaknya kenangan, lebih baik hadir di acara ini. Dijamin sangat berguna untuk menjaga masa subur hubungan dan kenangan kalian. Percayalah, revolusi berawal dari sini, dari sebatang kretek.

Ahsan Ridhoi, Masih mahasiswa, jomblo, pecinta kretek, dan mengecam lapindo

 Berkencan dengan pacar di hari Minggu yang tenang tentu adalah prosesi yang sangat membahagiakan. Karena itulah saat-saat dimana Anda punya segudang kesempatan untuk membesarkan hati pacar Anda. Namun akan lebih membahagiakan lagi jika Anda berkenan mengajak pacar Anda berkencan di hari Minggu yang tenang sambil menyambangi #TributeToKretek di taman ismail Marzuki hari ini, karena bukan hanya pacar Anda yang bisa Anda besarkan hatinya, namun juga hati puluhan ribu petani tembakau yang rela berpeluh lelah sepanjang hari demi nafkah untuk anak-istri di rumah.

Agus Mulyadi

Tribute to Kretek





Penulis
Mojok

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/05/tribute-to-kretek/’][/link]

Tinggalkan Balasan