Traveling Bareng Anak Balita dengan Aman dan Nyaman

Traveling bareng balita, apalagi batita yang masih belum mengerti sepenuhnya tentang batasan, rasanya sangat menantang. Butuh kerjasama antara Ibu dan Ayah agar traveling bersama batita tetap nyaman. Mood balita sangat fluktuatif, apalagi kalau anak masih belum lulus fase tantrum, ayah dan ibu wajib stock sabar yang banyak. Traveling bareng anak balita dengan aman dan nyaman musti memperhatikan beberapa hal, termasuk bersiap diri dengan hal-hal yang darurat.

Tantangan Traveling bareng Anak Balita

Anak balita adalah anak yang baru berada dalam fase perkembangan emosi dann sosial. Emosinya sangat fluktuatif, kesehatannya terhitung rawan, pengendalian dirinya belum terbentuk dengan sempurna. Kondisi balita yang tidak stabil membuat kita harus siap dengan segala kemungkinan, termasuk kemungkinan terburuk seperti membatalkan tiket, memperpanjang sewa hotel, perawatan ke unit gawat darurat, atau bahkan ketinggalan bagasi karena kita sibuk menenangkan balita. Asuransi perjalanan bisa membuat kita lebih tenang dalam menghadapi drama selama traveling. Asuransi perjalanan sekarang enggak cuma untuk perjalanan ke luar negeri. Perjalanan domestik juga sudah ada yang mencantumkan dalam asuransi dengan beragam range premi asuransi yang bisa disesuaikan dengan kantong kita.

Apa saja sih tantangan traveling bersama anak balita dan bagaimana kita menyiapkan semuanya?

Mood Balita yang Fluktuatif bak Roller Coaster

Mood balita sangat fluktuatif. Kadang sekarang sedang senang-tertawa-tawa, lima menit kemudian bisa tantrum enggak jelas karena kembung, gerah atau karena ingin sesuatu. Mood balita sangat berpengaruh pada rencana perjalanan. Kita musti menyesuaikan dengan siklus keseharian anak untuk membuat itinerary.

Sebagai orang dewasa, kita tidak perlu ambisius mengunjungi segala macam tempat tanpa memperhatikan siklus keseharian anak. Ngoyo tanpa memperhatikan siklus keseharian anak hanya akan membuat anak bad mood dan kondisi tidak lagi kondusif. Biasanya, aku akan mengusahakan untuk berangkat dari hotel ketika jam anak bangun dan balik ke hotel lagi ketika jam anak tidur siang. Setelah itu akan keluar kembali setelah dzuhur dan balik lagi ke hotel sebelum jam tidur malam.

Memang, traveling dengan balita sebaiknya tidak terlalu banyak berpindah-pindah tempat. Bahkan sebisa mungkin gerakan pindah tempatnya dibuat slow seolah-olah balita tidak menngalami perubahan siklus sebagaimana ia di rumah.

Tidak Semua Tempat Wisata Ramah Anak

Nyaris semua tempat wisata mengijinkan kita membawa balita, tetapi tidak semua tempat wisata ramah untuk anak. Tempat wisata ramah untuk anak artinya kita tidak membutuhkan tenaga lebih untuk menjaga anak agar tidak menjangkau benda-benda yang tidak boleh dijangkau, tempat wisata yang memiliki lahan cukup yang memungkinkan anak untuk bergerak.

Traveling bersama si K membuatku belajar jika sebaiknya menghindari tempat-tempat wisata seperti ini:

  1. Mall/ tempat belanja barang antik.
  2. Musium dengan tempat pajangan yang sempit dan kurang aman.
  3. Pantai yang curam dengan ombak besar.
  4. Rumah makan apung

Cuaca dan Kesehatan Anak

Setiap anak memiliki kekebalan masing-masing. Ada anak yang kuat berada di daerah panas, ada anak yang alergi dingin, ada anak yang ngedrop hanya karena terpaan angin. Kita tidak bisa mengukur secara rata apakah anak usia x bisa diajak traveling menggunakan motor, apakah anak usia y bisa diajak bepergian ke Dieng. Yang bisa mengukur secara pasti adalah orang tuanya, yang tahu persis sejauh mana kekebalan anaknya.

Sebaiknya kita tidak menantang cuaca dengan mengorbankan kesehatan anak. Aku memiliki pengalaman buruk yang cukup membekas. Saat itu kondisi si K sedang tidak begitu bagus, cuaca sangat panas di musim kemarau. Kami pergi ke Surabaya. Saat tiba jadwall pulang, kondisi si K ngedrop. Sampai di Salatiga, si K diare berkepanjangan sampai kami larikan ke UGD.

Sejak saat itu, kami selalu cek-ricek kondisi anak sebelum memutuskan pergi atau berangkat. Kami memilih untuk menunda keberangkatan jika kondisi anak sedang tidak begitu bagus karena perjalanan, apalagi perjalanan menggunakan moda transportasi umum, membutuhkan kekebalan tubuh yang kuat.

***

Bagaimanapun, traveling tujuannya untuk refreshing dan menguatkan bonding dengan keluarga. Traveling perlu disiapkan dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan traveling tercapai, tanpa membawa penyesalan karena mengabaikan kondisi anak. Happy traveling, dear Readers!

Sampaikan pendapatmu di sini.
Widi Utami
Widi Utamihttp://widiutami.com
Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain

Bacaan Menarik Lainnya

Tanggapan Kamu?

Baru Terbit