nusagalture

Tradisi Tingkepan di Balen, Bojonegoro

Sama-sama bernama tingkepan, ternyata di setiap daerah mempunyai tradisi yang unik. Jika di Salatiga tingkepan dilaksanakan pada bulan ketujuh kehamilan dengan cara tumpengan urab dan telur jawa, di Pengkol-Bojonegoro tingkepan dilaksanakan pada bulan ketujuh kehamilan, di Balen-Bojonegoro dilaksanakan pada bulan keempat kehamilan.

Tradisinya pun berbeda pada setiap daerah. Semakin banyak kami menjelajah daerah demi daerah, semakin terpukau kami pada kearifan lokal di setiap daerah yang kami kunjungi. Balen-Bojonegoro yang terletak 10 km dari Pengkol-Bojonegoro–kampung halaman kami–, ternyata memiliki tradisi yang berbeda dengan kampung halaman kami.

Secara teritorial boleh dalam satu kabupaten Bojonegoro, secara tradisi memiliki ciri khas masing-masing.

Cengkir Gading untuk Tingkepan ala Balen-Bojonegoro

Cengkir merupakan  kelapa yang masih muda, Gading adalah nama kelapa yang berarna kuning, pohonnya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Dua buah cemgkir gading ini diukir wajah Srikandhi dan Arjuna.

Filosofi dibalik ukiran ajah Skrikandhi dan Arjuna sendiri, konon, merupakan maujud doa bagi jabang bayi, kelak jika si bayi adalah laki-laki, semoga wajahnya ganteng seperti Arjuna, jika perempuan, semoga cantik seperti Skrikandhi.

Kemapa Cengkir Gadhing yang digunakan? Bukan kelapa-kelapa lainnya? Konon, Gadhing adalah kelapa berwarna kuning yang menggambarkan pasangan suami-istri yang masih berusia muda, polos sepolos kulit gadhing yang mulus, dengan ikatan kokoh yang belum terpengaruh hal-hal yang buruk.

Tradisi Tingkepan ala Balen Bojonegoro

Tingkepan ala Balen, Bojonegoro, dilaksanakan pada menjelang 4 bulanan usia kehamilan, menjelang ditiupkannya roh ke dalam gumpalan darah pada rahim ibu. Dua buah cengkir gading yang sudah diukir wajah Srikandhi dan Arjuna tadi dibelah, untuk kemudian digunakan sebagai tempat nasi dan rujak.

Nasi dan rujak tadi, digunakan untuk lomba makan antara suami-istri dan sepasang burung merpati. Dalam perlombaan ini, nasi beserta lauk dan rujak harus habis, suami diharapkan untuk menang. Can you imagine that? Wkkwkwk, Emak K sampai keselek membayangkan lomba makan dengan burung merpati. :p

Disamping membelah sepasang Cengkir Gadhing, keluarga juga membagi-bagikan bingkisan berisi nasi dan camilan–kami menyebutnya berkat– untuk para tetangga dan saudara.

Kalau daerahmu, tingkepannya gimana, Dear?

Kata Kunci
Tampilkan Lainnya

Widi Utami

Deaf Blogger, Emak K.

Tinggalkan Balasan

Close

Adblock Terdeteksi

Tampaknya kamu menggunakan Adblock. Iklan kami aman dan tidak mengganggu kamu mengunjungi blog ini. Sudilah kiranya mematikan Adblock untuk blog ini untuk mendukung kami.