Uncategorized

Tiga Pesepakbola yang Tingkahnya Mirip Donald Trump

Jika Anda mengira spesies macam Donald Trump itu hanya muncul dalam dunia politik yang culas dan kotor belaka, Anda jelas keliru. Dalam habitat sepak bola, makhluk narsis, megalomaniak, dan bebal seperti Trump itu juga dapat ditemukan. Mau bukti?

Tak sulit untuk tidak menyukai Trump. Ia sosok yang sepertinya memang hadir bukan untuk menarik simpati banyak orang. Berkulit putih, memiliki warna rambut yang buruk–dengan bentuk yang juga buruk–, omongan yang ketus, sikap rasialis yang begitu tendensius, dan, kurang ajarnya, kaya raya.

Nah, dalam lingkungan sepak bola, ada beberapa nama yang yang saya kira memiliki watak rada-rada mirip seperti Trump. Dari sekian nama, saya hadirkan tiga untuk Anda. Penasaran siapa saja? Saya sih nggak penasaran, lha wong saya yang nulis. Oke, ini dia tiga nama tersebut.

Mario Balotelli

Mario_Balotelli_-_140624-7121-jikatu_(14318827317)

Tak perlu menjadi pengamat sepak bola terlebih dahulu untuk tahu betapa ngehek Balotelli. Ada-ada saja tingkah absurdnya. Mulai dari tak tahu cara memakai baju latihan, hingga aksi bermain petasan di kamar yang nyaris membakar rumahnya sendiri. 

Jika Anda kebetulan kenal dengan seseorang yang bisa menghasilkan uang milyaran per pekan, lalu Anda diajak bermain petasan di dalam rumahnya, perlihatkanlah segera foto Balotelli. Percaya kepada saya, orang itu pasti akan berterima kasih, lalu memberikan seperempat hartanya kepada Anda.

Seperti Donald Trump, yang terburuk dari Balotelli adalah ia tak merasa sikapnya banyak menimbulkan masalah. Saya menduga, barangkali memang begitulah ia mendesain standar proseduralnya sebagai manusia, semacam mekanisme pertahanan diri. Bagi Balotelli, bukan hal aneh jika ia terus menganggap dirinya yang terhebat, meski tabungan golnya sebagai striker jauh lebih sedikit dari jumlah jerawat di wajah Dian Sastro. 

Trump, kan, juga demikian. Sederhana saja, jika memang ia punya kemampuan untuk menakar kesalahan (timnya) sendiri, tentu ia akan menyesal karena telah menghadirkan dua tokoh kartun absurd itu dalam hajatan kampanyenya. 

Eh, tapi saya bukan ngomongin Fadli Zon dan Setya Novianto, loh, ya.

Nicklas Bendtner

Nicklas_Bendtner_2010-11-07

Jika ada seorang striker yang menghabiskan waktunya selama bermusim-musim di bangku cadangan Arsenal–klub medioker yang pada abad ke-25 nanti akan beralih fungsi menjadi kampus ekonomi dengan rektornya bernama Bapak Arsene Wenger–, tapi tetap merasa spesial, dialah Nicklas Bendtner. 

Satu-satunya cerita menarik dalam sejarah hidup Bendtner sebagai pesepakbola hanyalah ketika ia memelorotkan celana saat mencetak gol keduanya ke gawang Portugal, pada Euro 2012. Selebihnya, Anda lebih baik tak usah tahu karena memang tak penting. Walau begitu, narsisisme Bendtner toh tak memudar. 

Dalam wawancaranya dengan Daily Mail pada 2011 lalu, ia mengungkap secara blak-blakan betapa dirinya adalah “salah satu striker terbaik di dunia”, dan karenanya ia “layak dihargai mahal”. Sampai di sini, mari kita sungguh-sungguh berharap agar Agus Mulyadi tak mengikuti jejak Bendtner. Bukan apa-apa, kelangsungan hidup umat manusia bisa terganggu jika Agus mendadak memelorotkan celananya sendiri di tengah keramaian.

Hingga derajat tertentu, sikap Bendtner tersebut segendang-sepenarian dengan ciri megalomaniak yang diidap Trump. Sama-sama merasa diri sebagai yang terbaik di antara spesies lain. Padahal, jika Bendtner atau Trump mau meluangkan waktunya bercermin selama 10 menit saja dalam sehari, mereka pasti akan sadar betapa sia-sia omong besar mereka.

Wilfried Zaha

Wilfried_Zaha

Pada Januari 2013 lalu, Manchester United–tenang saja, ini juga klub medioker, kok–sempat mendatangkan seorang striker muda berusia 21 tahun dari Crystal Palace dengan benderol sebesar 15 juta poundsterling. Beberapa bulan berselang, si striker nggak jelas yang bernama Wilfried Zaha itu, kemudian dengan pongah menyebut dirinya berada di level yang nyaris sama dengan “Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi” dalam sebuah wawancara.

Tak perlu sampai dua musim untuk membuktikan bahwa omongan Zaha tadi hanyalah pepesan kosong. Kini ia telah kembali ke Crystal Palace dan kemungkinan besar sepanjang kariernya akan dihabiskan di sana, atau mentok hijrah ke Bradford City.

Lalu apa yang membuat Zaha mirip dengan Trump? Zaha jelas bukan siapa-siapa. Sementara Trump, semenyebalkan apapun dirinya, adalah seorang biliuner yang bisa saja membangkitkan Kurt Cobain dari kubur lalu meminta Cobain bernyanyi The Man Who Sold The World selama lima menit. Lalu apa persamaannya, dong?

Korelasinya adalah, selain terlalu cepat menganggap diri masing-masing sebagai tokoh papan atas, Zaha dan Trump juga salah memilih partner. Lha kok? 

Lha iya, coba Zaha nggak ke Emyu, mungkin nasibnya bisa lebih baik daripada tukang bubur yang naik haji. Sementara Trump? Saya sebetulnya paham jika strategi politik Trump adalah justru sikap kontroversialnya itu sendiri. Tapi dengan menampilkan dua sosok kartun dari negeri antah-berantah seperti yang kemarin itu? Aduh, dek. 

Eits, harap diingat sekali lagi, saya tidak membicarakan Fadli Zon dan Setya Novianto. Jangan asal menuduh.

Daftar pemain yang memiliki sikap megalomaniak seperti Trump sejatinya masih bisa diperpanjang lagi. Eric Cantona, misalnya, hanya dengan melihat caranya merayakan gol–salah satu yang paling berkesan ketika pertandingan Emyu melawan Sunderland pada tahun 1996 silam–, Anda tentu sudah bisa paham betapa arogan dirinya. 

Lalu ada Zlatan Ibrahimovic. Hidup Zlatan adalah unggun rimbun arogansi manusia. Mendaku diri sebagai “Tuhan” hingga menghina bangsa sebesar Prancis seperti kotoran, Zlatan bahkan pernah menolak tawaran Arsenal ketika ia masih muda. Katanya, “Zlatan tak melakukan audisi.”

Pesepakbola megalomaniak lain tentu adalah Cristiano Ronaldo. Tampan, punya bentuk tubuh sempurna, kaya raya, dan, sialnya, selalu bermain sangat bagus di tiap pertandingan. Tak ada alasan bagi Ronaldo untuk pura-pura rendah diri dengan sederet kehebatan macam itu. Lihatlah selebrasi terbarunya yang seperti menegaskan betapa dirinya amat senang untuk show off: melompat tinggi lalu turun dengan tangan yang direntangkan, seolah-olah ia adalah Rudolf Nureyef, pebalet legendaris dari Rusia.

Akan tetapi, melihat betapa cemerlang karier ketiga nama tadi, kita seperti harus maklum jika kemudian mereka menjadi arogan. Hal ini tentu berbeda ketika melihat Donald Trump. Ia memang biliuner, tapi dalam konteks horison politik Amerika Serikat, di mana ia mendaku diri sebagai salah satu kandidat presiden terkuat dalam pemilihan nanti, Trump hanyalah desas-desus. Terlebih, ya, itu tadi, ketika ada dua tokoh kartun ikut muncul dalam kampanyenya kemarin, peluangnya menjadi olok-olok justru kian bertambah.

Ngomong-ngomong, siapa, sih, dua tokoh kartun yang muncul di kampanye Trump tempo hari? Pocahontas dan Princess Jasmine. Tak percaya? Silakan amati kembali fotonya dengan jelas. 

Yeeeeee… Salah sangka nih, yeeee…





Penulis
Eddward S. Kennedy

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/09/tiga-pesepakbola-yang-tingkahnya-mirip-donald-trump/’][/link]

Tinggalkan Balasan