Senin , 25 September 2017
Home » Tag Archives: Bingkisan Hadiah

Tag Archives: Bingkisan Hadiah

Menerima Bingkisan Dari OLX

Malam itu, menjelang hari raya, aku berniat menjual handycam yang baru kubeli beberapa bulan sebelumnya. Alasanku menjual karena tidak jadi kupakai rekaman untuk mengisi channel Youtube Nusagates karena pekerjaan sedang numpuk. Alasan lain karena butuh dana segar untuk mendukung kegiagan hari raya soalnya dana dari Fiverr dan lainnya belum bisa dicairkan, masih menungu balance clearing yang membutuhkan waktu sekitar dua …

Read More »

Mario Teguh dan Laki-Laki Paria yang Terjungkal dari Masa Depan |

Sosok Bapak Mario Teguh yang bijaksana–oleh mereka yang kalah bertarung dengan kekinian merebut masa depan yang menjanjikan–adalah diktator perasaan yang kejam. Bayangkan, dalam meme terakhir, Bapak Mario secara teguh dan meyakinkan bisa meraih ribuan like tanpa reserve. Meme itu seperti risalah tanah perjanjian yang diamini dengan hati bergolak-golak. “Mohon jangan lupa ikut menyampaikan ‘Aamiin’ jika tahun 2015 kamu menemukan jodohmu”. “Mohon jangan …

Read More »

Tak Bisakah Bima Arya Belajar dari Romo Mangun? |

Ketika Walikota Bogor Bima Arya mengatakan bahwa tidak ada yang namanya GKI Yasmin, saya teringat sosok Romo Mangun. Ia bersikap jelas ketika harus memilih antara masuk dalam barisan penindas atau duduk bersama mereka yang diabaikan. Jelas ada yang salah ketika seorang pemimpin tunduk mendiamkan satu kelompok warganya yang diganggu ketika menjalankan ibadah. Ini persoalan mendasar, bagaimana seorang pemimpin bisa menjamin …

Read More »

Godaan Melecehkan Agama, dari PKI hingga Charlie Hebdo |

“… adalah satu kenjataan bahwa partai2 Nasionalis dan Komunis di Indonesia tidak melakukan propaganda anti-agama; baik tentang al Qur’an, tentang mesjid, tentang isteri Nabi, tentang geredja, dan tentang hal2 agama pada umumnja” ~ Editorial Harian Rakjat/PKI, Februari 1965 Teror mengerikan yang menimpa tabloid Charlie Hebdo (CH) di kota yang melahirkan prinsip universil “Liberté, Egalité, Fraternité” menjadi frontpage dari 400-an koran …

Read More »

Tawaran Terbaik dari Orang Madura |

“Aku akan memberi tawaran yang takkan sanggup ditolaknya,” kata Don Corleone dengan gestur yang sangat meyakinkan. Corleone memang benar-benar seorang Godfather! Nggak ada yang bisa menandingi kejeniusannya, sampai kini, kecuali orang Madura. Bukan, bukan karena semua orang Madura sudah pernah nonton film Corleone atau membaca novelnya. Tapi semata karena orang Madura itu lucu. Lucu yang alamiah. Dan Sampeyan tahulah, orang …

Read More »

Dari Jengkol Satu ke Jengkol yang Lain |

Gara-gara postingan Agus Mulyadi soal jengkol saya jadi baper kepingin nulis soal pengalaman saya dengan bahan makanan eksotis itu. O ya, di kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada segenap kru Mojok yang telah memuat tulisan pertama saya beberapa purnama lalu. Tenan, Mas, saya terharu sampai ceguken. Tenang, di tulisan kali ini saya tidak akan menyinggung soal selingkuhan. Saya …

Read More »

Hikayat Penjahat Bermotor yang Baik Hati dari Makassar |

  Jika yang kamu ketahui tentang Makassar sebatas masyarakatnya terkenal kasar, bersuara besar, banyak makan, dan pemudanya sering gagal move on, maka kamu harus membaca hikayat penjahat bermotor ini agar terhindari dari stereotipikal. Itu semua hanya buatan media, Daeng! Memahami hikayat penjahat bemotor di kota Makassar, sama pentingnya dengan memahami perasaan perempuan Makassar. Dua kerumitan yang sepadan tapi resikonya berbeda. …

Read More »

Menonton Jakarta dari Medan |

Menjelang 71 tahun kemerdekaan Indonesia, tapi saya kok masih merasa kayak numpang di negeri ini, ya? Lebih tepatnya penonton bayaran, yang tugasnya cuma bersorak ‘lalala yeyeye’ dan memeragakan gerakan cuci jemur cuci jemur yang seirama dan monoton. Penonton bayaran, yang dibayar untuk memandang tontonan yang menarik, menegangkan, menghibur, dan terbaik dari segala sisi: Jakarta. Bukannya hiperbolik, tapi coba saja tengok: …

Read More »

Full Day School di Mata Alifia Seftin Oktriwina, (Calon) Psikolog dari Padang

Selepas dilantik sebagai Mendikbud, pak Muhadjir dibully habis-habisan karena pernyataannya tentang full day school. Publik ditarik ke dua kutub, pro dan kontra. Pihak yang pro beralasan pergaulan anak-anak sekarang yang semakin mengkhawatirkan. Adanya full day school diharapkan bisa menjaga pergaulan anak, mendidik anak untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengembangkan bakat anak sedini mungkin. Bagi golongan pro, full day school laksana oase …

Read More »