Tegal Deso, Tradisi Sedekah Bumi yang Masih Lestari di Surabaya

Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan Indonesia yang terkenal dengan hingar bingarnya. Siapa sangka jika tradisi Tegal Deso masih lestari di kota besar ini. Mendengar kata “kota” saja sudah memberikan kesan modern dan individualis, dimana tiap masyarakatnya lebih mengutamakan privasi dan cukup acuh dengan lingkungan sekitarnya. Terutama daerah yang penuh dengan pendatang, karena prioritas mereka datang ke kota adalah untuk bekerja.

Mengintip Kemeriahan Tradisi Tegal Deso

Tradisi Tegal Deso merupakan tradisi sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberlimpahan dan kemakmuran. Tradisi Tegal Deso mengajak seluruh masyarakatnya untuk saling bergotong royong dengan guyub dan rukun.

Salah satu kelurahan yang melakukan tradisi Tegal Deso adalah kelurahan Bringin kecamatan Sambikerep. Di kelurahan Bringin, Tegal Deso dilaksanakan setiap bulan Oktober. Sebelum pandemi tradisi tegal deso dilaksanakan dengan sangat meriah.

Kemeriahan tradisi tegal deso lebih meriah dibandingkan dengan kemeriahan hari raya. Warga berbondong bondong untuk membuat tumpeng dan ayam bakar lalu dibawa ke balai RW untuk dilombakan. Warga pendatang pun diberi undangan oleh ketua RT/RW untuk turut serta dalam acara tersebut.

Tidak hanya warga asli saja yang bersuka cita, warga juga mengundang kerabat dan teman-temannya untuk turut bersuka cita berkumpul bersama di rumah seperti halnya hari raya.

Selain tradisi tumpeng yang dilombakan, juga ada arakan tumpeng berupa hasil bumi dengan berbagai bentuk yang kreatif. Tumpen hasil bumi dengan aneka bentuk diarak bersama dengan Jaran Kepang untuk dibawa ke Punden (istilah lokal untuk sebuah tempat yang di percayai sebagai penunggu suatu wilayah). Pagelaran ludruk semakin memeriahkan suasana.

Tegal Deso, Tradisi Sedekah Bumi yang Masih Lestari di Surabaya 1
Salah satu tumpeng hasil bumi di Tegal Deso | Dokumen: Facebook Putri Sutanto

Setelah rangkaian acara tersebut dilaksanakan dengan meriah. Rangkaian acara yang terakhir adalah doa bersama, mengharap keberlimpahan dan kemakmuran dari yang Maha Kuasa.

Tegal Deso di Masa Pandemi Covid-19

Pandemi covid-19 membuat pemerintah sangat ketat dalam pelaksanakan prokes pencegahan penularan covid-19. Meski warga bringin tidak mengadakan pagelaran untuk merayakan tegal deso karena taat dengan anjuran pemerintah setempat dan mencegah penularan Covid-19, warga tetap melaksanakan esensi perayaan Tegal Deso sebagai wujud syukur atas kemakmuran dan keberlimpahan dengan memberi hantaran pada tetangga dan kerabat. Umumnya, hantaran tersebut berupa nasi, ayam bakar, urap-urap, jajan pasar dan pisang satu sisir.

Begitulah, gambaran kemeriahan tradisi Tegal Deso di Surabaya. Kebersamaan dan kerukunannya memberikan kesan hangat pada para warganya. Tradisi ini juga menggambarkan adanya toleransi, saling menghormati dan juga gotong royong antar warga.

Sampaikan pendapatmu di sini.

Bacaan Menarik Lainnya

Tanggapan Kamu?

Baru Terbit