Nusagatizen

Tagar #SaveAqua dan Sistem Kontrol Sosial

Tagar #SaveAqua menjadi trending topik di sosial media setelah seorang pengguna mengunggah video adegan tak senonoh yang dilakukan oleh sepasang muda-mudi dengan menyisipkan tagar #SaveAqua. Video tersebut akhirnya viral dan menjadi buah bibir netizen menggunakan tagar yang sama.

Aku mengetahui viralnya tagar #SaveAqua dari Widut. Ia menceritakan apa dan bagaimana tagar #SaveAqua tersebut. Sudah selayaknya informasi seperti ini sampai ke Widut terlebih dahulu karena memang fithrahnya ibu-ibu kan memang suka ngerumpi. Eh..

Kehebohan netizen menanggapi video viral tersebut tak membuatku terkejut karena memang begitulah cita rasa bangsa Indonesia. Jika ada anggota masyarakat yang melakukan hal-hal yang dianggap tabu, tidak pantas, atau melanggar nilai dan norma yang berlaku akan dipergunjingkan. Bahkan! di dalam kajian Sosiologi, gunjingan terhadap pelanggar nilai atau norma sosial yang berlaku termasuk bagian dari kontrol sosial.

Gunjing-menggunjing sebetulnya dilarang oleh ajaran agama. Namun karena hal ini telah menjadi semacam kebiasaan akhirnya hal itu tampak seperti hal yang lumrah dan layak untuk dilakukan. Seperti pada kasus video #SaveAqua ini yang membuat heboh sosial media dengan berbagai model gunjingan. Ada yang berkomentar secara langsung tanpa tedeng aling-aling serta tendensius, ada yang membuat parodi, ada yang membuat meme, dan lain sebagainya yang semuanya termasuk dalam kategori menggunjing entah disadari atau tidak.

Gunjingan sebagai kontrol sosial memang terkadang ampuh untuk mengendalikan perilaku sosial yang menyimpang seperti misalnya seorang yang digunjingkan memiliki selingkuhan atau digunjingkan CLBK dengan mantan biasanya akan malu dan mulai membatasi interaksinya dengan orang yang digunjingkan sebagai selingkuhannya tersebut. Tapi tidak semuanya seperti itu sih. Ada juga malah semakin berani dan intens memperkuat hubungan tersebut karena merasa sudah tertangkap basah dan dihadapkan dengan buah simalakama. Tapi hal ini jarang terjadi.

Sesuatu yang dilakukan dengan over (terlalu) akan berdampak tidak baik. Misalnya kebanyakan makan akan menyebabkan sakit perut, kebanyakan tidur menyebabkan pusing, dan lain sebagainya. Begitu pula kontrol sosial yang dilakukan secara berlebihan akan menyebabkan hal yang tidak baik. Kontrol yang dilakukan secara over tersebut akan menyebabkan tekanan psikis anggota masyarakat yang dikenai sanksi sosial. Jika hal ini terus berlanjut maka akan berpengaruh pada perilaku sosial orang yang merasa tertekan tersebut. Lebih parah lagi, kontrol sosial yang dilakukan dengan sanksi seperti gunjingan akan berani mengakhiri hidupnya karena merasa kehadirannya di masyarakat sudah tidak diharapkan lagi. Ia akan merasa terkucilkan meskipun sebenarnya masih ada yang peduli padanya.

Masih ingat kisah tentang Amanda Todd yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri setelah ia di-bully ramai-ramai di internet akibat foto vulgarnya diupload di sosial media oleh seseorang? Padahal! Menurut berita yang beredar, foto Amanda yang memperlihatkan dadanya dikirim melalui webcam setahun sebelumnya kepada seseorang yang berhasil merayunya. Ia tak mengira bahwa foto tersebut akhirnya beredar di internet. Pun saat ia mengirim foto itu, ia tak pernah mempersiapkan mental jika akhirnya harus dihadapkan dengan bully-an masal. Aku harap hal seperti itu (bunuh diri karena dibully) tidak terjadi lagi termasuk pada kasus video viral bertagar #SaveAqua ini.

Tahukah Kamu Arti unduh, mengunduh?

un·duh, meng·un·duh Jw v memanen (buah);~ mantu upacara menerima pasangan pengantin (oleh orang tua pengantin laki-laki setelah berakhirnya upacara pernikahan di rumah pengantin perempuan)
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close