Nusagates Notes

Rindu Pada Abah Telah Terobati

Aku balik ke Salatiga sudah dua minggu lebih. Ayi berkali-kali tanya padaku mengenai kapan akan sowan abah. Setiap mendapat pertanyaan itu, hatiku berkata masih belum siap untuk bertemu dengan beliau. Aku pun menjawab, “kapan-kapan”.  Aku perlu menyiapkan hati agar kembali ke garis edar yang sesungguhnya sehingga ketika bertemu dengan abah tidak menyebabkan adanya goncangan batin yang berlebihan.

Kerinduanku pada abah sebetulnya sudah sangat menggebu. Namun karena keadaan hati yang masih labil membuatku menahan diri untuk menemui beliau. Aku pun tak berani hanya sekedar lewat depan rumah beliau. Aku memilih memutar jalan yang lebih jauh daripada lewat jalan depan rumah beliau. Aku takut, aku malu, aku belum siap untuk bertemu.

Kemarin sore, tiba-tiba, hatiku berontak mengajak bertemu dengan abah. Biasanya ketika ada gejolak hati seperti itu, abah sedang mengharap kehadiranku. Ada sesuatu yang akan ditugaskan padaku. Aku pun bergegas menuju ke sana, ke rumah abah mengajak Ayi dan si K. Sesampainya di sana, abah menyambut dengan senyuman khasnya. “Lha iki. Wes tak arep-arep wae, kok (lha ini. Sudah kutunggu-tunggu kehadirannya, kok), kata abah. Aku tersenyum kemudian pamit sebentar untuk beli rokok.

Usai membeli rokok, aku kembali menemui abah di rumah belakang. Kami mengobrolkan hal-hal ringan. Membahas tentang gus Barok yang mondok di Tegalrejo Magelang, membahas tentang gus Syukron yang baru saja menempati rumah baru, dan hal-hal lainnya. Aku tidak menanyakan kenapa abah sangat menunggu kehadiranku. Aku hanya mengira bahwa itu adalah basa-basi saja untuk menyenangkanku karena merasa dipedulikan.

Kami mengobrol belum lama, adzan maghrib sudah bergema. Abah bergegas ganti baju dan segera bersiap menjadi imam di masjid. Aku membuntutinya. Usai sholat maghrib, aku masuk ke ruang depan. Tampak sudah disiapkan minuman dan aneka snack oleh ibu. Kami mengobrol sebentar di ruang itu hingga datanglah waktu sholat isya’ yang membuyarkan obrolan kami untuk segera menuju masjid.

Usai sholat isya’, aku kembali ke ruang depan. Ibu, abah, gus Syukron beserta anaknya, neng Ainun menemani kami di sana. Ibu masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar lagi sambil membawa handphone. “Fotone Kafi kok ilang kabeh iki piye, le. Jajal golekno (fotonya Kafi kok hilang semua gimana, nak? Tolong carikan.)”, kata ibu sambil berjalan mendekat padaku. Gus Kafi (Muhammad AlKafi) adalah putra abah dan ibu yang terakhir. Dia adalah putra yang paling disayang dan digadang-gadang menjadi penerus perjuangan abah. Dia akan dikirim ke Yaman oleh abah Toha (Pengasuh pondok yang ditempati gus Kafi belajar) setelah lulus SLTA nanti. Namun, takdir gus Kafi berkata lain. Ia meninggal dunia karena kecelakaan sewaktu perjalanan pulang ke rumah dari Pondok. Harapan abah dan ibu seakan sirna. Senyuman mereka pun sempat tenggelam.

Aku berusaha mencari-cari foto gus Kafi di handphone yang dibawa ibu tidak ketemu. Sinyalnya tidak mendukung untuk melihat di penyimpanan foto online pada handphone tersebut. Ibu punmempersilahkanku membawa pulang handphone itu untuk mencarikan fotonya gus Kafi.

Ibu mengambil sebuah album besar yang isinya foto-fotonya gus Kafi. Album itu dibuat setelah gus Kafi tiada. Ibu membuatnya sebagai kenangan.

Ibu tampak memilih-milih  fotonya gus Kafi yang dirasa paling bagus kemudian memintaku untuk mencetaknya dalam ukuran yang besar. Awalnya, ibu memintaku untuk mencetak foto-foto tersebut dalam ukuran 10 R. Aku menawari ukuran yang lebih besar sebagaimana ukuran poster Habib Syaikh yang terpajang di ruang depan itu. Ukuran A1 kalau tidak salah. Ibu setuju.

Ibu kemudian memintaku untuk membuatkan kalender 2018 dengan foto-fotonya gus Kafi. Beliau berpesan padaku kalau foto-fotonya yang dimasukkan ke dalam kalender hanya foto-foto aktifitas gus Kafi de sekolah saja. Semua foto di sekolah yang ada gus Kafi di situ dimasukkan ke dalam kalender. Aku pun menyanggupinya.

Pukul 8.30 WIB, aku, Ayi, dan si K pamit untuk pulang. Melihat senyum abah dan ibu yang kembali memancar benar-benar mampu menghapus kerinduan yang selama ini tertahan. Sebelum pulang, abah berpesan untuk menuliskan المدرسة القرأن الشفعي pada header kalender yang akan dibuat. Aku pun mengiyakan.

Tahukah Kamu Arti rojol?

ro·jol Jk v, me·ro·jol v tersembul atau keluar dr lubang dsb: ikan yg sudah ditangkapnya itu -- dr sela-sela lubang jaringnya
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close