Uncategorized

Review Indihome: Suka Duka Memakai Indihome

Aku menggunakan layanan Indihome sudah hampir 2 (dua) tahun. Terhitung sejak bulan Oktober 2015 kalau tidak salah aku mulai menggunakan layanan ini. Keputusan yang terasa sangat berat waktu itu karena antara potensi biasa yang harus dikeluarkan untuk membayar tagihan Indihome tidak sebanding dengan pemasukan yang kudapatkan. Iya! aku hanyalah seorang freelancer pembuat website dan aplikasi android. Pemasukannya tidaklah menentu. Tergantung pesanan yang masuk.

Sebelum menggunakan Indihome, koneksi internet yang kugunakan adalah paket data Indosat dengan membeli kuota bulanan kurang lebih 4 GB dan kalau ternyata habis sebelum masa berlakunya berakhir biasanya aku akan membeli paket ekstra yang harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan harga paket utama. Sayangnya sinyal Indosat di Salatiga terutama di daerah tempat tinggalku sangat jelek. Jangankan untuk ngedit website, digunakan untuk akses biasa saja super lelet. Indikator sinyal tampak berkenisambungan bergonta-ganti ikon antara ikon 3G dengan ikon Edge(E). Aku bertahan menggunakan layanan ini selama kurang lebih setahun. Ketika menghadapi situasi genting misalnya website mendadak error dan segera butuh perbaikan biasanya aku pergi ke warnet untuk membereskan masalah tersebut.

Masa-masa krisis sinyal itu membuat produktivitasku terhambat. Hal ini menyebabkan pemasukan yang kudapatkan pun tersendat. Padahal! Pengeluaran untuk membeli paket data tiap bulan terus meningkat. Ditambah paket data untuk istriku juga membuat pengeluaran bulananku semakin tak hemat. Aku pun kemudian berpikir untuk mencari solusi terkait koneksi internet. Mulai mencari referensi mengenai provider internet serta membandingkan harganya antara provider yang satu dengan lainnya. Singkat cerita pilihan itu jatuh pada Telkom. Aku memilih migrasi ke Indihome. Setelah menunggu kurang lebih 1 (satu) bulan menunggu survei dari pihak Telkom akhirnya layanan Indihome triple play pun berhasil dipasang di rumah dengan biaya pemasangan gratis. Pun tanpa embel-embel uang rokok atau uang transport untuk petugas atau teknisi yang datang ke rumah.

Kesan dan Pesan Terhadap Indihome

Selama aku menggunakan Indihome hampir 2 (dua) tahun ini belum pernah mengalami gangguan yang berarti. Kalau terkadang lambat selama 1 atau 2 jam aku rasa hal yang wajar karena memang penggunaan Wifi Indihome ini hampir tak pernah berhenti. Modem Indihome selalu nyala 24 jam. Mungkin karena modem terlalu panas atau gangguan teknis adalah hal yang wajar karena memang di dunia ini tidak ada yang abadi.

Paket yang kuambil adalah paket terendah yang tersedia waktu itu yaitu paket 10 mbps. Meskipun hanya 10 mbps, koneksi internet ini sudah sangat cukup untuk mendukung pekerjaanku. Saat awal-awal menggunakan Indihome, sebelum upgrade laptop ke core i3 dengan RAM 8 GB, kecepatan 10 mbps itu sering membuat laptop yang lama hang karena kecepatan transfer data dari internet lebih cepat dari kerja processor. Tapi mau bagaimana lagi? itu laptop satu-satunya. Laptop kesayangan istri. Aku hanya bisa telaten menggunakannya hingga akhirnya bisa membeli laptop lagi seharga Rp. 5.950.000. Laptop merk Asus tipe A455L core i3 dengan RAM bawaan 4GB.

Transfer data yang kulakukan setelah menggunakan Indihome melejit. Kalau pada saat menggunakan Indosat hanya habis kuota dibawah 10 GB per bulan, ketika menggunakan Indihome penggunaan paket data bisa sampai 50 GB. Bahkan pernah sampai 70 GB. Ini hanya untuk koneksi internet. Tidak termasuk transfer data pada layanan Usee TV soalnya aku tidak menggunakan layanan itu. Baru-baru ini saja layanan Usee TV kutawarkan pada kakak ipar untuk digunakan daripada nganggur tidak terpakai tapi bayarnya tetap sama.

Kekurangan Indihome

Indihome memiliki kekurangan adalah hal yang wajar menurutku. Hal ini dikarenakan Indihome adalah program baru pengganti layanan Speedy. Perubahan sistem dan regulasi dari program lama ke program baru memang butuh waktu. Tidak bisa langsung seketika perfect sesuai gagasan atau konsep yang jadi acuan.

Satu hal yang menjadi catatan penting mengenai kekurangan Indihome ini adalah lebih ke lambatnya customer service dalam merespon keluhan pelanggan. Aku pernah sekali merasakan sebel dengan pelayanan customer service dari Indimoe yaitu ketika kabel fiber optic yang aku gunakan putus dikarenakan kecelakaan kerja pabrik sebelah rumah. Aku pun melapor ke kantor Telkom satu-satunya yang ada di Salatiga. Laporanku diterima dengan baik sambil disuguhi senyum termanis oleh mbak petugas customer service. Namun, setelah menunggu hari demi hari, minggu demi minggu, laporan itu seakan tidak ada tindak lanjut. Aku sampai harus berkali-kali menanyakan ke customer service perihal progress penangan keluhan yang kuajukan. Namun hasilnya tetap nihil. Walhasil perwakilan dari pabrik memiliki inisiatif untuk menyewa tenaga swasta untuk memperbaiki (mengganti) kabel fiber optik yang putus itu sebagai tanggung jawab atas hal yang dilakukan oleh karyawannya. Setelah kabel berhasil diganti dan internet kembali bekerja seperti semula baru ada respon lagi dari Telkom. Aku jawab dengan sinis, “telat!”.

Hal lain yang juga menyebalkan adalah biasanya ketika ada masalah atau kendala yang dilaporkan kepada layanan pengaduan, mereka tidak bisa memberikan perkiraan waktu yang dibutuhkan (time frame) untuk menangani hal tersebut. Ini akan membuat pengguna bersangkutan frustasi jika Indihome adalah alat tempur satu-satunya yang dimiliki. Kerugian finansial yang ditimbulkan berpotensi lebih banyak karena waktu perbaikan yang tidak jelas itu akan membuat pengguna bersangkutan ragu untuk mengambil layanan internet sementara. Takut kalau sudah mengeluarkan uang tambahan ternyata layanan Indihome kembali normal. Kalau tidak mengambil layanan sementara maka otomatis produktivitasnya pun terhambat.

Sistem administrasi Indihome pun masih kurang baik. Salah satu contohnya begini. Secara umum, aturan yang diberlakukan Telkom ketika pelanggan telat membayar tagihan bulanan adalah kena denda. Nominal ini bervariasi namun akau tidak tahu hitung-hitungan detailnya. Aku hanya tahu denda yang sering aku bayar tiap telat membayar biasanya sekitar Rp. 20.000. Denda ini biasanya dikenakan kalau aku bayar tagihan di atas tanggal 20 pada setiap bulannya. Namun, pada kenyataannya aku sering mendapati nilai denda yang nihil alias kosong pada saat telat membayar tagihan. Aku pernah telat membayar satu bulan. Tagihan yang seharusnya kubayar secara tepat waktu antara tanggal 5 sampai tanggal 20 malah kubayar pada tanggal 3 bulan berikutnya. Pada saat melihat bukti pembayaran, aku lihat nilai denda yang harus kubayar adalah 0 (nol). Pada kesempatan lain, aku bayar melalui kantor pos atau lainnya aku lupa. Denda yang seharusnya ada untuk kubayar tetapi tertulis di bukti pembayaran sebesar 0 rupiah. Padahal di aplikasi My Indihome jelas tertulis bahwa denda yang harus kubayar adalah sebesarRp. 20.000 tapi pada kenyataannya denda itu tak bisa kubayar karena tidak masuk ke tagihan real.

Kekurangan lainnya yang menurutku juga penting untuk dibahas adalah mengenai tidak adanya kompensasi dari Telkom ketika layanan yang digunakan oleh pelanggan mengalami gangguan. Aku pernah mengalami gangguan (kabel putus) selama hampir 2 atau 3 minggu (aku lupa) tanpa kejelasan penanganan namun tagihan yang harus dibayarkan tetap sama.

Ads Injection atau iklan yang dipaksakan untuk tampil di suatu web yang dikunjungi pelanggan oleh Indihome juga merupakan suatu kekurangan bagiku. Dengan melakukan hal ini sebenarnya pihak Telkom telah menyalahi aturan yaitu: pertama, penampilan iklan ini tidak terdapat di dalam butir manapun pada surat perjanjian kesepakatan antara Telkom dengan pengguna. Aku pernah komplain hal ini pada customer service melalui telpon dan memintanya untuk menunjukkan butir yang menyatakan mengenai penampilan iklan itu tetapi dia tidak bisa menunjukkannya. Kedua, pihak Telkom telah menyalahi aturan karena menampilkan iklan di website orang lain tanpa meminta persetujuan. Bayangkan saja misalnya ada seorang pengunjung blog nusagates.com yang menggunakan Indihome dan pada saat itu kebetulan iklan dari Indihome muncul di halaman web (biasanya tampil di footer dengan position fixed) maka pengunjung akan mengira kalau iklan itu adalah sajian dari blog nusagates.com. Iklan yang menutupi sebagian halaman web itu membuat pengunjung tidak nyaman. Lebih parahnya! ada yang bilang kalau penyajian iklan yang dilakukan oleh Indihome menggunakan iframe. Iklan ditampilkan secara normal sedangkan web yang dikunjungi ditampilkan di dalam iframe. Kalau hal ini benar tentu akan mematikan pemilik blog.

Kelebihan Indihome

Teknologi Indihome yang menggunakan fiber optic sebagai alat untuk mengirim data membuat koneksi Internet yang disuguhkan kepada pelanggan cukup stabil. Selama menggunakan layanan ini, aku belum pernah mengalami yang namanya download interupt (kegagalan download) maupun kegagalan transfer (upload) yang disebabkan oleh gangguan internet.

Indihome menawarkan layanan sewa IP static. Ini adalah kelebihan yang paling menonjol dibanding dengan provider lain yang sejenis. IP static ini diperlukan bagi Instansi pemerintahan atau suatu perusahaan yang ingin membangun servernya sendiri di lingkungan kantor meraka.

Bonus telpon 1000 menit ke sesama telpon rumah (yang menggunamkan Indihome). Ini sudah aku buktikan dan lumayan membantu untuk menghemat juga. Terlebih ketika harus menghubungi perusahaan-perusahaan yang tidak menyantumkan kontak lain selain nomor kantor (bukan mobile).

Layanan/fitur Add On. Meskipun aku hanya menggunakan paket 10 mbps, melalui Add On ini aku bisa upgrade kecepatan menjadi 100 mbps selama durasi tertentu. Biaya tagihan akan ditambahkan pada tagihan pada bulan bersangkutan dan kecepatan akan kembali ke kecepatan sebelumnya setelah durasi Add On Speed on Demand yang aku pilih berakhir.

Pembayaran tagihannya mudah. Meskipun ini adalah hal umum, maksudnya masalah pembayaran di layanan apa pun biasanya memang lebih bagus dibandingkan dengan pelayanan teknis namun bagiku tetaplah menjadi kelebihan yang perlu dibahas. Sebagus apa pun layanan kalau cara bayarnya sulit kan jadi tidak enak. Salah satu contoh misalnya adalah Google Cloud. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana kenyamanan menggunakan Google Cloud. Namun, berhubung cara bayarnya menggunakan kartu kredit dan aku tidak memilikinya maka aku berhenti menggunakannya. Meskipun sebenarnya masih bisa diakali menggunakan Virtual Card Number (VCN).

Sejak awal tahun 2017 kalau tidak salah, aku merasakan ada perubahan terkait kecepatan dan kecekatan customer service dalam menangani keluhan pelanggan. Aku sering mengirim keluhan melalui Twitter (public twit) ke @TelkomCare. Para adminnya biasanya menanggapi dengan cepat. Begitu pula tindaklanjutnya. Ketika masalah itu bisa diselesaikan secara langsung (dipandu melalui twitter) maka mereka akan dengan telaten memandu. Namun jika dirasa sulit maka mereka akan minta informasi lebih lanjut dan biasanya kemudian akan ditelpon langsung dari kantor Telkom. Jika masalah yang dihadapi dirasa perlu tindak lanjut lebih biasanya tak lama setelah itu akan ada petugas yang datang kerumah.

Aku memiliki pengalaman terkait hal ini yang baru saja terjadi kemarin (5 Juni 2017). Aku mengeluh karena lupa password untuk login ke pengaturan Wifi menggunakan user: admin dan password: admin. Tak lama setelah mengirim keluhan, handphoneku bunyi berkali-kali. Kulihat ada telpon dari Indihome cabang Surakarta namun tidak kuangkat karena aku sangat ngantuk. Setelah telpon ke handphone tidak ada jawaban, ganti telpon rumah yang berdering berkali-kali. Bapak pun membangunkanku. Aku pun menjawab, “biarkan saja. Itu Indihome”. Aku melanjutkan tidur lagi. tak lama setelah itu ganti istriku yang membangunkanku. Katanya petugas dari Indihome datang namun karena aku benar-benar sangat ngantuk, aku tidak menemuinya. Aku hanya berpesan pada istriku mengenai apa yang jadi keluhanku.

Petugas yang datang ke rumah itu kemudian balik ke kantor setelah berusaha menangani keluhanku namun tidak berhasil. Ia pesan  untuk diberitahu kalau aku sudah bangun. Menjelang asar, istriku baru WA petugas tersebut. Tak kuduga ternyata petugas itu datang lagi untuk menindaklanjuti keluhanku. Aku sangat terkesan terhadap konsistensi dan kecekatan para petugas itu. Sangat jauh lebih baik dari sebelumnya. Andai saat kabel putus dulu sudah seperti ini pasti tak perlu menggunakan cara lama (ngenet di warnet) untuk sementara waktu.

Pesan untuk Indihome

  1. Perbaiki sistem administrasi. Meskipun tidak jadi membayar denda yang tertera di tagihan digital karena di tagigan real nilainya menjadi nihil (0) itu menyenangkan namun membuat tidak nyaman. Aku ingin menggunakan dengan cara yang wajar dan dilayani dengan cara yang wajar. Begitupun dengan pembayaran. Aku membayar apa yang harus kubayar dan pihak telkom pun harus konsisten transaparan mengenai pembiayaan. Janggan pernah terapkan hidden fee.
  2. Hapus sesegera mungkin cara nakal memaksakan diri untuk menampilkan iklan (ads injection). Meskipun dalam jangka pendek dan menengah cara ini aman, suatu saat itu akan memukul mundur Indihome dari jagat pelayanan Internet. Para cendekiawan yang kritis dan kreatif di Indonesia bisa saja menggugat dan menciptakan kompetitor yang berat untuk dilawan. Kasihan kalau Telkom harus tutup karena kalah bersaing. Kasihan para karyawan.
  3. Berikan kompensasi bagi pelanggan yang layanannya mengalami gangguan. Ini merupakan wujud komitmen untuk melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Daripada membuat program poin reward yang menurutku kurang berguna itu mending alihkan hal itu untuk memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terkena gangguan.

Cukup sekian review Indihom singkat dariku. Jika ada hal yang kurang berkenan mari didiskusikan. Jika ada hal yang ingin ditanyakan silahkan tulis di komentar atau gunakan menu ajukan pertanyaan di atas.

 

Cheers
Nusagates

Pencarian Terkait:

  • review indihome 2017
  • indihome review
  • kekurangan indihome
  • review indihome telkom 2017
  • review paket indihome
  • review penggunaan indihome

1 thought on “Review Indihome: Suka Duka Memakai Indihome”

Tinggalkan Balasan