Minggu , 24 September 2017
Home » Rachmat Gobel dan Asosiasi Pembuat Kebijakan Keblinger |

Rachmat Gobel dan Asosiasi Pembuat Kebijakan Keblinger |

Yang Mulia Pak Rachmat Gobel,

Sehat, Pak? Kok goblok bener sih saya nanya Bapak sehat atau nggak. Ya jelas sehat toh; Bapak kan nggak demen alkohol dan suka lari pagi. Pastinya seger-seger aja dong.

Lagian kan Bapak juga bukan turis bule yang kerjaannya minum-minum terus. Kan orang Indonesia nggak kenal minum-minum—kata MUI sih gitu. Tapi sebaiknya Bapak periksa ulang: daerah mana yang tidak punya minuman tradisional? Nggak usah bohong, bisa-bisa Bapak kualat. Ingat lho, usia resep-resep minuman itu jauh lebih tua ratusan tahun lamanya daripada umur Bapak. Pokoknya sampeyan kalah tua lah, Pak.

Orang Indonesia ini memang makin aneh, Pak Gobel. Terobsesi dengan kesehatan, tapi juga suka memelihara penyakit—tuh liat aja, produk transgenik yang membahayakan kesehatan tetap beredar kan, Pak? Orang Indonesia, khususnya pejabat-pejabatnya, konon juga menghargai kehidupan, tapi nekat memberlakukan hukuman mati dan cuma bisa teriak-teriak ketika TKI dipancung di Saudi.

Perokok lama-kelamaan juga setengah dikriminalisasi; rokoknya dianggap sumber kemiskinan dan kematian, sementara cukainya dihisap terus oleh negara. Ya, setelah minuman beralkohol dibatasi gila-gilaan, sepertinya rokok akan kena getahnya.

Tapi kandungan pengawet junkfood, yang bikin obesitas dan mempertinggi resiko kanker usus itu, kok nggak pernah diutak-atik toh, Pak?

Sebelum kebijakan Pak Gobel memancing anggota-anggota DPR mengkriminalisasi penjual minuman beralkohol berikut konsumennya, ada baiknya Bapak cari tahu tentang kasus alcohol prohibition di Amrik. Apa? Bapak nggak tau? Bookmark Wikipedia dululah, Pak.

Dulu ceritanya di Amrik tahun duapuluhan, minuman beralkohol resmi dilarang. Nyaris seluruh politisi di parlemen, mulai dari yang ultra-relijius hingga yang cenderung progresif sepakat. Tapi, Pak, peraturan ini hanya berlaku selama 13 tahun. Selebihnya gagal total dan peraturan itu dikenang sebagai satu episode memalukan dalam sejarah Amerika, setara dengan perbudakan, Perang Vietnam, intervensi di Irak, dan Miley Cyrus.

Bapak tentu penasaran kenapa kebijakan ini gagal. Salah satunya karena produksi minuman ilegal meningkat drastis sampai-sampai tak bisa lagi dikontrol. Banyak orang meramu minumannya sendiri dan mendistribusikannya ke pasaran secara sembunyi-sembunyi. Sukur-sukur kalau hasilnya bagus; lha ini banyak banget yang mati. Gilanya lagi, angka kriminalitas, khususnya pembunuhan yang di tahun-tahun sebelumnya sempat menurun, meroket tajam selama periode tersebut.

Makanya, Bapak coba riset dulu, jangan asal nyeplos. Berapa banyak anak muda di Indonesia yang mati karena bir dan bukan karena bir yang dicampur bensin, alkohol 70 persen, balpirik, rendaman janin kijang—pendeknya, oplosan? Tuh bener kan bir bikin mati, kata Bapak. #YaelahBro. Sirup Tjampolay asal Cirebon yang dicampur kutek juga bisa bikin mati, kali.

Tapi, dari kasus pelarangan di Amrik ini, Pak, yang lebih menarik buat saya adalah ketika para pembuat kebijakan harus menelan ludah sendiri karena peraturan yang sama.

Pelarangan minuman keras hanya berhasil di kalangan buruh dan orang-orang melarat lainnya, tapi tidak berhasil buat keluarga-keluarga kelas atas. Dua presiden Amrik berturut-turut saat itu, Woodrow Wilson dan Warren G. Harding, toh bebas-bebas saja mengkonsumsi anggur di rumah masing-masing. Pasalnya, sebelum pelarangan itu berlaku efektif, mereka sudah nyetok anggur di gudang, bahkan memborongnya besar-besaran dari toko.

Yang lebih menggelikan, seorang penjual minuman ilegal saat itu, George Cassiday, marah besar di hadapan Kongres. Dia bilang, delapan puluh persen senator Amerika adalah peminum dan selama sepuluh tahun pula mereka tetap jadi pelanggan loyal Cassiday, meskipun alkohol sudah resmi dilarang. Menertibkan moral warga negara memang menggoda, dan sering dijadikan obat dari segala obat untuk zaman yang semakin jahilliyah ini. Tapi jarang berhasil. Sekalinya berhasil, yang paling sering dikorbankan adalah orang susah.

Makanya, pelarangan ini bikin saya teringat pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Yang menderita karena dihukum cambuk di depan umum selalu saja rakyat jelata. Elit-elit politiknya? Ya mana pernah… Coba sekali lagi Bapak cek: orang putus cinta dan minum-minum sampai  mati di mana akar masalahnya? Ya di putus cintanya itu lah. Geng motor dan berandalan-berandalan yang suka bikin ribut itu minumannya apa? Saya kok malah curiga mereka minum fermentasi tangkur buaya campur bodrex ya. Terus, silakan cek juga kenapa mereka beringas. Oh iya, siapa tahu mereka punya koneksi ke pejabat atau orang kuat lainnya.

Kalau Pak Gobel tetap bersikukuh, silakan bergabung dengan Asosiasi Pembuat Kebijakan Keblinger, yang Bapak sudah paham betul apa saja produk dan akibatnya: cewek diperkosa, tapi yang disalahin adalah situs porno dan korban ceweknya sendiri—yang selalu dikisahkan berpakaian minim dan “mengundang”. (Well, di Swedia, situs porno nggak dilarang dan pakaian ketat di mana-mana tapi minim perkosaan) Kekerasan agama meningkat, yang disalahin‘situs radikal’, bukan para pelakunya (halo, Cikeusik!). Soal yang terakhir ini, kalau pemerintah konsisten mau menggulung ISIS dengan alasan ideologi mereka memecah belah bangsa, sila bereskan juga para pelaku penyegelan rumah-rumah ibadah.

Oh iya, tolong sampaikan juga ke teman Bapak, Uni Fahira Idris yang hobi berburu itu: senapan juga lebih mematikan daripada alkohol. Dan seperti minuman berakohol yang bisa membunuh konsumennya, senapan, sekalipun tak beredar luas, juga bisa dipakai bunuh diri.





Penulis
Windu Jusuf

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/04/rachmat-gobel-dan-asosiasi-pembuat-kebijakan-keblinger/’][/link]

Masukkan Email kamu untuk mendapat artikel gratis dari Nusagates.com:

About

Berikan tanggapan kalian agar Nusagates semakin lebih baik.