Nusagates Notes

Puasa Wanita Hamil dan Menyusui

Wanita hamil dan menyusui adalah salah satu yang mendapatkan keringanan untuk tidak puasa. Keringanan ini artinya terserah wanita tersebut, apakah akan mengambilnya atau tidak. Tentu saja, ada kewajiban untuk mengqadha puasa dan membayar fidyah dengan ketentuan sebagai berikut:

Madzhab Syafiiyah dan Hanbali mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui hukumnya diperinci: “Keduanya wajib qadha’ dan membayar fidyah, jika keduanya tidak berpuasa karena mengkhawatirkan pada kondisi anaknya. Sebab ini bentuk meninggalkan puasa yang dinikmati oleh ibu dan anaknya. Jika ibu hamil dan menyusui hanya mengkhawatirkan pada kondisi mereka saja (tidak khawatir pada kandungan atau anaknya), maka mereka hanya wajib qadha’ saja tanpa membayar fidyah” (Musnad Asy-Syafii 782)

Bisa diperinci seperti ini:

Ibu yang Tidak Puasa Karena Mengkhawatirkan Kondisi Anak yang Dikandung

Dulu, saat aku hamil si K, dokter mengkhawatirkan akan kandunganku karena aku mengalami flek. Oleh dokter, aku dibekali obat penguat yang harus kuminum tiga kali sehari. Saat itu akhir bulan Ramadhan, karena aku muntah terus-menerus dan harus meminum obat tiga kali sehari karena khawatir janin kenapa-kenapa, maka aku tidak puasa selama tujuh hari.

Dalam kasus ini, aku harus mengganti puasa sejumlah hari yang kutinggalkan sekaligus membayar fidyah satu mud (1,25 kg) dikalikan jumlah hari tidak puasanya. Wkwkwkwk. Mbulet enggak sih? 😀 Dalam kasus emak K tersebut, maka emak K harus mengqadha puasa 7 hari dan membayar fidyah 1.25 kg x 7, alias 8.75 kg makanan pokok.

Kapan Fidyah Dibayarkan

Fidyah bisa dibayar setiap hari ketika tidak puasa, jadi setiap tidak puasa langsung memberikan satu mud makanan pokok kepada fakir miskin. Boleh juga totalan di belakang, baru dibayarkan sejumlah hutang puasa.

Ibu yang Hanya Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya

Ibu yang tidak puasa karena menghkhawatirkan dirinya yang tidak kuat, misalnya khawatir lemas dan tidak bisa mengasuh anak dengan baik, maka hanya diwajibkan untuk membayar qadha puasa sejumlah hari yang ditinggalkan.

Jadi, Lebih Baik Puasa atau Tidak?

Terserah mau puasa atau enggak. HAHAHA. Ibaratnya diberi keringanan, terserah kita mau mengambil keringanan itu atau enggak. Kalau emak K waktu menyusui dulu, aku membatalkan puasa kalau lemes banget. Hihihihi

 

So, silahkan diputuskan sendiri ya, enggak perlu bingung. Islam itu memudahkan, kok. 🙂

 

Kata Kunci

Widi Utami

Deaf Blogger, Emak K.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close

Adblock Terdeteksi

Tampaknya kamu menggunakan Adblock. Iklan kami aman dan tidak mengganggu kamu mengunjungi blog ini. Sudilah kiranya mematikan Adblock untuk blog ini untuk mendukung kami.
Lewat ke baris perkakas