Nusagatech

Proyek Pertama Menggunakan Laravel

Laravel sudah kukenal sejak lama namun tak dapat membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat pertama kali mengenal Laravel, aku masih suka kangen mantan membuat proyek natif atau tanpa menggunakan framework.

Perpindahanku dari natif menjadi peminat framework tidak langsung ke Laravel meskipun beberapa teman dekat merekomendasikan serta memuji keunggulannya. Aku lebih memilih transit menjadi penikmat Codeigniter (CI) walaupun hanya sesaat. Proyek pertamaku menggunakan CI rasanya malah menjadi produk gagal. Arsitektur database dan sistemnya amburadul. Aku membuatnya tanpa konsep yang jelas karena diburu deadline. Walhasil produk yang “asal jadi” itu seakan menjadi semacam pemicu gairah bercinta trauma menggunakan CI 🤣.

Setelah beberapa kali purnama bekerja menggunakan CI dan mengalami kebuntuan pada beberapa sisi, aku mulai mencoba membaca-baca mengenai Laravel di perpustakaan digital yang disediakan oleh aplikasi Ipusnas. Salah satu kutipan penulis yang membuat benteng ke-natif-anku luluh lantah seketika adalah ketika dia bilang framework dapat mempercepat kerja programmer. Daripada waktunya dihabiskan untuk memikirkan logika program mendingan digunakan untuk memikirkan mantan model bisnis💰. Aku yang dulu sering merasa bangga kalau mampu membuat aplikasi natif yang bisa jalan sampai beberapa siklus akhirnya bertekuk lutut di hadapan framework demi melejitkan bisnis.

Uji coba pertamaku menggunakan Laravel sebetulnya mau buat aplikasi CRM sederhana yang dimulai dari sistem kasir. Hanya saja setelah aku kerjakan beberapa bagian, aku mendapat komando dari atasan untuk menikah lagi membuat aplikasi point to do atau semacam project management yang paling sederhana. Melihat referensi aplikasi yang ditunjukkan padaku, aku optimis bisa menyelesaikan aplikasi tiruan KW5 dalam waktu 3 hari🤭.

Setelah beberapa saat berkutat dengan Laravel, aku mulai menemukan hal-hal yang terasa menyenangkan seperti adanya fitur seeder dan faker yang sempat membuatku geleng-geleng kepala. Autentikasi bawaan (built-in) Laravel juga membuatku merasa sangat terbantu dalam mengelola hak akses pengguna.

Ketika upload proyek ke server online, aku juga merasakan kalau Laravel memang pilihan yang tepat. Kalau biasanya aku akan melakukan import-export database dari lokal ke online, kali ini tidak perlu melakukan hal tersebut. Melalui fitur database migration hal itu sudah diatasi hanya menggunakan satu baris kode saja🙈.

Setelah database berhasil dibuat, biasanya aku akan membuat data dummy secara manual. Namun, kali ini tidak. Database seeder dan fitur faker sangat membantuku untuk membuatnya dalam waktu singkat. 🤸

Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: nusagates@gmail.com. Hubungi via 0822 2500 5825

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close