Nusagalture

Pesan Tradisi Tedhak Siten; Anak Bukan Kertas Kosong

Tedhak Siten, upacara yang dilaksanakan ketika anak berusia 7 bulan atau 8 bulan tenyata menyimpan filosofi tentang pendidikan anak yang belakangan ini menjadi perhatian serus oleh ahli pendidikan, dimana mereka meyakini bahwa anak sudah memiliki.

Upacara Tedhak Siten adalah upacara pada saat anak turun tanah untuk pertama kali, atau disebut juga mudhun lemah atau unduhan, masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib, disamping itu juga adanya suatu anggapan kuno bahwa tanah ada yang menjaga yaitu Batharakala.

Upacara Tedhak Siten dilaksanakan pada saat anak berumur 7-8 lapan (Lapan, hitungan umur dalam bahasa Jawa, 35 hari). Dalam melaksanakan upacara Tedhak Siten, dibutuhkan tumpeng selamatan yang terdiri dari tumpeng urab, jenang merah-putih, jajan pasa lengkap. Juwadah dalam berbagai warna. Bunga setaman. Tangga yang terbuat dari tebu berwarna merah hati. Sangkar ayam yang dihiasi janur dan kertas warna-warni. Sekar telon. Barang-barang berharga dan bemanfaat, seperti gelang, peniti, kalung, buku, dll.

Saat upacara Tedhak Siten berlangsung, anak dititah untuk berjalan menuju kurungan ayam melewati jadah berwarna-warni dan jembatan yang terbuat dari tebu merah, kemudian masuk ke dalam sangar ayam. Di dalam sangkar ayam, anak akan dipancing untuk memilih benda-benda yang telah tersedia dalam sangkar ayam. 

Setelah selesai memilih salah satu benda di dalam sangkar ayam, anak dimandikan dengan bunga setaman dan dipakaikan pakaian yang paling bagus untuk kemudian di dudukkan di karpet.

Filosofi Upacara Tedhak Siten dalam Pendidikan

Pada jaman dahulu, tradisi Tedhak Siten dimaknai sebagai bagian dari kekuatan mistis. Anak seolah digerakkan oleh kekuatan gaib untuk mengambil salah satu barang yang ada di dalam kurungan dan menunjukkan masa depannya kepada orang tua.

Bukik Setiawan, dalam bukunya Anak Bukan Kertas Kosong, Upacara Tedhak Siten mengajarkan pesna penting bagi orang tua dalam mendidik anaknya. Tradisi kurungan ayam mengasumsikan bahwa anak sudah dibekali dengan minat tertentu sejak lahir dan minat setiap anak beragam. Minat anak tersebut menggerakkan anak untuk memilih benda yang disukainya.

Upacara ini bukan untuk meramal masa depan anak, namun merupakan aktivitas yang disarankan oleh nenek moyang yang mengandung nasihat aga orang tua memahami keunikan potensi anak dan mendidik anak sesuai potensinya tesebut.

Widi Utami

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain
Back to top button
Close