Nusagatech

Penyebab Bounce Rate Tinggi dan Cara Menurunkannya

Pengertian Bounce Rate

Bounce atau pantulan di dalam terminologi webmaster adalah sesi kunjungan (page-session) satu halaman blog (single-page). Pada Google Analytic, suatu bounce dihitung berdasar pada satu event yang dikirim ke server analitik. Misalnya: seseorang mengunjungi salah satu halaman artikel Nusagates saja tanpa mengunjungi halaman lain maka secara umum akan dinilai sebagai bounce. Namun jika pengunjung tersebut melakukan event lain yang diberi trigger untuk mengirim data ke server analitik maka kunjungan tersebut tidak dinilai sebagai bounce. Misalnya: selain event visit, pengunjung melakukan event share, like, atau event lain yang dikasih trigger untuk mengirim server ke server Google Analytic.

Bounce rate atau rasio pantulan adalah rata-rata bounce atau pantulan pada suatu statistik blog. Cara menghitung bounce rate adalah dengan cara membagi sesi bounce dengan total semua sesi. Dengan kata lain, bounce rate adalah persentase visitor yang melakukan kunjungan satu halaman blog dan hanya melakukan satu event dari semua sesi yang tercatat di analitik.

Penyebab Bounce Rate Tinggi

Hal yang dapat menyebabkan bounce rate pada blog tinggi sangat beragam dan tidak bisa digeneralisasi namun, beberapa hal yang berpotensi menyebabkan bounce rate tinggi adalah hal-hal berikut ini:

Pertama: kesepakatan blog-walking untuk saling memberi komentar pada blog yang dikunjungi.

Bertukar komentar memanglah tampak bagus pada satu sisi yaitu bisa meningkatkan backlink namun, di sisi yang lain hal itu akan meningkatkan bounce rate pada blog menjadi tinggi. Kenapa hal ini bisa terjadi? Umumnya jika kita bergabung pada komunitas saling komen maka anggota tersebut sebenarnya tidaklah memperdulikan apa isi artikel kita. Mereka mengunjungi artikel yang kita share hanya untuk komentar saja tanpa membaca isi artikel setelah itu akan menutup halaman tanpa mengunjungi halaman lain atau melakukan event lain. Perlu diingat bahwa durasi kunjungan tidak berpengaruh pada bounce rate.

Kedua, Tidak adanya keterkaitan artikel dengan artikel lainnya atau minimnya penyajian artikel terkait pada blog.

Pemberian link-link artikel terkait dapat mengurangi bounce rate. Hal ini akan efektif jika pengunjung blog yang datang adalah benar-benar tertarik pada artikel yang kita tulis. Bukan karena kewajiban saling komen. Mereka yang sudah terbawa suasana pembahasan biasanya akan mencari artikel terkait untuk memuaskan keinginannya membaca lebih jauh mengenai tema yang dibahas pada artikel.

Ketiga: Minimnya pencatat event (event bawaan maupun custom event) yang digunakan pada blog.

Pada umumnya, blogger yang hanya sekedar ikut-ikutan pasang Google Analytic atau belum sepenuhnya tahu seluk beluk Google Analytic akan langsung memasang kode bawaan yang disediakan oleh Google Analytic begitu saja. Itupun yang paling banyak digunakan hanya untuk tracking pageview dan visitor. Tracking jumlah pengunjung yang melakukan share, like, klik menu di header, klik menu di footer, klik link outbound, klik link inbound, atau event lainnya mana tahu caranya? Iya, gak? Jadi wajar saja kalau bounce ratenya tinggi lha wong menu tracking yang digunakan cuma visit

Apakah Buruk Jika Bounce Rate Blog Tinggi?

Jawabannya adalah tergantung dari tujuan pembuat blog. 

Buruk: bagi pembuat blog/web yang kesusksesannya dinilai dari pengunjung yang melihat halaman lebih dari satu. Contoh: Suatu blog yang memiliki halaman artikel, produk, forum, QA, atau lainnya maka jika pengunjung hanya mengunjungi satu halaman saja bearti ia belum sukses dan bounce rate tinggi itu adalah indikator yang buruk bagi blognya.

Bagus: Bagi marketer yang berafiliasi dengan penyedia iklan model CPA biasanya tidak begitu memperdulikan bounce rate yang tinggi karena ia hanya memiliki beberapa halaman web saja yang berupa landing page. Halaman-halaman tersebut tidaklah saling terkait karena berisi offer atau penawaran yang berbeda. Bounce rate tinggi bagi marketer model seperti ini merupakan indikator yang bagus. Ibarat jualan di pasar, pembeli gak muter-mutet barang dulu untuk memilih yang cocok. Jadi pengunjung tertarget berhasil ditarik untuk mengunjungi halaman landing page tertarget. Masalah pengunjung tersebut jadi mengambil tawaran atau tidak adalah hal lain. Indikatornya berbeda.

Menurunkan Bounce Rate Yang Tinggi

Sebagaimana yang diulas pada awal pembahasan, bounce rate adalah sesi singgle dan hanya trigger single event yang dilakukan pengunjung. Yang perlu digarisbawahi mengenai bounce rate ini adalah single view dan single event. Jadi, untuk menurunkan bounce rate, secara global bisa dilakukan dengan cara: 1). Mengupayakan pengunjung melakukan view pada halaman lain dan 2). Mengupayakan pengunjung untuk melakukan event yang lain.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan bounce rate adalah sebagai berikut:

Pertama, menambah kueri untuk mencatat semua perilaku pengunjung (visitor behavior). 

Seyogyanya blogger yang memiliki target tertentu (blogging tidak hanya sebagai hobi) mencatat semua perilaku user/visitor pada blog miliknya. Semua menu atau link, setiap jenis event sosial seperti like, share, komen, atau lainnya, setiap user melakukan klik gambar, klik iklan, atau klik lainnya perlu diberi kueri khusus untuk dikirim ke Google Analytic. Selain hal itu bisa menurunkan bounce rate juga bisa sangat bermanfaat untuk optimasi blog.

Kedua: membuat link artikel terkait menjadi lebih menarik. Untuk hal ini, publisher AdSense dimanjakan Google dengan memberi fitur ads tipe match content. Algoritma Google dibuat untuk manyajikan artikel terkait sesuai behavior user pada waktu lampau. Google mencocokkan artikel terkait menggunakan algoritma iklan berbasis minat. Jadi, artikel terkait yang ditampilkan Google tersebut disesuaikan berdasar minat pengunjung dan bukan ditampilkan berdasarkan kategori, tag, atau hal-hal statis lainnya.

Ketiga: mengajak anggota yang tergabung pada grup saling komen untuk melakukan event yang lain.

Jika kesimpulan hasil analisa menunjukkan bahawa bounce rate yang tinggi itu disebabkan oleh perilaku saling komen maka sebaiknya peraturan saling komen itu ditambah dengan hal berikut:

  1. Peserta saling komen minimal mengunjungi 2 halaman
  2. Peserta saling komen minimal melakukan 2 event yang ditentukan pemilik blog

Jika hal itu bisa diterapkan maka bounce rate pada blog akan berangsur menurun. Percayalah.

Studi Kasus

Di bawah ini adalah screenshoot pageview blog Nusagates selama bulan Juli:

Pageview Nusagates selama bulan juli 2017 adalah 85.405 sesi dengan bounce rate 50.26 %, turun 6 persen dari bulan sebelumnya. Bounce rate blog Nusagates sangatlah tinggi. Hal ini disebabkan 3 artikel out of topic yang sengaja dibuat beberapa bulan yang lalu. Artikel tersebut tentang pornografi dibuat menggunakan teknik clickbait bertujuan untuk mendistorsi pencari konten porno. Ketiga artikel tersebut langsung saja mengundang ribuan visitor dan menghasilkan ribuan pageview dalam sekejap. Hanya saja para pengunjung yang kecewa langsung begitu saja meninggalkan halaman ketika konten yang dicari tidak ditemukan. Ini menyebabkam bounce rate blog Nusagates menjadi 80%.

Sebulan kemudian, artikel tersebut dikunci dan hanya bisa dilihat ketika visitor melakukan like. Event like itu dicatat dan dikirim ke Google Analytic sebagai sebuah trigger event. Hasilnya bounce rate blog nusagates menurun dan saat ini menjadi 50,26%. Jadi jika dihitung berdasarkan page view selama bulan juli maka sesi bounce Nusagates adalah sekitar 43 ribu sesi. Sedikit lebih tinggi dibanding sesi lainnya.

Bounce rate tinggi apa membuatku merasa gagal mengelola blog? Tidak. Sepenuhnya tidak karena hal itu sudah disadari sebelumnya ketika hendak menerbitkan artikel clickbait yang memang berpotensi meningkatkan bounce rate. Amd.

Tahukah Kamu Arti ketitir?

ke·ti·tir n burung kecil yang suaranya nyaring dan panjang, biasa dipertandingkan suaranya; perkutut;

ke·ti·tir·an n ketitir
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

2 komentar

    1. Secara umum iya memang begitu. Apalagi kalau kebanyakan pengunjung bukan dari organic search. Dari sosial media misalnya. Biasanya mereka tertarik karena melihat judul atau melihat temannya like/komentari artikel tersebut. Ketika mereka ikut tertarik biasanya hanya melihat artikel itu saja karena motif penasaran sudah terpenuhi.

      Kalau model blog review. Apalagi yang menerima content placement, artikel pesanan yang wajib menyertakan link outbound, atau artikel untuk lomba yang wajib menyertakan beberapa link berbentuk keyword sebaiknya beri tracking tambahan untuk melihat link mana yang diklik.

      Tracking tambahan ini bisa berguna untuk menurunkan bounce rate apabila pengunjung klik salah satu outbound link tersebut.

      Cara lainnya: Tombol submit pada komentar beri tracking khusus untuk dikirim ke Google Analytic. Jadi, meskipun pengunjung hanya melihat 1 halaman tapi memberi komentar akan dicatat sebagai 2 event dan tidak lagi dianggap sebagai bounce.

      Cara lainnya: beri tracking juga untuk tombol-tombol sosial media agar event-event simpel seperti like, share, atau lainnya juga dicatat sebagai event oleh Google Analytic. Ini akan jauh lebih efektif untuk menurunkan bounce rate jika kebanykan pengunjung berasal dari sosial media.

      Keyword untuk mencari artikel mengenai penambahan tracking bisa menggunakan:
      1. How to add custom tracking on Google Analytic
      2. How to track outbound link click event using Google Analytic
      3. How to track sosial media event using Google Analytic

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close