Nusagadu

Pengalaman Kuliah Di Universitas Terbuka

Aku mendaftar kuliah di Universitas Terbuka (UT) pada tahun lalu. Hanya saja karena waktu itu dapat uangnya untuk membayar kuliah telat, aku tidak jadi mengikuti perkuliahan tahun itu juga. Padahal aku sudah mengambil 6 matakuliah dengan total 18 SKS pada saat mengisi KRS.

Awal Januari tahun ini, aku mengambil matakuliah yang sama seperti yang kuambil pada tahun sebelumnya. Untuk membayar biaya perkuliahan, aku meminjam uang melalui program Flexi Cash yang ditawarkan oleh Jenius. Total biaya yang harus dibayar 1.8 juta-an kalau tidak salah.

Perkuliahan diawali pada bulan maret. Aku memilih jalur Tutorial Online (Tuton) untuk mengikuti perkuliahan. Setiap mahasiswa yang ingin mengikuti Tuton harus mengisi formulir kesediaan mengikuti Tuton pada rentang tanggal yang telah disediakan. Jika kelupaan tidak mengisi maka tidak bisa mengikutinya dengan cara menyusul.

Bayanganku pelaksanaan Tuton adalah perkuliahan realtime semacam webinar. Ternyata salah. Materi perkuliahan hanya disampaikan melalui Moodle oleh seorang Tutor dan mahasiswa diminta untuk mempelajari materi tersebut secara mandiri dan menjawab soal yang diberikan melalui forum diskusi yang disediakan. Apesnya aku mendapat tutor yang pasif.

Sebagai gambaran, tuton ini akan dilaksanakan selama 6 sesi masing-masing matakuliah. Satu sesi waktunya adalah satu minggu. Tutor memberikan materi dan tugas diskusi pada masing-masing sesi. Selain itu, ada 3 tugas lagi yang diberikan pada sesi ketiga, kelima, dan ketujuh.

Aku belum pernah mendapat feedback dari tutor mengenai pekerjaan dan tugas yang telah kukirim sampai pada sesi keempat yang telah kuikuti. Sehingga aku tidak tahu bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada sesi satu pada salah satu matakuliah pun belum mendapat jawaban dari tutor sampai sesi keempat ini. Aku heran dan bertanya-tanya “lalu apa gunanya tutor?”.

Karena ada wabah Covid-19, perkuliahan semester ini diadakan tanpa UAS. Semua nilai diambil dari tuton bagi mahasiswa yang mengikutinya. Bagi yang tidak, aku tidak tahu bagaimana merumuskan nilai mereka. Sudah dijelaskan melalui surat edaran, sih. Sayangnya aku tak paham.

Ketika aku bertanya mengapa perkuliahan di UT cenderung pasif melalui WAG prodi, rata-rata dijawab memang kebanyakan mahasiswa hanya mencari nilai. Hanya menjawab pertanyaan dari tutor saja. Tidak berusaha aktif dalam diskusi. Sedangkan tutor yang pasif itu menurut mereka karena kurang beruntung saja. Kalau sedang beruntung akan mendapat tutor yang aktif menghidupkan kelas kata mereka.

Perkuliahan yang super santai seperti itu membuatku berencana mengambil tambahan 2 matakuliah lagi di semester depan. Sehingga matakuliah yang akan kuambil berjumlah 8.

Satu hal yang membuatku sebel mengikuti perkuliahan ini yaitu beberapa tutor cenderung mengunggulkan sisi kognisi ketika memberi pertanyaan. Misal jelaskan teori a menurut x, bagaimana konsep b menurut blabalaba, sebutkan dan jelaskan blah-blah-blah sesuai blih-blih-blih.

Tanya Jawab Anda memiliki pertanyaan seputar artikel yang dibahas atau topik lain? Silahkan ajukan pertanyaan Anda melalui program Tanya Nusagates atau posting di Forum Nusagates.
Konsultasi terkait tugas sekolah atau tugas kuliah juga diperbolehkan.
Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close
Close