Uncategorized

Pak Taufiq Ismail, Ajari Kami Mengubur Akal Dong! |

Pak Taufiq Ismail,

Dulu, zaman masih duduk di bangku SD, tiap kali saya dengar kata “puisi”, yang segera terbayang adalah deklamasi, dan deklamasi sudah pasti identik dengan Taufiq Ismail. Puluhan eksemplar kumpulan puisi Bapak, Benteng dan Tirani, tersimpan di tiap perpustakaan sekolah.

Ini satu yang saya ingat:

Ibu telah merelakan kalian

Untuk berangkat demonstrasi

Karena kalian pergi menyempurnakan

Kemerdekaan negeri ini

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas airmata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu

Setelah dewasa dan sedikit-sedikit kenal sastra, penilaian saya berubah. Ibu para demonstran itu tidak mewakili ratusan ribu ibu lainnya yang diseret, diperkosa, dan dipenjara tanpa diadili sejak Oktober 1965.  Baru saya ketahui kalau Tirani dan Benteng itu sungguh hipokrit lagi medioker, bahkan untuk pembaca pemalas macam saya.

Bapak dan kawan-kawan seangkatan menjadikan Lekra sebagai musuh bebuyutan. Katanya, karya-karya Lekra konon murni propagandis dan mengabaikan keindahan. Tapi setelah Lekra dihancurkan, kok giliran Bapak bikin puisi yang aromanya persis “politik sebagai panglima”? Lha gimana? Anda menuding lawan Anda otoriter, tapi toh, empat jari Anda tertuju ke dada Anda sendiri, Tuan Taufiq. IQ?

Pak Taufiq, “kebebasan” yang Anda rayakan di Tirani dan Benteng, berdiri di atas bangkai jutaan manusia yang dibunuh oleh rezim yang bapak dukung.

Tapi tak usah murung, Pak. Radovan Karadjic, penjahat perang asal Balkan, juga sempat jadi penyair kok. Bedanya, Radovan berakhir sebagai pembantai massal sementara bapak mentok-mentoknya cuma jadi cheerleader pembunuh.

Di Frankfurt Book Fair, saya kutip dari Radiobuku, Pak Taufiq sempat menyatakan bahwa “penahanan politik, pemecatan, pembunuhan massal, breidel penerbitan dan koran adalah sebagian dari penyakit yang ditularkan komunisme. Termasuk komunisme itu rajin membikin jargon, seperti 7 setan desa, 3 setan kota, kapbir, dan sebagainya.”

Begini, Pak Taufiq. Di bawah rezim yang Anda sebut “Tirani” itu sejumlah buku memang dilarang. Dan melarang penerbitan buku jelas salah dan tidak beradab. Bapak masih ingat berapa jumlah buku terlarang di zaman Soekarno? Banyak, tapi tidak beratus kali lipat seperti di era Orde Baru. Dan ingat, yang sempat dilarang beredar saat itu bukan hanya Demokrasi Kita-nya Hatta, tapi juga kumpulan puisi Sabar Anantaguna, Agam Wispi, serta Hoakiau di Indonesia-nya Pramoedya Ananta Toer—orang-orang Lekra, musuh politik Bapak.

Bapak ingat aktor utama pelarangan buku saat itu? Ya, persis. Angkatan  Darat, kelompok yang ikut mendesain gerakan mahasiswa elit tapi medioker macam KAMI itu. Masih pegang kartu anggotanya, Pak?

Oh iya, Bapak juga bilang “Ideologi ini sudah bubar dan berantakan. Diketawakan orang. Tidak bisa lagi dijual. Apa yang mereka lakukan? Balas dendam. Ujug-ujug mengatakan diri dizalimi. Musabab mereka mendapatkan derita itu tak disebut. Pemberontakan Madiun 1948 yang jadi musabab mereka tak pernah sebut.”

Gini ya, Pak, kalau ideologi komunis sudah bangkrut, ngapain pula situ pake jiper segala? Kualitas statemen sampeyan  itu sama seperti cowok ganteng tapi ababil yang takut gebetannya diembat kompetitor lalu bilang ke gebetan kalau si kompetitor itu buruk rupa, tukang maksiat, pembunuh berdarah dingin, dsb. Padahal si mbaknya itu nggak tertarik sama sekali.

Kalau Bapak bersikeras bahwa pembantaian ’65 wajar dilakukan karena PKI memburu ulama pada 1948, Bapak tahu jumlah korban di kalangan komunis pun tak kalah banyaknya di sana? Toh, kalau memang Bapak ingin menuntut PKI atas peristiwa Madiun, silakan perjuangkan saja supaya kasusnya diusut. Selama ini kan kita cuma dengar tradisi lisan saja, yang isinya “Katanya kyai A mati disembeli PKI” “Kata kakek saya, kyai B dikubur di sumur C”, dan “menurut cerita tetangga buyut saya, waktu itu Madiun banjir darah selutut…”

Oi, Pak Taufiq, memangnya keadilan bisa dituntut cuma dengan modal “katanya…”  dan “menurut mbah gue”?

Oh iya, Pak Taufiq, seandainya benar PKI adalah musuh bebuyutan seluruh kaum santri, kenapa persis pada 1965, tujuh belas tahun pasca-Madiun dan beberapa bulan sebelum pembantaian, NU Banyuwangi bisa berkoalisi dengan PKI untuk memenangkan kursi bupati, ya? 

Soal PKI demen bikin jargon, jauh-jauh hari sebelum datang ke pameran buku di Frankfurt, Bapak sendiri ‘kan gemar menyebarkan jargon-jargon yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Itu KGB, alias ‘Komunis Gaya Baru’, misalnya, yang tidak pernah Bapak jelaskan detilnya, apaan coba? Dalam mahakarya Bapak, Katastrofi Mendunia: Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma, Narkoba, juga gak ada tuh penjelasan tentang apa iKGB.

Anyway, Pak, saya sangat gembira lho ketika tahu ada buku mengarang indah tentang komunisme seperti mahakarya Bapak itu. Kalau kita lihat buku-buku antikomunis terbitan kalangan konservatif di luar Indonesia sana, judulnya pun sama imajinatifnya, dari Marx and Satan hingga Communism, Hypnotism, and The Beatles.

Pasti Bapak paham betul pakemnya: yang buruk-buruk, yang mistis, yang saru, yang satanis, silakan disandingkan dengan kuminis, sementara yang baik-baik jelas pasti datang dari Allah. Dan… orang-orang yang setipe dengan Bapak. Eh.

Contoh-contoh ‘kekejaman komunis’ yang bapak tulis di buku itu rata-rata datang dari dunia luar, dari negeri Pol Pot, Mao, Stalin, Lenin, dst. Hanya karena di negeri-negeri itu banyak orang mati di saat komunis berkuasa, lalu Bapak berasumsi bahwa seandainya kaum kiri berkuasa di Indonesia, pasti korbannya juga akan banyak—tanpa mempertimbangkan besarnya pengaruh  Perang Vietnam terhadap kematian 4 juta korban di Kamboja dan Perang Dunia II terhadap belasan juta korban di Rusia.

Saya penasaran, apakah Bapak pernah tahu betapa kacaunya statistik korban di awal kekuasaan Mao Zedong di Tiongkok, sehingga orang yang mati lantaran bencana banjir sampai tewas ketabrak sepeda pun dihitung sebagai korban Komunisme? Atau jika Bapak mau bersikap adil sedikit, kenapa jumlah kematian prematur akibat kanker di AS  tidak sekalian dimasukkan dalam angka korban persekongkolan kapitalisme medis dan industri asuransi?

Kalaupun PKI berkuasa, Pak, ada jutaan skenario yang mungkin terjadi, dan kematian jutaan orang di bawah PKI cuma satu kemungkinan saja. Tapi yang jelas dan sudah kejadian sih ada (minimal) tiga juta orang mati di bawah rezim yang Bapak glorifikasikan di tahun 1960-an itu. 

Delapan tahun silam, Pak Taufiq, saya sempat melihat spanduk di Jogja bertuliskan “Selamatkan Indonesia dari Narkoba, AIDS, dan Komunisme Gaya Baru.” Rasanya saya ingin memberi selamat kepada Bapak sebab KGB sekarang sudah masuk ‘Kamus Politik Warung Kopi Indonesia’.  Dan apabila Pak Taufiq ada waktu, kami mohon, mohon sekali agar Bapak menyelenggarakan lokakarya penulisan untuk kami Jonru-wannabe ini.

Biar apa?

Biar kami bisa mengubur akal hidup-hidup seperti Bapak. 





Penulis
Windu Jusuf

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/10/pak-taufiq-ismail-ajari-kami-mengubur-akal-dong/’][/link]

Tinggalkan Balasan