Nusagatizen

Ngampus dengan Menggendong Anak, Mengapa Tidak?

Perguruan Tinggi atau lebih sering disebut dengan kampus adalah jenjang pendidikan formal tertinggi di Indonesia. Meskipun secara umum mahasiswa yang sudah menikah dan memiliki anak boleh menuntut ilmu di kampus namun, prosentase mahasiswa jenjang S1 yang telah menikah dan memiliki anak sangat sedikit dibanding mahasiswa yang masih jomblo. Terlebih di kampus negeri.

Alasan paling banyak yang sering kutemui dari para mahasiswa yang tidak mau menikah selama pendidikannya di kampus belum selesai adalah karena takut pendidikannya terganggu setelah mereka menikah dan memiliki anak. Selain itu, banyak juga orang tua yang tidak mengijinkan anaknya menikah dulu selama belum lulus kuliah. Alasannya sama yaitu takut pendidikan anaknya terganggu dan berakhir putus kuliah disebabkan karena pernikahan.

Cerita ngampus sambil gendong anak sebenarnya sudah banyak kudengar. Salah satunya dari penuturannya pak Didik, tetanggaku yang sekarang menjadi guru SD di salah satu satuan pendidikan di daerah Pabelan kabupaten Semarang. Beliau sering membawa anaknya ke kampus untuk mengikuti suatu perkuliahan di kampus UKSW Salatiga ketika masih aktif sebagai mahasiswa dulu. Beliau pernah dipersilahkan untuk keluar dari kelas (kalau tidak boleh dikatakan diusir) oleh salah satu dosen karena anaknya pak Didik rewel dan dianggap mengganggu PBM di kelas. Pak Didik pun keluar tanpa berusaha membela diri.

Beberapa hari ini, aku dan Ayi sering ngampus sambil gendong si K bergantian. Tujuan kami ke kampus adalah untuk mengurus pendaftaran munaqosah (sidang skripsi) untuk Ayi. Menemui dosen untuk konsultasi skripsi dan menemui pejabat kampus seperti wakil dekan sambil menggendong anak sudah biasa kami lakukan. Bukan karena terpaksa! Bukan! Kami sangat senang mengajak si K ke kampus meskipun banyak tatapan-tatapan aneh yang menuju ke kami.

Hari ini, agenda kami ke kampus adalah untuk mengurus pembayaran SPP yang sudah 3 semester tidak kami bayar. Petugas bagian keuangan tampak sinis melayani mahasiswa bandel seperti kami. Masak 3 semseter nunggak. Memangnya kampusnya nenekku? 😅 Namun ajaibnya beberapa saat kemudian petugas yang melayani tersebut menyulam senyum juga.

Sejak dulu, memang aku menginginkan menikah dulu sebelum lulus kuliah. Alasannya sih sederhana. Agar ketika garap skripsi bisa ditemani istri. Bukan ditemani pacar yang haram untuk disentuh. Membayangkan ketika garap skripsi tiba-tiba dibuatkan kopi dan dipeluk dari belakang. Alangkah romantisnya. 😄

Sekarang, Ayi sedang menunggu hari untuk ujian skripsi dan dilanjutkan dengan wisuda. Setelah itu, sesuai jadwal yang telah ditetapkan, sebenarnya adalah giliranku untuk menyelesaikan skripsi. Kita lihat saja bagaimana kelanjutan kisahnya. Stay tune up, yah! 😉

Cheers
Nusagates

Tahukah Kamu Arti tektit?

tek·tit /téktit/ n Geo butiran mirip kaca yang diduga berkaitan dengan meteorit
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close