Nusagatizen

Nasi Goreng Kampung, Nostalgia Masa Lalu

Hari mulai beranjak sore, rintik hujan mengguyur Semarang. Enaknya makan malam nanti yang hangat-hangat saja. Aku pergi ke dapur dan beristighfar saat menyadari jika stok sayur yang tersisa tinggal lalapan. Sepertinya memasak nasi goreng kampung menjadi pilihan yang pas saat ini, super simpel dan enggak butuh bahan yang banyak.

Jaman dulu, jika masih ada nasi sisa semalam, Ibu pasti membuat nasi goreng untuk sarapan. Biasanya nasi sisa kami dapatkan dari berkat pengajian. Nasi goreng super sederhana yang akan membangkitkan kenangan masa lalu saat menikmatinya. Masa-masa dimana untuk memasak harus menyalakan kayu bakar di tungku. Masa-masa dimana tangan dan mukaku tercoreng legamnya arang ketika nekat memasak sendiri.

Masa-masa…. es krim hanya bisa kubeli saat lebaran tiba. Hahaha, masa-masa Taro dan Blue Band termasuk makanan mewah, yang belinya cuma di momen-momen istimewa. Apalagi es krim Vienetta, aku tak punya kenangan tentangnya.

Masa-masa prihatin yang ngangeni. Saat keterbatasan justru membuat ikatan semakin erat. Saat ketiadaan bumbu-bumbu pendamping justru menciptakan rasa khas yang dirindu.

Uwuwuwu, emak K jadi melankolis maksimal. Ciri khas nasi goreng kampung adalah enggak pakai bahan neko-neko dan dimasak super kilat. Warnanya putih kecoklatan, warna coklatnya alami dari penggorengan, bukan dari kecap.

Nasi goreng kampung menjadi nasi goreng favorit abah K. Nasi goreng super sederhana yang enggak membutuhkan banyak bahan dan banyak waktu. Abah K justru enggak suka nasi goreng yang kebanyakan bumbu, baginya kebanyakan bumbu malah mengacaukan rasa.

Nasi goreng kampung menggunakan nasi yang sudah dingin dan keras. Khas nasi sisa. Kalau kita memakai nasi hangat dari magic com, rasa khas nasi goreng kampung bakal hilang. Apalagi jika nasi masih pulen, hilang sudah rasa khas nasi goreng kampung yang diidamkan.

Resep Nasi Goreng Kampung

Bahan:

  • Nasi putih yang agak keras, nasi sisa semalam lebih manteb.
  • Minyak goreng secukupnya, aku pakai satu sendok makan untuk satu piring nasi.

Bumbu:

  • Bawang merah, iris tipis
  • Bawang putih, iris tipis
  • Garam
  • Cabe sesuai selera
  • Sledri, daun onclang (opsional, namanya juga nasi goreng kampung, yang ada di dapur saja)
  • Telur (opsional, jika menggunakan telur, maka telurnya harus diorak-arik terlebih dahulu dengan sedikit minyak panas, kemudian diangkat. Dimasukkan ke dalam wajan setelah memasukkan nasi)

Cara Memasak:

  1. Panaskan minyak di wajan.
  2. Masukkan bawang merah, bawang putih. Oseng sampai harum.
  3. Masukkan garam, onclang dan sledri (opsional), oseng sebentar.
  4. Masukkan nasi. Aduk rata. Pastikan kepalan nasi terurai sempurna. Hahaha, aduh, itu kepalan-kepalan nasi yang enggak terurai biasanya mengganggu rasa. 🙂
  5. Angkat dan sajikan nasi goreng kampung ketika masih mengepul asap panasnya.

Nasi goreng kampung ini lebih sedap jika disajikan bersama kerupuk dan aneka lalapan. Abah K suka makan nasi goreng kampung berteman kerupuk, lalap timun, terong. Semenjak menerapkan food combining, porsi lalap kami lebih banyak daripada porsi nasi.

Lalap yang bisa dimakan berdampingan dengan nasi goreng antaralain; kolbis yang diiris lembut, timun, tomat, kacang panjang, terong, seledri. Kalau sedang kurang sajen, kami juga melalap kemangi dan kenikir bersama nasi goreng kampung. Hahaha, dasar pemakan segala, sembarang-barang dimakan untuk lalap.

Ah iya, nasi goreng kampung ternyata cocok untuk segala kondisi, tetep food combining friendly karena tidak menyertakan protein hewani. Penyajiannya yang cepat juga menjadi pilihan kala malas masak atau dikepung dengan banyak deadline.

Kata Kunci

Widi Utami

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close