Nusagates Notes

Menyikapi Masakan Istri Yang Tidak Enak

Sebuah Catatan Kehidupan

Aku memiliki nafsu makan yang labil. Terkadang, aku  ingin makan terus tak berkesudahan namun di lain kesempatan nafsu makanku menurun. Hal ini sering menjadi polemik dalam berumah tangga. Bukan karena ada atau tidak adanya makanan yang menyebabkan polemik melainkan menu apa yang tepat untuk disuguhkan padaku saat itu. Widut sering bersungut-sungut ketika mendapatiku tidak begitu berselera makan.

Memiliki Istri Tidak Pandai Memasak

Masalah masakan sebetulnya tidaklah menjadi masalah bagi rumah tangga kami. Selain ibu mertuaku mengelola warung makan yag selalu sedia makanan, di sini juga banyak warung makan yang bisa dipilih sesuai selera makan saat itu. Namun agaknya hal itu tidak membuat Widut, istriku berpangku tangan dan tingal mengambil makanan ke Warung ibu atau beli di warung tetangga jika mau makan. Ia tetap masak meskipun sebetulnya tidak pandai.

Ketidakpandaian Widut dalam memasak sering kali membuatnya menggerutu ketika mendapatiku tampak tidak selera makan. Ia menyangka kalau ketidakseleraanku makan saat itu disebabkan oleh rasa masakannya. Padahal sebetulnya memang karena nafsu makanku sedang menurun. Entah disebabkan karena kelelahan atau pusing memikirkan kodingan yang tak kunjung ada titik temu.

Widut menyadari kalau ia tidak pandai masak. Untuk itu, ia sering bertanya padaku tentang menu apa yang sedang ingin kumakan meskipun sering kali aku menjawab dengan kata “terserah”. Ia tak kapok-kapok bertanya padaku tentang hal itu meskipun selalu mendapat jawaban yang sama. Ia pun berusaha memperbaiki citarasa masakannya sesuai apa yang aku sukai. Selain belajar resep masakan dari Internet, ia juga tanya resep masakan dari ibuku (mertuanya).

Selera Makanan Yang Berbeda

Kami merupakan pasangan suami istri yang berasal dari wilayah yang berbeda meskipun sama-sama dari Jawa. Budaya memasak yang dilakukan pada daerah asal kami masing-masing ternyata berbeda. Hal ini menyebabkan rasa masakan yang dihasilkan juga berbeda.

Aku sebetulnya masih belum bisa move-on dari masakan ibu kandungku. Dulu, selama bertahun-tahun di Surabaya, aku tidak bisa menyesuaikan lidahku dengan masakan Surabaya. Hal itu terulang ketika aku tinggal di Salatiga, di rumah mertuaku. Masakan ibu mertua maupun masakan Widut belum mampu membuatku move-on dari masakan ibu. Hal ini tentu saja diketahui oleh Widut.

Dengan segala kebesaran hatinya, Widut mengalah dan memilih menyesuaikan selera makanannya denganku. Ia tidak ingin jerih payahnya memasak tidak bisa kunikmati. Untuk itu, ia berusaha terus belajar memasak dan sengaja meminta penilaianku tentang masakannya itu.

Menilai Masakan Istri

Setiap kali Widut menyuguhiku makanan yang dimasak olehnya, ia akan bertanya tentang rasa makanan itu. Aku pun menjawab dengan jujur. Jawaban yang sering kulontarkan antara lain: kurang pas, sudah pas, atau cocok. Aku tidak pernah mengatakan tidak enak untuk menilai masakan siapapun.

Ketika aku menapati makanan yang disuguhkan Widut tidak sesuai dengan seleraku maka aku akan mengatakannya dengan jujur. Bahasa yang kugunakan antara lain: Masakannya enak tetapi aku kurang suka, Masakannya kurang pas, mungkin kalau ditambah ini jadi lebih pas, masakannya kurang sedikit ini, masakannya kurang pas tapi aku tdak tahu di mana letak kekurangannya. Aku mengatakan apa yang aku rasakan dengan bahasa yang sederhana dan kadang dengan bercanda meskipun tidak sesuai yang diharapkan Widut. Hal itu kulakukan agar ia bisa belajar daripada aku selalu mengatakan enak padahal sebetulnya tidak  yang akan membuatnya berhenti belajar karena merasa sudah pandai memasak. Lagi pula ketidakjujuran pada masakan istri boleh jadi membuatku  diam-diam mendekati istri tetangga yang jago masak untuk memintanya memasak. Akumulasi ketidakseleraan makan masakan istri bisa memicu untuk PDKT pada wanita lain. So, aku pilih jujur saja padanya. Lagipula ia memang suka bereksperiman dalam hal masakan.

Pencapaian Widut

Di tahun ketiga pernikahan kami ini, Widut sudah mulai bisa memasak yang sesuai dengan seleraku. Beberapa menu makanan yang disuguhkan sudah sesuai dengan apa yang aku sukai. Tentu hal ini memberi kebahagiaan tersendiri untuknya juga untukku.

Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: budairi@nusagates.com. Hubungi via 0822 2500 5825

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close

Adblock Terdeteksi

Tampaknya kamu menggunakan Adblock. Iklan kami aman dan tidak mengganggu kamu mengunjungi blog ini. Sudilah kiranya mematikan Adblock untuk blog ini untuk mendukung kami.
Lewat ke baris perkakas