Nusagatizen

Mengukur Kepantasan Diri Menjadi Suami

Aku sebenarnya malu mau menulis catatan ini. Ini bukanlah masalah yang perlu dibicarakan pada ranah publik. Namun aku bingung bagaimana cara menyampaikan hal ini padamu. Ketika kau sudah tak sudi lagi menatapku ketika aku sedang bicara, aku tak punya pilihan lain selain menahan diri dan berusaha meluapkannya ke dalam tulisan. Ketika aku menulisnya di lembaran kertas, lembaran itu tak menarik untuk dibaca. Aku hanya tau kau menyukai Facebook, Whatsapp, dan teman-temanmu yang ada di sana lebih dariku. Itu bisa dilihat jumlah senyumanmu lebih banyak ketika kau bermain keduanya plus Instagram dibandingkan ketika berbicara denganku.

Aku tidaklah sedang cemburu atau iri atas perlakuanmu pada teman-temanmu. Aku hanya ingin meluruskan mengenai  aturan GBHB atau Garis Besar Hidup Bersamaku yang telah kita sepakati bersama. Aku harap kamu masih ingat ketiga syarat itu dan aku harap kamu tidak muak mengingatnya karena kalau kamu muak aku akan berhenti mengawasimu dan menasehatimu atau mengingatkanmu. Sekecil apa pun itu bentuknya.

Pertama, kita sepakat untuk membangun rumah tangga. Ini adalah garis dasar yang di dalamnya berisi banyak garis-garis cabang yang rumit.

Dulu, kita sepakat ketika kita menikah maka kamu bersedia untuk tidak bekerja. Namun, kesepakatan itu batal karena nyatanya kamu ingin bekerja. Ya! Meskipun pekerjaan itu di rumah tetapi tetap menguras waktumu.

Aku sedih ketika melihatmu berubah. Kamu begitu bersungguh-sungguh dan penuh semangat ketika mengurus dan melayani client. Bahkan! Sering kali kau menawarkan layan-layanan tambahan pada mereka yang layanan itu kamu gratiskan. Kamu tampak tak memiliki beban dengan hal itu. Dalam hal ini, aku iri. Kamu tentu ingat bagaimana caramu berkespresi dan menanggapiku ketika aku mengatakan “reload” sambil menyodorkan gelas.

Aku tahu kalau dia adalah sahabatmu. Sahabatmu yang sangat dekat. Tapi caramu membantunya sampai membuatmu abai pada keluarga adalah salah. Memang prosentase abai itu masih sedikit. Tapi aku melihat statistiknya cenderung meningkat.

Aku bukanlah super power yang bisa melakukan semuanya sendiri atau seorang raja yang harus selalu dilayani, bukan. Aku bukan keduanya. Aku hanya ingin membangun keluarga seperti orang lain. Saling mengisi kekosongan. Saling membantu. Saling memberi semangat. Dan saling-saling yang konstruktif lainnya.

Aku malu! Sungguh malu ketika piring atau gelas yang bekas kugunakan dicuci ibu. Aku malu ketika ibu malah yang menyuguhiku minum. Aku malu ketika ibu membereskan tempat kerjaku karena aku ada undangan kendurian tiba-tiba dan aku belum sempat membereskannya.

Sekarang kita masuk ke hitung-hitungan.

Waktuku bekerja sering kamu rampas untuk menjadi karyawanmu. Ambil studi kasus yang terakhir saja. Berpa kali aku harus mengantarmu beli kertas, cari print, atau lainnya? Berapa kali kamu ngambek hanya gara-gara 1 urusan itu? Berapa persen produktifitasku terhambat ketika kamu ngambek? Kemudian coba jumlah semuanya kemudian bandingkan laba yang kamu dapat dibandingkan dengan waktuku yang kamu ambil dikalikan dengan hourly rate kerjaku.

Itu baru satu kasus. Belum lagi ketika kamu mendapat job dari kapitalis yang nyuruh aneh2 itu. Kalau sampe aku atau K usik sedikit saja sungutmu sudah tampak mengerikan.

Dah gitu aja. Kalau mau protes atau membalas serangan silahkan tulis di blog sendiri. Jangan ngerusuhi blog ini dengan komentar-komentar GJ. 😆😆😆

Tahukah Kamu Arti kiris?

ki·ris n 1 pohon kayu, akarnya dipakai untuk ramuan obat dan buahnya dapat dimakan, Belamcanda chinensis; 2 akar kiris; 3 buah kiris
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close