Nusagalture

Mengenal Seluk-beluk Rangkaian Nama Bayi Laki-laki Jawa

Dewasa ini, rangkaian nama bayi laki-laki Jawa mulai langka. Rata-rata memberikan nama anak dengan nama kearab-araban atau ke barat-baratan. Jika diperhatikan, nama laki-laki jawa biasanya sangat simpel, seperti Tukiman, Wagiman, Rabono, Sabar, Agus, Poniman. Emak K penasaran, bagaimanakah orang tua Jawa jaman dahulu menamai bayi-bayi mereka? Terinspirasi dari apakah? Brwosing sana-sini, emak K menemukan jurnal keren yang membahas nama Diri Etnik Jawa dan merasa malu karena tidak tahu apa-apa soal penamaan diri etnik Jawa.

Sistem Penamaan Diri Etnik Jawa

Dalam etnik Jawa, sistem penamaan dapat dibagi menjadi dua, yakni: nama alit, nama kecil yang biasa digunakan sebelum menikah dan nama sepuh yang digunakan setelah menikah. Nama  alit sendiri dibagi menjadi dua macam, yakni: nama yang diberikan kepada anak waktu selamatan pasaran atau puputan dan nama pengganti yang diberikan ketika anak sakit-sakitan. Masyarakat Jawa umumnya meyakini jika anak yang kabotan jeneng akan sakit-sakitan dan obat penyembuhnya adalah mengganti namanya dengan nama yang lebih ‘ringan’.

Nama sepuh juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni: nama yang diberikan karena pernikahan dan nama yang diberikan sehubungan dengan jabatan/ kedudukan. Emak K jadi ingat dengan Ibu yang lebih dikenal sebagai Siti Kamto dibandingkan Siti Rumzah, Kamto adalah nama Bapak. Mbah kakung yang lebih dikenal sebagai mbah mudin daripada nama aslinya hingga meninggal dunia karena beliau dulu pernah menjadi mudin–orang yang dipercaya untuk mengurus kematian–.

Fungsi Penamaan Nama Diri dalam Etnik Jawa

Penamaan diri dalam etnik Jawa memiliki fungsi tersendiri yang membuatnya terlihat unik.

  1. Sebagai pembeda. Fungsi nama disini hanya sekedar pembeda antara orang satu dengan orang lainnya, sebagai contoh: Agus, Suparlan, Poniman, Suraji.
  2. Sebagai penanda yang berkaitan dengan cita-cita atau harapan orangtua, seperti: Raharja yang artinya bahagia, Basuki yang artinya Selamat, Dian yang artinya cahaya, Arka yang artinya penerang.
  3. Sebagai penanda kehormatan yang diwujudkan dengan pelekatan bentuk honorifik (seperti Kyai, Ki, Nyi, nDara, Den) di depan nama diri. Seperti: Ki Ageng Serang, Kyai Nasrudin, nDara Bei. Wkwkwkwk, kalau nDara Bei ada di tembang dolanan jaranan. Jaranan-jarane jaran teji, sing nunggang nDara bei, sing ngiring para mentri Jeg-jeg nong, jreg-jreg gung Jeg-jeg gedebuk krincing Gedebug jedher Gedebug krincing Jeg-jeg gedebuk jedher.
  4. Sebagai penanda kewibawaan dengan yang ditunjukkan dengan pemilihan kata yang bernilai rasa hormat atau tinggi. Misalnya; Surya yang artinya matahari, Wibawa yang artinya wibawa.
  5. Sebagai penanda profesi yang dilekatkan pada nama kedua sebagai nama diri. Seperti, Agus Blanthik, pak Agus yang bekerja sebagai tukang jual-beli hewan.
  6. Sebagai penanda urutan dalam keluarga. seperti Dwi Cahyono, Cahyono yang merupakan anak kedua.
  7. Sebagai penanda historisitas yang ditunjukkan dengan acuan peristiwa atau keadaan lahir seseorang. Aku jadi ingat dengan adik sepupu yang diberi nama oleh bapak dengan Sidiq Krismanto karena lahir tahun 1998 saat Indonesia sedang mengalami Krisis Moneter.
  8. Sebagai penanda jenis kelamin yang ditunjukkan dengan pelekatan nama yang berasosiasi dengan jenis kelamin tertentu. Seperti; Priyatama, Pria yang utama,
  9. sebagai penanda religiusitas atau ideologis. Seperti Muslim yang artinya pria beragama islam, Kristiono, Pria yang beragama Kristen.
  10. Sebagai penanda kekerabatan yang ditunjukkan dengan pelekatan nama keluarga atau marga sebagai komponen kedua atau ketiga. Seperti; Basuki Wirasaputra.

Wah, ternyata dalem banget penamaan dalam etnik Jawa, ya. Itu baru Sistem penamaan diri etnik Jawa dan Fungsi Penamaan Diri Etnik Jawa, lho, belum tatanan rangkaian nama Etnik Jawa, seperti pakem -em, -man, konsonan intervokalis n-i-y. Lain kali deh, kalau emak K sedang kehabisan bahan ngeblog, mungkin bisa menulis tentang tatanan rangkaian nama pada Etnik Jawa. Sekarang cukup dulu, si K sudah memanggil-manggil mengajak bermain.

 

Sumber: Nama Diri Etnik Jawa, Ridha Mashudi Wibawa, Humaniora Volume XIII, Februari 2001

 

Pencarian Terkait:

Kata Kunci

Widi Utami

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain

2 komentar

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close