Nusagahealt

Mengenal Omprong, Cara Menghilangkan Sakit Gigi Tradisional dari Banjarnegara

Banjarnegara, kabupaten yang terletak di kawasan Dieng ini ternyata menyimpan pengobatan gigi tradisional yang ampuh, dikenal dengan omprong. Daerah yang terkenal dengan logat ngapaknya ini menyimpan kearifan lokal yang patut diacungi jempol. Masyarakat di daerah desa Tlahap, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, lebih percaya dengan cara menghilangkan sakit gigi dari ‘dukun’ yang ahli mengobati gigi dengan omprong dibandingkan pergi ke dokter gigi.

Masyarakat di Desa Tlahap, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara meyakini jika sakit gigi berlubang atau gigi bengkak disebabkan karena adanya ulat yang dikenal sebagai gendhon yang bersarang di dalam gigi yang berlubang atau gusi yang bengkak.

Omprong  merupakan pengobatan gigi tradisional dengan menggunakan media biji terong bulat atau terong duri yang dibakar dan asapnya disalurkan ke gigi melalui selang. Cara menghilangkan sakit gigi dengan cara di-omprong hanya bisa dilakukan oleh dukun yang sudah ahli di bidangnya. Di Desa Tlahap Dukun Gigi yang terkenal bernama Pak Slamet, yang mendapatkan ilmu omprong dari Bapaknya. Ilmu tersebut diwariskan secara turun-temurun, Bapak Slamet merupakan keturunan ketiga.

Pasien yang datang ke rumah pak Slamet diawali dengan konsultasi, bercerita tentang awal mula sakit gigi dan sejak kapan terjadinya sakit gigi. Setelah itu, pak Slamet akan memulai pengobatan Omprong untuk mengobati sakit gigi yang diderita oleh pasiennya. Omprong hanya mengobati sakit gigi berlubang dan gusi bengkak.

Alat–alat yang digunakan saat melakukan pengobatan gigi tradisional omprong ialah ampar dari kayu, lempengan besi, biji terong, minyak greng, seng yang berbentuk bulat, torong yang terbuat dari tempurung kelapa di kasih  elang untuk jalan asap. Kegunaan dari ampar kayu untuk menaruh air saat melakukan pengobatan, lempengan desi kegunaannya untuk menaruh biji terong dan minyak pada saat kondisi lempengan besi panas sehabis dibakar, biji terong dan minyak adalah media untuk pengobataan yang kegunaannya untuk mengobati dan mengeluarkan   ndhon atau ulat, seng yang bulat hanyalah untuk menganjal lempengan besi agar nantinya tidak mengenai air yang didalam ampar kayu, sedangkan corongnya yaitu untuk menutupi biji terong yang terbakar dan untuk mulut ke dalam corong tersebut.

Sebelum melakukan prosesi Omprong, pak Slamet berdoa agar Allah memudahkan pengobatan yang dilakukannya dengan membaca bismillah 7 kali dan al-fatikhah 1 kali. Bagi pak Slamet, kesembuhan hanya didapatkan dari Allah dengan memanfaatkan bahan-bahan yang didapatkan dari alam, yakni biji terong duri yang telah dikeringkan.

Pengobatan gigi tradisional omprong sangat menarik, karena pasien hanya memasukan mulutnya ke dalam corong yang diberi selang, terus menahan asapnya supaya tidak keluar dan hal ini akan berulang kali sampai biji terong yang digunakan sebagai salah satu media pengobatan habis terbakar. Tujuannya untuk menguarkan ulat (gendhon) yang
berada di dalam gigi berlubang.

Emak K membaca pemaparan ini dengan takjub. Di Salatiga juga ada pengobatan gigi dengan mengeluarkan ulat dari gigi berlubang atau gusi yang bengkak. Tetapi emak K enggak ngerti apakah cara yang digunakan sama dengan cara pak Slamet dari Banjarnegara atau tidak.

Pengobatan tradisional dengan cara di-omprong lebih dipilih oleh masyarakat karena menurut masyarakat pengobatan ini sangat manjur dan tidak menimbulkanb efek samping. Biaya pengobatajn Omprong yang lebih murah daripada berobat ke dokter gigi juga menjadi nilai plus bagi masyarakat desa Tlahap.

Kalau kamu sakit gigi, milih ke dokter atau di-Omprong? Hihihi. Emak K milih mana? Milih sehat. Heuheuuu.

Sumber: Agustino, Awang Syah. SISTEM PENGOBATAN GIGI TRADISIONAL OMPRONG DI KALANGAN MASYARAKAT DESA TLAHAP KECAMATAN PEJAWARAN KABUPATEN BANJARNEGARA (Skripsi). UNNES, 2015.

Tahukah Kamu Arti cilawagi?

ci·la·wa·gi n nenek dr moyang kita (jadi tingkat kelima dr kita, yaitu: orang tua, nenek, moyang, buyut, cilawagi)
Kata Kunci

Widi Utami

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close