Nusagates Notes

Mengajari Anak Menyukai Buku Sejak Kecil

Usia si K genap 2 (dua) tahun kurang 2 (dua) bulan lagi. Ia semakin aktif bergerak untuk menuruti keingintahuannya rasa melakukan sesuatu atau memainkan sesuatu. Aktivitas panjat-memanjat, mendaki gunung pasir, naik sepeda, ataupun bermain di dalam gerobak dorong menjadi sajian rutin setiap hari.

Si K termasuk anak yang super aktif. Ia tidak akan bisa diam dalam waktu yang lama. Ada saja yang dilakukannya. Dilarang melakukan a berganti melakukan b. Dilarang melakukan b berganti melakukan c dan begitu seterusnya.

Jadwal untuk menemani si K biasanya dibagi dua yaitu siang bagian Widut dan malam sampai si K tidur bagianku. Waktu persiapan tidur malam si K antara pukul 9.30 s/d 11. Sebelum rentang waktu tersebut, dia akan berontak jika diajak tidur. Aku mulai menemani si K biasanya mulai pukul 8 atau di atasnya. Tergantung sisa garapan yang perlu diselesaikan.

Kecerdikan si K sangat menonjol. Berkali-kali ia mampu menembus sistem pertahanan yang kami buat. Misalnya: ia bisa membuka lemari yang dikunci dengan cara yang tidak biasa. Ia bisa masuk kamar kerjaku meskipun sudah diberi pengait untuk mengunci. Ia pun sudah mampu memasang puzzle (memasang bentuk binatang pada tempatnya masing-masing di papan kayu) secara tepat sambil menyebut nama-nama binatang itu meskipun hanya pada akhiran bunyinya saja.

Koleksi buku si K cukup lumayan untuk anak seumuran dia. Biasanya memang setiap bulan kami beli buku dengan jatah masing-masing per bulan satu. Misal: bulan ini jatah si K beli buku maka bulan berikutnya jatahku dan Widut untuk membeli buku (kalau sepakat). Kalau Widut tidak sepakat dengan buku yang mau kubeli maka ia akan mendapat jatah beli buku sendiri di bulan ketiga. 

Buku bacaan yang kami beli untuk si K bermacam-macam. Ada yang berbahasa Indonesia ada yang berbahasa Inggris. Umumnya berupa suatu paket buku terdiri dari beberapa jilid yang membahas tema tertentu. Ada buku yang menekankan pada emosi, perilaku, pemahaman bentuk, binatang, fabel, atau tentang cerita biasa. Kami merasa kalau si K belum saatnya belajar aksara untuk itu, buku koleksi si K belum ada yang membahas mengenai pengenalan aksara. Kami fokus pada sisi psikologis, karakter, dan yang paling penting adalah mengenalkan buku sejak kecil.

Aku menilai bahwa kecerdasan si K turunan dari ibunya. Ia sangat cepat menguasai sesuatu yang diajarkan misalnya gosok gigi, minum sambil duduk, deklamasi lagu, minum menggunakan gelas, menumpuk pecahan genting menjadi suatu susunan, dll. Ia pun mulai tanggap menirukan adzan meskipun baru sepenggal-penggal. Selain itu, si K juga bisa mengerjakan sesuatu sesuai instruksi misalnya membuang sampah pada tempat sampah, mengembalikan sendal setelah di pakai ke tempatnya semula, mengambilkan sesuatu yang sudah diketahui objeknya. Ia sangat rajin mengikuti instruksi dan melakukannya dengan hampir selalu tepat.

Waktu yang digunakan untuk si K mengenal buku belum bisa teratur. Hanya saja, setiap hari pasti ada waktu khusus untuk mengajaknya mengenal buku meskipun hanya untuk memintanya mencarikan objek tertentu yang sudah dikenalkan padanya sebelumnya atau membacakan cerita yang ada di buku sambil meminta si K menebak objek yang ada di buku. Mendongeng adalah keahlian Widut. Jangan memintaku untuk mendongeng.

Selain karena faktor gen, melalui media buku, Widut kuakui telah berhasil mencerdaskan anak bangsa. Dia bahkan sampai ikut arisan buku untuk menadapatkan paket buku untuk si K yang harganya setara dengan laptop baru.

Kalau Widut lebih cenderung mengasah kecerdasan si K maka berbeda lagi ceritanya denganku. Aku lebih fokus ke pengembangan karakter meskipun sejauh ini belum bisa diukur titik keberhasilannya. Hanya saja, sejauh ini, aku melihat ada karakter yang sangat kuat pada si K. Karakter apakah itu? Rahasia.

Kami tidak memaksa si K untuk menyukai buku. Kami hanya mengenalkan. Kalau dia tertarik maka sesi pengenalan dilanjutkan kalau tidak ya dicoba lagi lain waktu. Kalau masih tidak tertarik biasanya ganti buku yang menarik perhatiannya. Kami juga tidak memaksa si K untuk hafal ini dan itu termasuk surat-surat pendek dalam Al-Qur’an. Biarkan si K memilih sendiri apa yang ingin dilakukan. Sejauh ini kami hanya memantau, mengingatkan, mengarahkan, dan mengajari apa yang kami rasa sesuai dengan karakter si K.

Doaku untuk si K masih tetap sama, yaitu:

 ربي هب لي من الصالحين

Tinggalkan Balasan