Nusagachild

Mengajari Anak Bersosial Sejak Kecil

Lingkungan sosial terkecil bagi anak adalah keluarga. Lingkungan sosial yang agak besar dari keluarga adalah lingkungan teman sepermainan. Mengajari anak bersosial sejak kecil bisa dilakukan melalui lingkungan keluarga sekaligus teman sepermainan.

Interaksi sosial dalam kerangka hubungan sosial sangat perlu diajarkan untuk anak agar ketika ia dewasa kelak mampu membaur dengan masyarakat luas dengan mengeliminir egosentris yang beraifat ke-akuan, suku, budaya, agama, maupun lainnya.

Apa yang perlu diajarkan pada anak terkait ilmu sosial?

Dewasa ini, sering kali kita jumpai orang yang tampak apatis misalnya: ketika ada orang kecelakaan ia tidak langsung menolong sebaliknya malah ambil ponsel untuk memotretnya atau selfi dengan background orang/kendaraan yang mengalami kecelakaan. Ada sekelompok orang yang menganggap kesialan yang dialami orang bersebrangan dengannya sebagai azab dan sebaliknya jika kelompoknya yang mendapat kesialan dianggap sebagai ujian. Sebetulnya banyak contoh kekeroposan sosial yang perlu dibahas. Kali ini pembahasannya dicukupkan pada apatis/apatisme saja.

Orang apatis merupakan orang yang cenderung acuh pada sesuatu yang tidak menyangkut dirinya. Di satu sisi ada kebaikan karena tidak mudah ikut campur urusan orang lain di sisi lain kekurangpeduliannya bisa menyebabkan orang lain celaka misalnya ketika melihat ada paku di jalan raya ia memilih diam.

Anak perlu diajarkan untuk menjauhi apatisme dengan cara mengarahkannya ketika bermain dengan teman. Misalnya ketika ada teman yang meminjam mainan anak maka kita perlu memberitahunya agar mengijinkan. Selain itu, kita bisa juga mengajari anak berbagi makanan miliknya maupun hal-hal kecil lainnya. Kebiasaan dari hal-hal kecil ini akan membentuk pola karakter anak yang cenderung peduli kepada sesama.

Ketika anak bertengkar dengan teman kemudian menangis, kita perlu membelanya untuk memberi rasa aman. Namun kita tidak perlu menyalahkan anak lain demi membela anak kita. Pembelaan yang dilakukan hanya sekedar memberi sinyal pada anak agar merasa dipedulikan. Setelah itu, orang tua perlu menjadi mediator bagi keduanya (anaknya dan anak yang menjadi lawan bertengkar). Tidak perlu terlalu menyalahkan anak maupun lawannya bertengkar.

Bagaimana jika anak cenderung pemalu?

Anak yang cenderung malu jika diajak berkumpul dengan orang banyak perlu semacam perlakuan khusus untuk mengalihkan perasaannya itu. Ketika ia berada di tempat umum, ia bisa difokuskan pada hal lain yang bisa mengalihkannya dari rasa malu yang berlebihan. Misalnya: memberikan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bisa dijawabnya, memberikan mainan yang bisa dimainkan dekat dengan kita, dll. Intinya, pada tahap ini, kita perlu melatihnya untuk percaya diri di depan umum terlebih dahulu. Disamping itu kita bisa mengajarinya bersosial dengan cara yang lain. Misalnya dengan simulasi lingkungan sosial buatan atau dengan membangun lingkungan sosial kecil yang dapat dijadikan sebagai ruang belajar baginya.

Apa keuntungan kemahiran bersosial bagi anak?

Anak yang mahir dalam bersosial ditandai dengan tidak pernah atau sangat jarang dikucilkan oleh teman-temannya. Tapi ingat! Ini bukanlah satu-satunya paramter untuk menguji kemahiran sosial. Kemahiran bersosial juga bisa ditandai ia sangat jarang atau tidak pernah mengajak atau menjadi provokator teman untuk mengucilkan teman lainnya atau ikut di dalam kelompok yang mengucilkan temannya.

Anak yang mahir dalam bersosial akan mudah mencari teman. Hal ini biasanya akan membuat anak tersebut berwawasan luas. Kemahiran bersosial akan memudahkan anak ketika dewasa nanti untuk mendapatkan pekerjaan maupun jaringan bisnis. Seorang yang pintar bahasa pemrograman tanpa diikuti kemampuan bersosial akan kesulitan menerapkan bakatnya di dunia kerja karena di dunia kerja bukan hanya mesin dan komputet saja yang dihadapi. Ia perlu diskusi dengan anggota tim, client, atasan, maupun orang lain terkait dengan project yang dikerjakannya. Banyak orang yang sebetulnya sangat menguasai bidang tertentu namun karena kemampuan sosialnya minim sehingga membuatnya tersingkir dari dunia kerja.

Tinggalkan Balasan