Mendidik Anak ala Rasulullah

Mengapa para sahabat Rasulullah mendapat julukan Ruhbanullail wa fursanunnahar? Yups! Tentu saja karena di setiap malam mereka seperti pendeta dalam ibadah dan mendekatkan diri mereka kepada Allah, di siang hari mereka seperti tentara berkuda dalam perjuangan. Mereka membantu Rasulullah menegakkan agama Islam. Selain itu, Rasulullah menyebut mereka sebagai generasi terbaik.

Bagaimana bisa? Tentu saja karena Rasulullah mendidik mereka dengan cara yang sangat baik.

Oleh karena itu, Islam menceritakan bagaimana Rasulullah mendidik para sahabat beliau, dan mencatat cara didik beliau sebagai pola asuh yang sangat baik untuk diterapkan dalam mendidik anak agar melahirkan generasi yang baik, berbobot dan mampu meneladani Rasulullah serta sahabat beliau.

Allah berfirman:


{ لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ }
[Surat Ali ‘Imran: 164]

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Bagaimana penjabaran nya? Simak penjelasan dibawah ini, ya!

Mendidik Anak ala Rasulullah 1
Mendidik Anak ala Rasulullah 2

Mengajarkan membaca Al-Quran

Pertama-tama, Rasulullah diutus untuk membacakan Al-Quran pada sahabatnya. Maka kita teladani beliau dengan mengajarkan Al-Quran pada anak-anak kita. Tentu saja cara mengajarkan nya sesuai dengan usia dan kemampuan anak, ya. Mulailah dengan mengajak mereka menghafal surat-surat pendek, dengan cara yang sederhana saja. Misalkan saat anak main, kita perdengarkan satu ayat. Tidak masalah jika sampai beberapa hari anak belum hafal.

Tidak usah tergesa-gesa, sebab Al-Quran itu sendiri di turunkan oleh Allah kepada Rasulullah dalam kurun waktu 23 tahun, yang mana dari sini bisa kita fahami bahwa menghafal atau mempelajari Al-Quran tidak harus dalam masa yang singkat.

Luabah Aly

Kalau anak sudah mulai bisa menghafal, berikutnya perkenalkan mereka pada huruf hijaiyah. Sedikit demi sedikit memang, dan pelan-pelan, karena mereka memiliki usia belajarnya sendiri. Kita hanya perlu mengenalkan kebiasan baik terlebih dahulu pada mereka.

Di riwayatkan dr Imam Addailami, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya:

“Berilah teladan pada anak-anakmu dalam mencintai 3 perkara. Mencintai Nabinya, mencintai keluarga Nabinya, dan mencintai Al-Quran. Karena sesungguhnya pembawa Al-Qur’an akan berada dalam Naungan Allah bersama para Nabi dan KekasihNya di hari tak ada naungan kecuali naungan dariNya.”

Kita diperintahkan oleh Rasulullah utk memberi teladan yg baik dalam 3 hal tersebut. Menjadi teladan maknanya kita sendiripun melakukan dan mencontohkan hal tersebut. Maka kita tunjukkan pada anak-anak kita bahwa kita mencintai Rasulullah, dengan mengenalkan mereka pada beliau. Kita tunjukkan bahwa kita mencintai keluarga Rasulullah, disini yang di maksud dengan keluarga Rasulullah bukan hanya keturunan beliau, namun juga memasukkan para wali dan alim ulama.

Kita ajak anak-anak kita untuk ziarah pada keluarga Rasulullah. Kita tunjukkan bahwa kita mencintai Al-Quran dengan cara perbanyak membaca Al-Quran di hadapan anak-anak kita. Dengan begitu akan lebih mudah untuk mengajarkan mereka mencintai 3 hal tersebut.

Oiya, usahakan saat kita mengajak anak untuk menghafal Al-Qur’an, kita sendiri yang membacakan ayatnya, ya. Sebab Al-Qur’an akan ia baca sepanjang hidupnya dan bacaannya itu akan menjadi amal jariyah kita serta orang tua maupun guru yang mengajari kita.

Lubabah Aly

Memang berat, dan lebih susah daripada mengajari membaca atau menulis. Sebab mengajari mereka membaca Al-Quran adalah amal dan ibadah besar yang akan sampai hingga ke akhirat nanti. Jadi tidak apa-apa, sulitpun tak mengapa, tetaplah semangat mengajari anak-anak kita membaca Al-Quran. Ingatlah perjuangan Rasulullah saat menerima Al-Quran, hingga sampai pada kita, hingga kita lanjutkan pada anak-cucu kita.

Mengajari Akhlaqul Karimah

Kedua, Rasulullah mensucikan jiwa para sahabat dengan mengajarkan akhlaqul karimah. Banyak sekali hadits yg menceritakan bagaimana Rasulullah mendidik sahabat beliau dengan akhlaqul karimah. Ketika beliau menganjurkan untuk memaaf, untuk tidak marah, untuk saling menghargai.

Pastinya kita sudah sangat familiar dengan hadits beliau yang artinya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.”

HR Baihaqi

Merujuk dari hadits tersebut, maka hal kedua yang harus kita terapkan setelah mengajari anak-anak kita membaca Al-Quran adalah mengajarkan akhlaq-akhlaq yang baik terhadap mereka. Kita perhatikan tingkah lakunya, perbuatannya, ucapannya. Bagaimana cara kita menghadapi mereka saat bertengkar dengan temannya, saat mereka kecewa, saat mereka bertutur kata dengan yang usianya lebih tua.

Tentu saja kitapun harus mencotohkan akhlaq-akhlaq itu pada mereka dari diri kita sendiri. Jadi jangan berhenti memperbaiki kualitas akhlaq kita, ya, karena anak-anak kita akan selalu melihat pada kita dan meniru kita. Jadikanlah diri kita sebagai role model terbaik untuk mereka. Karena jika mereka sudah menjadikan kita sebagai role model-nya, maka akan lebih mudah mendidik mereka. Kita tanamkan dulu kepada mereka rasa cinta dan kasih sayang.

Mengajarkan Ilmu Agama

Hampir seluruh hadits yang kita pelajari menceritakan ketika Rasulullah mengajari para sahabat ilmu Agama, bukan? Bahkan istri beliau, sayyidah Aisyah adalah termasuk Almuktsirun, yaitu sahabat yang meriwayatkan lebih dari 10 ribu hadits. Beliau adalah seorang pengajar ilmu agama. Dan hal itu dilanjutkan sampai sekarang, sampai kita mengenal ulama-ulama kaliber ahli hadits, ahli tarikh, ahli fiqih dan lain sebagainya.

Itulah mengapa ketika anak kita memasuki usia belajar, alangkah baiknya jika hal pertama yang kita ajarkan adalah ilmu agama. Kalaupun kita belum mumpuni mengajarkan ilmu agama pada anak-anak kita, maka serahkanlah mereka pada Guru yang memiliki sanad yang menyambung kepada Rasulullah. Daftarkan mereka ke madrasah diniyah, atau ketika besar masukkan mereka ke Pesantren.

Ingat ya, hanya pada guru yang memiliki sanad bersambung pada Rasulullah. Jangan asal-asalan karena ilmu agama adalah bekal mereka dunia akhirat.

Tapi anak masih kecil, masa iya mau mengajari mereka ilmu agama? Iya, memang harus mengajari mereka ilmu agama, sesuai usia mereka. Tidak perlu muluk-muluk anak harus sudah paham materi hadits, misalkan, atau harus menerapkan hukum fiqih sejak dini. Beri bekal-bekal kecil saja. Misalnya:

  • Kenalkan mereka pada Allah dan Rasulullah,
  • Ajak mereka shalat,
  • Kenalkan apa itu najis,
  • Beri mereka pengertian tentang sedekah.

Mendidik mereka dengan akhlaqul karimah juga artinya mengajarkan ilmu Agama. Jadi jangan artikan setinggi langit, ya! Kita saja yang sudah dewasa belum sepenuhnya paham tentang ilmu agama, kok. Apalagi anak kecil. Hehehe

Mengajarkan ilmu pengetahuan umum

Apakah Rasulullah hanya mengajarkan ilmu Agama saja? Tentu saja tidak. Rasululla hpun mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Akan tetapi tidak sebanyak ilmu Agama. Itulah mengapa ilmuwan-ilmuwan Islam tidak sebanyak ulama ahli Agama.

Jadi, tetap ajarkan anak kita ilmu pengetahuan umum, meski di urutan terakhir. Karena anak-anak hidup di dunia, mereka pun membutuhkan ilmu pengetahuan umum itu untuk bekal hidup mereka di dunia.

Hanya saja jangan sampai karena kita fokus dengan pendidikan mereka dengan ilmu pengetahuan umum, sampai kita lupa mengajarkan ilmu agama pada mereka.

Lubabah Aly

Lebih mudahnya, masukkan mereka ke bangku Sekolah setelah kita para orang tuanya sudah mengajarkan mereka cara membaca Al-Quran, mendidiknya dengan akhlaqul karimah dan membekalinya dengan ilmu agama.

***

Itulah pola asuh dalam Islam untuk mendidik anak yang sesuai dengan ayat dan tata cara Rasulullah mencetak para sahabat. Sedikit banyak semoga kita bisa mengamalkannya walau hanya beberapa persen, dan semoga tulisan ini bermanfaat.

Sampaikan pendapatmu di sini.

Bacaan Menarik Lainnya

Tanggapan Kamu?

Baru Terbit