Nusagates Notes

Menangani Anak Kecil Yang Sedang Sakit

Sejak sebalum menikah, aku sudah terbiasa merawat anak kecil. Mulai dari adikku sendiri, sepupuku yang yatim, sepupuku yang ditinggal menjadi TKI, sampai keponakanku yang saat itu tinggal serumah denganku. Hal itu menjadi bekal yang luar biasa berguna ketika aku dikaruniai seorang anak melalui rahim istriku, Widut.

Beberapa hari ini, anakku yang pertama, si K demam. Seperti biasanya, aku tidak cepat-cepat membawanya untuk periksa ke bidan atau dokter spesialis anak. Alasanku sederhana saja yaitu sakit yang seperti dialami si K adalah hal yang biasa terjadi bagi anak-anak sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Bagian dari peningkatan kekebalan tubuh.

Aku tidak ingin si K memiliki ketergantungan pada obat tertentu karena terlalu sering disuruh minum obat yang sebetulnya tidak perlu. Biasanya, aku hanya memberikan vitamin tambahan atau memberikannya buah-buahan yang ia suka. Intinya, biar si K tetap bertenaga meskipun sedang dalam kondisi kurang sehat.

Aku sebetulnya juga khawatir melihat si K yang tampak lemas. Namun, aku berusaha tetap realistis dengan apa yang sedang terjadi. Tidak membesar-besarkan masalah kesehatannya untuk mendapat perhatian atau alasan untuk mendapat libur kerja seperti orang tua yang mengidap Munchausen by Proxy (MSbP).

Mengenai ilmu kesehatan untuk anak, aku mendapat banyak dari seorang temanku, Lia yang kuliah di akademi kebidanan. Dulu, selama ia kuliah D3 Kebidanan (3 tahun), aku sering menemaninya mengerjakan Asuhan Kebidanan melalui sambungan telpon. Cerita-ceritanya ketika mengikuti praktik bidan juga menambah banyak wawasan pada memoriku. Banyak istilah atau kode-kode medis yang kuketahui darinya. Pun mengenai obat-obat alternatif yang bisa digunakan untuk anak sebelum memutuskan untuk membawanya ke dokter atau bidan. FYI, Lia bukanlah mantanku. Seharusnya tidak membuat Widut cemburu ketika aku membahasnya di sini. Lagipula aku sudah penah bercerita tentang hal ini.

Berdasarkan pengalaman, beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk membawa si K ke dokter antara lain:

  • Sakit si K sudah sampai hari ke 3 dan usahaku untuk menanganinya sesuai ilmu medis yang kupahami tidak sepenuhnya berhasil
  • Sakit si K langsung ke level tinggi. Misalnya suhu tubuhnya melebihi ambang batas yang telah kutentukan selama lebih dari 8 jam. Jika ini terjadi, aku tidak perlu menunggu 3 hari untuk membawanya periksa ke layanan medis

Intinya, aku melakukan diagnosa mandiri terhadap si K dengan peralatan dan pengetahuan yang kumiliki. Jika aku merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, aku akan membawanya ke petugas medis yang lebih kompeten. Hal ini bukan kulakukan untuk gaya-gayaan atau pelit untuk biayai kesehatan anak.

Aku teringat kisah kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompong. Ia ditolong oleh seseorang dengan melebarkan lubang kepompong agar si kupu bisa keluar dengan mudah. Setelah kupu itu keluar ternyata malah tidak bisa terbang karena cairan Hemolymph yang berasal dari kepompong yang seharusnya mengenai sayapnya ternyata tidak mengenainya sepenuhnya. Walhasil pertumbuhan sayap kupu itu tidak sempurna dan menyebabkannya tidak bisa terbang.

Widut biasanya lebih terlihat khawatir ketika melihat si K sakit. Ia berulangkali mengajakku untuk membawa si K pergi ke dokter. Apalagi jika ada tetangga yang menakut-nakuti dengan ini dan itu. Tapi aku tetap bergeming sebelum keadaan semakin mengkhawatirkan.

Semoga ini menjadi perhatian.

Terimakasih telah membaca Menangani Anak Kecil Yang Sedang Sakit

Tags

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: budairi@nusagates.com. Hubungi via Whatsapp.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker