Nusagates Notes

Memiliki Istri Suka Mengatur Harus Disyukuri

Wanita sebagai seorang istri memiliki tugas yang mulia. Ia diberi tanggung jawab untuk menjaga harta benda suami beserta kehormatannya. Tidak hanya itu, ia juga berkewajiban untuk menjaga burung suami agar tidak lepas dari sangkar tanpa kendali dengan mencukupi kebutuhan biologisnya sepenuh hati. Namun memang sudah menjadi suatu kewajaran bahwasanya kemuliaan penjaga itu sering tak tampak atau memang sengaja tidak ditampakkan. Contoh sederhananya adalah gool keeper (GK) pada umumnya kalah mulia (tenar) dengan striker. Penjaga parkir, penjaga lintasan kereta api, atau penjaga lainnya pun demikian.

[tahukah kata=”striker”]

Pada dasarnya, wanita memiliki hak untuk mendapatkan haknya. Tidak hanya dieksploitasi oleh suami yang sering menggunakan alasan demi kepentingan keluarga. Berapa banyak suami yang menanyakan berapa kali istrinya [kamus kata=”orgasme”] atau sudah puas apa belum setelah melakukan hubungan badan? Hal seperti itu rasanya masih [kamus kata=”tabu”] untuk dibahas meskipun dengan istrinya sendiri. Namun seakan halal jika digunakan untuk mencari [kamus kata=”selingkuh”]-an. Berapa kali suami mengucapkan terima kasih setelah melihat istrinya mencuci baju, memasak, atau memandikan anak yang sebetulnya bukanlah tanggung jawabnya (istri)? Sebetulnya tidak hanya terima kasih yang perlu diungkapkan melainkan permintaan maaf juga perlu disampaikan karena merasa telah membebani istri dengan sesuatu yang bukan menjadi kewajibannya. Kebanyakan malah marah ketika mendapati istri mengeluh capek setelah mengurusi pekerjaan rumah tangga. Jangankan meluangkan waktu untuk mijiti istri sebagai ungkapan terima kasih sekaligus permintaan maaf, sekedar mendengarkan istri curhat akibat kebosanan yang menghampiri karena jarang keluar rumah pun tak sempat. ~ i am sorry, dut. Aku malah lebih parah dari itu. ?

Sebagai seorang istri sekaligus ibu rumah tangga, peran wanita sering kali dipandang sebelah mata. “Lulusan S3 kok akhirnya juga [kamus kata=”mentok”] cuma ngurusi dapur dan kasur”, tendensi semacam itu sering kali dihunuskan pada wanita yang sehari-hari kerjaanya cuma memasak, menyapu, mengurus anak, atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Suami yang mendengar istrinya mendapat serangan seperti itu pun jarang membela. Banyak yang malah mengamini tendensi macam itu. “Memang tugas istri itu di rumah. Kalau semuanya kerja lalu kewajiban istri untuk menjaga harta dan kehormatan suami di rumah bagaimana?”. Ada juga yang cuma menyuruh istrinya sabar ketika mendapat perlakuan seperti itu.

[tahukah kata=”tendensi”]

Secara umum, kaum laki-laki memang sulit untuk diatur apalagi oleh istrinya. Kecenderungannya ingin berkuasa membuatnya sering kali mengabaikan [kamus kata=”gagasan”] mapupun [kamus kata=”argumen”] istri. Perlakuan abai terhadap istri itu sebenarnya akan berdampak pada psikologi istri. Ia akan merasa tak didengarkan ataupun dianggap tak berarti. Ketika [kamus kata=”akumulasi”] tekanan paikologisnya memuncak, ia akan berusaha mencari pelarian untuk melepaskan perasaan. Ya! Meskipun hanya sedikit istri yang mengalami hal ini kemudian berujung perselingkuhan namun tetap perlu diperhatikan. Jangan sampai menyesal ketika di hari penghakiman nanti.

Istri yang suka mengatur banyak ditemukan pada keluarga yang umur pernikahannya sudah tidak muda lagi. Banyak suami yang baru menyadari saat itu bahwasannya gagasan maupun argumen istrinya banyak benarnya namun sering diabaikan olehnya. Hal ini membuatnya merasa bersalah kemudian perilaku super-powernya diturunkan. Istri yang baik dan tidak pendendam biasanya memanfaatkan [kamus kata=”momentum”] ini untuk menunjukkan kelihaiannya dalam mengatur rumah tangga bukannya malah ngambek karena merasa sudah tidak dipercaya. Bibit-bibit munculnya suami-suami takut istri banyak dimulai dari sini.

Cara istri mengatur rumah tangga sangat berbeda dengan suami. Ia lebih lembut dan teratur. Contoh sederhananya: mengatur suami kapan harus minum obat, makan, mandi, kerja atau lainnya. Cara untuk mengatur kebutuhan biologis sumainya juga sangat elegan. Tidak langsung main perintah tanpa melihat situasi dan kondisi.

Sebagian orang ada yang sinis ketika melihat dominasi istri dibandingkan suami, “laki-laki kok kalah sama wanita”, ketusnya. Bahkan! Ada yang berpendapat bahwa hal semacam itu tidak dibenarkan dalam agama. Mungkin dia belum tahu cerita tentang seorang kyai yang pandai menyampaikan khutbah dan membuat jamaah jum’at banyak yang menangis karena tersentuh. Namun suatu hari ia gelagapan ketika menyampaikan khutbah karena istrinya sengaja menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketika akan membuat materi khotbah. Setiap kali akan menyusun materi khotbah, ia diminta untuk mengurus (momong) anak hingga saat waktu sholat jum’at tiba materi khutbah belum selesai dibuat. Hal ini dilakukan istri untuk menunjukkan bahwa tanpa istri ia bukan apa-apa tapi berani-beraninya ia merasa hebat dengan kemampuan khotbahnya itu. (Cerita ini diambil dari kajian tasawuf ketika ngaji Al-Hikam tentang mengelola nafsu).

Sayyidina Umar Ibn Khottob pun banyak yang meriwayatkan bahwasannya ia termasuk orang yang sangat takut pada istri. “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya (istri) itu karena hak-haknya padaku. Dia yang memasakkan makananku,yang mencucikan pakaianku,yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Karena itu aku bersabar atas sikapnya”, kata Sayyidina Umar ketika ia ditanya seseorang mengenai diamnya (Sayyidina Umar) ketika dimarahi istri. Padahal orang yang bertanya itu sebenarnya mau mengadu bahwasannya istrinya suka membantah dan malakukan hal-hal lainnya yang tidak disukai.

Jadi, jika istri kita suka mengatur apakah bukan sesuatu yang patut disyukuri? Kita tidak perlu susah-susah memberikan job-list apa yang harus dilakukan olehnya. Kesukaannya mengatur itu akan membuat semuanya beres. Kalau bahasa jawanya begini: iso ngrampungi opo sing ditandangi. Amd

[tahukah kata=”khotbah”]

Tinggalkan Balasan