Nusagatizen

Membela Ulama Satu, Memusuhi Ulama Lainnya

Indonesia merupakan negara yang dihuni oleh bangsa yang memiliki keragaman budaya, bahasa, agama, suku, ras, maupun tingkat pendidikan dan kesejahteraan keluarga. Perbedaan-perbedaan itu membuat bangsa Indonesia lebih hidup karena satu sama lain saling berlomba untuk menunjukkan bahwasannya perbedaan yang dimiliki adalah keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki bangsa lainnya.

Perlombaan untuk menunjukkan bahwa perbedaan yang disandang adalah yang paling unggul seringkali menuai konflik. Seorang beragama Islam yang meyakini kebenaran absolut atas keyakinannya kemudian berusaha membandingkan dengan agama lain yang didengar oleh penganut agama atau keyakinan lain berpotensi menimbulkan konflik sara’. Meskipun pembandingan tersebut tidak disertai dengan upaya untuk merendahkan keyakinan umat beragama lain (non muslim).

Tidak hanya dengan non muslim. Usaha untuk membandingkan dan/atau menilai keyakinan sesama muslim pun sering mengakibatkan konflik. Contoh yang paling sering terjadi adalah: Seseorang menganggap amaliyah tahlilan, ziarah kubur, tawasul, atau perayaan maulid nabi tidak ada dasarnya atau bid’ah. Meskipun anggapan tersebut tidak disertai niat atau tujuan untuk mengolok atau menentang keyakinan orang yang meyakini bahwasannya amaliyah tersebut ada dasarnya akan tetap memicu konflik.

Perbedaan penafsiran mengenai hal-hal furuiyyah (cabang) membuat umat Islam di Indonesia menjadi beberapa kubu yang saling berlomba untuk menjatuhkan kubu yang bersebrangan. Setiap kubu memiliki ulama atau seseorang yang dianggap ulama dan diikuti pendapat dan ajakannya.

Orang awam yang memiliki semangat beragama tinggi sering kali terjebak kubu-kubuan menggunakan cara jahiliyah yaitu: Membela, memuji, dan mematuhi ulama atau orang yang dianggap ulama yang dirasa cocok dengan pemikirannya namun membenci, memusuhi, dan membangkang pada ulama atau orang yang dianggap ulama yang tidak sefaham dengannya.

Sebagai umat (yang merasa mengikuti ulama), sebenarnya kita tiada pantas untuk membanding-bandingkan ulama apalagi berusaha membenturkan pendapat yang satu dengan yang lainnya. Ulama memiliki dasar untuk berpijak dalam mengemukakan pendapatnya jikalau pendapat yang dikemukakan itu berbeda sebenarnya adalah rahmat bagi umat Islam. Hadirnya rahmat itu perlu disyukuri bukannya malah untuk diperdebatkan. Apalagi sampai memiliki anggapan bahwa debat yang dilakukan untuk membenturkan pendapat ulama adalah ibadah.

Hendaknya yang perlu dilakukan adalah: jika kita menyukai ulama, maka ikuti, jika tidak suka cukup dengarkan. Jika tidak tahan untuk mendengarkan maka tinggalkan. Jika tidak mampu untuk meninggalkan minimal diam. Kalau kita merasa menjadi umat (pengikut) dan bukan merasa menjadi ulama maka memperdebatkan pendapat ulama adalah bentuk dari kesombongan diri yang tidak mau berkaca atas pengetahuan dan keilmuan diri sendiri. Istilah yang lazim digunakan adalah orang bodoh yang tidak menyadari kebodohannya.

Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close