Nusagatizen

Mawas Diri: Jangan Merasa Benar dan Dibela Tuhan

Sering kita sesungguhnya tahu kesalahan dan keburukan dalam hati, pikiran dan laku diri kita, namun tak jarang pula kita mencoba menyangkalnya karena  ego kita tak mau mengaku, tak mau disalahkan.  Kalau seseorang menyerah pada hasrat ego atau nafs-nya, ia akan hidup dengan membohongi diri sendiri. 

Cara yang sering dilakukan ego untuk menyangkal kekeliruan diri adalah dengan menyalahkan orang lain sekaligus mengklaim dirinya didukung oleh Tuhan. Kalau egoisme dipertahankan dalam waktu lama, perlahan ego dan nafsu-syahwat   akan menjelma menjadi berhala dalam dirinya sendiri. Ia akan selalu menuntut untuk selalu dibenarkan, untuk dipuji, untuk dihormati,  untuk dituruti semua keinginannya. Ia akan memperalat apa saja, bahkan termasuk agama, untuk memenuhi keinginan egonya itu. 
Jika Tuhan segera memberi isyarat peringatan dan menegur seseorang dengan hukuman (misal sakit, kena musibah, gelisah, dan sebagainya),  ia beruntung karena teguran itu biasanya akan menyadarkannya. Namun jika sesudah ditegur tetap menyangkal kebenaran dan tetap membohongi diri dan Tuhan, boleh jadi Tuhan akan seolah membiarkan orang itu memberhalakan dirinya sendiri, tanpa menurunkan isyarat peringatan dan  hukuman apapun di dunia; dan ini lebih gawat. Ini istilahnya adalah “istidraj,” atau bahasa jawanya “dilulu, dibombong.” Seakan-akan Tuhan sudah tak peduli seseorang berbuat di dunia dengan maksiat dan  mengambil hak-Nya, seperti berlaku sombong. Kita tahu, sejatinya yang berhak sombong adalah Tuhan, karena itu adalah “selendangNya.” Namun orang yang memberhalakan diri sendiri sering berlaku takabur, karena merasa selalu benar dan lebih mulia dihadapan manusia.  Lalu apa jadinya nasib kita jika Tuhan memberi istidraj itu, hingga titik di mana  ego dan syahwat menjadi begitu kuat dan keras sampai menutupi hati dan pikiran kita sehingga diri tak merasa telah sombong dan tak merasa bisa salah? 
 Tetapi sebelum ajal datang, selalu ada peluang untuk kembali menjadi manusia yang berstatus hamba. Ada baiknya kita lekas-lekas kembali kepada kebenaran sebelum usia kita habis, agar kita tak perlu “dibersihkan” di akhirat nanti. Ada baiknya kita mulai belajar rendah hati dan mendengar hati nurani, dan belajar berani jujur pada diri sendiri serta jujur kepada Tuhan. Sebab, selihai apapun kita berusaha bohong kepada Tuhan, bohong pada diri sendiri dan pada  orang lain, Tuhan adalah Mahamendengar dan Mahamengetahui suara niat, kehendak dan laku keburukan di hati (batin), pikiran dan perbuatan lahir.
Selalu ada “harga” yang harus dibayar ketika orang melarikan diri dari kenyataan dan kebenaran  — sebab Tuhan memiliki cara yang tak terbatas,  tak terduga dan misterius untuk memaksa atau memberi hukuman, entah di dunia atau di akhirat,  terhadap dosa dan maksiat, baik yang terang-terangan maupun yang kita sembunyikan.  
 وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ
“Dan di dalam dirimu sendiri,  apakah engkau tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz Dzariyat)

Wa Allahu a’lam
(Mbah Nyutz)

*Judul mengalami pengubahan. Judul asli adalah Mawas Diri

Tahukah Kamu Arti congkak?

cong·kak1 a merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya, dan sebagainya); sombong; pongah; angkuh: kelakuannya yang -- itu menjauhkan orang darinya;
-- bongak sangat congkak;

ke·cong·kak·an n ketinggian hati; kesombongan; kepongahan
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close