NusagaltureNusagatizen

Kopi Tubruk dalam Budaya Jawa

Kopi tubruk, kopi khas Indonesia yang membuatnya dengan cara mendidihkan biji kopi bersamaan dengan gula. Kopi tubruk ini cukup populer di pulau Jawa dan Bali. Suku Jawa, terutama kalangan pesantren sangat akrab dengan kopi tubruk untuk menemani jagongan sampai malam. Di beberapa daerah, terutama daerah Bojonegoro, Surabaya, Cepu-Blora dan daerah di sekitar pegunungan kapur bertebaran warung kopi yang buka 24 jam.

Di warung kopi biasanya orang-orang ngopi sambil jagongan. Abah K cerita kalau jagongan bisa bertahan hingga tengah malam. Emak K cuma berdecak kagum saja. Bapak-bapak ternyata juga enggak jauh dari emak-emak yang kalau sudah ngobrol lupa waktu. Hihihi

Di Jawa sendiri, meskipun sama-sama kopi tubruk yang penyajiannya langsung dengan mendidihkan bubuk kopi dan gula, namun setiap daerah mempunyai ciri khas dalam menikmati kopi tubruk.

Menikmati Kopi Tubruk di Angkringan

Angkringan berasal dari kata angkring, yang berarti duduk santai. Angkringan sudah ditemukan di Yogyakarta setiap sore hingga menjelang tengah malam, sejak tahun 50-an. Angkringan biasanya menggunakan gerobak sederhana dengan sajian menu yang murah meriah.

Orang-orang yang menikmati kopi tubruk di angkringan terdiri dari berbagai kalangan. Mereka duduk bareng sambil nyruput kopi, sebagian sambil merokok sembari membicarakan berbagai hal. Dari persoalan receh sosial sampai persoalan politik.

Uniknya, di Angkringan orang akan saling nimbrung obrolan meskipun tidak kenal. Emak K sering takjub ketika mendapati abah K ngobrol gayeng layaknya sahabat lama, ketika kutanya tadi ngobrol dengan siapa doi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ada peraturan yang mengikat, namun pengunjung angkringan seolah-olah sudah sepakat jika kita perlu menjaga budaya tepa selira  (toleransi), kemauan untuk saling berbagi dan bisa rumangsa.

Menikmati Kopi Joss, Kopi Tubruk yang Dicelup Arang Membara

Di beberapa angkringan, terutama angkringan daerah Jogjakarta, ada kopi yang penyajiannya unik. Namanya Kopi Joss. Kopi ini merupakan kopi tubruk, namun saat disajikan di depan pengunjung, ada arang membara yang dicelup ke dalam gelas.

Tujuan penyelupan arang membara ke dalam gelas kopi adalah untuk mengurangi rasa asam dalam kopi. Kopi yang disajikan di angkringan bhiasanya merupakan kopi Arabika dengan tingkat keasaman tinggi. Tidak sedikit yang enggak kuat dengan asamnya kopi Arabika, untuk menetralisir rasa asam tersebut, dicelupkan arang membara.

Emak K ngeri karena membayangkan abu yang ikut tertelan. Hahaha, tetapi para penikmat Kopi Joss terlihat santai-santai saja.

Kopi dalam Ritual Adat Jawa

Ritual adat Jawa sangat erat dengan berbagai sajen, tidak terkecuali kopi. Ada beberapa ritual adat Jawa yang juga menjadikan kopi sebagai sesajen wajib.

Sesajen Kyai Petruk di Keraton Surakarta

Setiap hari Selasa dan Kamis, di Keraton Solo dilaksanakan ritual untuk memberikan sesajen kepada Kyai Petruk untuk melindungi ruang makan di keraton. Sesajen tersebut terdiri dari  kelopak mawar putih, dupa, teh dan kopi. Kopi dalam ritual ini dipercaya sebagai minumkan para dewa, yang digunakan untuk memberikan pencerahan dan koneksi pada dunia spiritual.

Sesajen Kopi di Kirab Pusaka Tahun Baru Jawa, Keraton Surakarta

Keraton Surakarta mempun yai hajad besar setiap kali tahun baru hijriyah atau tahun bharu dalam penanggalan Jawa. Setiap kali malam satu Suro, Keraton Surakarta menggelar Kirab Pusaka yang diawali dengan iring-iringan barisan kerbau yang disebut dengan kebo bule sebagai cucuk lampah atau pembuka iringan.

Seluruh anggota keluarga termasuk raja dan keluarganya terlibat dalam iring-iringan ini. Mereka menyiapkan segala ubo rampe atau sajen untuk keperluan Kirab Pusaka ini. Uniknya, setelah berjalan beriringan, kerbau-kerbau ini memakan sajian dan meminum kopi. Setelah kerbau-kerbau merasa kenyang, kerbau tersebut akan dibiarkan pergi dan masyarakat segera merangsek maju untuk berebut sisa sajen yang telah dimakan oleh kerbau. Ya, sajen sisa makanan dan minuman para kerbau keturunan Kyai Slamet dianggap memiliki tuah.

Masih banyak ritual adat yang menyajikan kopi sebagai bagian dari sesajen, seperti, ritual ujelang menikah, ritual hajatan reog, ritual sadranan, ritual saparan, hingga ritual para dukun di rumah. Kopi memang sangat lekat dengan masyarakat Indonesia, terutama di Jawa.

 

 

Pencarian Terkait:

Kata Kunci

Widi Utami

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close