Nusagastory

Kisah Mbah Amin Terkena Ranjau Belanda

Mbah Aminah selalu bersemangat jika diminta untuk bercerita mengenai kehidupannya di masa penjajahan Belanda. Beliau mengalami tiga masa penjajahan yaitu Belanda yang pertama beberapa tahun, Jepang kurang lebih 3 tahun, dan Belanda yang dibawa oleh NICA sampai Indonesia merdeka.

Rumah mbah Amin tak jauh dari perbatasan daerah yang dikuasai Belanda dan pejuang kemerdekaan RI sehhingga suasana perang hampir setiap hari dirasakannya. Beliau dan seluruh anggota keluarga tidak berani duduk santai waktu malam hari. Mereka biasanya bersembunyi di dalam lubang tanah yang digali di dalam rumah. Takut terkena peluru nyasar dari kedua belah pihak yang sedang sibuk berperang.

“Akih canon podo njeblos sak nggon-gone. Aku karo bulik ndelik ngisor amben (banyak canon meledak di mana-mana. Aku dan bulik bersembunyi di bawah tempat tidur)”, cerita mbah Amin. Beliau menjelaskan kalau Canon dari Belanda dari arah utara (daerah Ngebul/Tangsi salatiga) sedangkan canon dari pejuang kemerdekaan dari selatan (berseliweran di atas rumah. Terkadang ada yang jatuh di pekarangan rumah atau malahan mengenai rumah warga.

Suatu pagi, mbah Amin bersama buliknya yang dipanggil mbok Mar berangkat ke pasar untuk membeli kebutuhan di pasar Kembang Ampel, kabupaten Semarang. Mereka berdua sebetulnya sudah tahu kalau di jalan-jalan raya banyak ditanam ranjau (dikenal dengan sebutan Men) oleh Belanda maupun pejuang kemerdekaan. Namun, entah kenapa hari itu mbok Mar bersikukuh lewat jalan raya dan menolak ketika diajak mbah Amin lewat jalan setapak. “Halah. Wong biasane yo ra popo, kok”, kata mbah Amin menirukan mbok Mar.

Duooor!! Sebuah men yang dipasang oleh Belanda meledak mengenai mbah Amin dan mbok Mar di depan sekolah daerah Bener, Karang Duren, kabupaten Semarang. Pinggul sampai tulang belikat mbok Mar cidera parah terkena ledakan dan membuatnya meninggal seketika sedangkan mbah Amin cidera kaki kirinya. Mbah Amin langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil Jip Belanda dibantu para bekel. Beliau digendong sama mas bekel dan mak Ntet sampai di markas Belanda di daerah Bon Jeruk, Tengaran, kabupaten Semarang. Setelah itu dinaikkan ke mobil Jip oleh tentara Belanda. Perjalanan menuju rumah sakit penuh hambatan. karena di jalan raya banyak dipasang men, mobil yang membawa mbah Amin sering turun ke kali untuk menghindari men atau pohon yang ditumbangkan melintang di jalan raya oleh pejuang kemerdekaan untuk menghalangi mobilitas tentara belanda. Saat itu, mbah Amin dibawa ke RSU Salatiga yang sekarang ini menjadi RS Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Salatiga.

Tentara Belanda bertanggungjawab terhadap kesembuhan mbah Amin. Setelah diobati di rumah sakit, beliau mendapat fasilitas kesehatan di markas Belanda di Bon Jeruk. Mbah Amin diminta untuk memeriksa kondisinya di situ sampai beliau benar-benar sembuh.

Situasi perang saat itu benar-benar mencekam kata mbah Amin. Pasar kota Salatiga sengaja dibakar entah oleh Belanda atau pejuang kemerdekaan. Saat penduduk Salatiga, Kopeng, Ambarawa, dan sekitarnya disuruh mengungsi oleh pejuang kemerdekaan karena Belanda mau diserang habis-habisan banyak bermunculan begal dan rampok. “Nek wong tegel yo podo sugih-sugih. Jupuki barange wong sing ditinggal ngungsi (kalau orang yang tegaan ya pada kaya. Mengambil barang yang ditinggal mengungsi)”, kata mbah Amin.

Mbah Amin adalah saksi hidup yang masih dapat menceritakan dengan lancar mengenai penjajahan di Indonesia. Ketika ditanya usianya saat ini, mbah Amin tidak bisa menjawab dengan pasti “satus kurang siji opo loro ngono. Tapi nek sangang puluh luwih (seratus kurang satu atau dua gitu. Tapi kalau sembilan puluh sudah lebih”.

Semoga sehat terus, mbah.

Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close