Nusagates Notes

Ketika Aku Gagal Melakukan Poligami

Catatan Khusus Sebagai Bahan Renungan Diri

Membangun rumah tangga tentu tidak semudah seperti apa yang dikatakan oleh Karjo Teguh sang motivator itu. Liku-liku kehidupan dalam berumah tangga sangat dinamis dan tidak bisa diprediksi.  Ada kalanya hubungan menjadi merenggang ada kalanya semakin erat menempel bak perangko. Kalau kata temanku dengan bahasa yang agak kasar, ia bilang begini “Rabi kui ora segampang cocote Karjo Teguh”.

Hiruk pikuk kegiatan dalam berumah tangga terkadang menjadi sesuatu yang dapat merenggangkan hubungan. Terlebih lagi jika keduanya memiliki keterbatasan komunikasi dikarenakan kesibukannya masing-masing. Kebutuhan biologis juga sarat menjadi pemantik masalah dalam berumah tangga. Misalnya seperti pada saat bulan ramadhan seperti ini. Di siang hari, kita tidak dapat menyalurkan hasrat biologis dan di malam hari doi merasa kecapekan karena seharian mengurus anak. Walhasil hasrat yang terpendam akan berusaha mencari pelampiasan lain. Sangat beruntung jika kita memiliki rem cakram untuk tidak menurutinya. Jika tidak maka pelampiasan itu bisa didapat dari mana saja atau bahkan siapa saja.

Pernikahanku dengan Widut masih sangat belia. Belum genap 5 tahun. Selama mengarungi kehidupan dengannya, masalah demi masalah yang menyapa selalu saja membuat kami harus belajar menata hati untuk menjadi lebih kuat dan bijaksana dalam menyikapinya. Ya! Meskipun kerap kali masalah-masalah itu membuat kami kelimpungan dan mencari zona aman dengan pengalih perhatian, nyatanya masalah-masalah itu tetap saja memiliki efek yang tidak terduga.

Suatu hari, ketika beragam masalah mengusik hati, aku pernah sempat berpikir begini, “Kalau saja aku punya istri lain tentu enak. Jika ada masalah, aku bisa lari ke sana untuk mencari ketenangan”. Tentu saja hal itu pernah kusampaikan kepada Widut secara terus terang ketika suasana sedang cair. Kalau kusampaiakan pada saat lagi ngambek tentu dikira aku sedang mengancamnya. Hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak mau mengancam doi hanya untuk memuluskan aksiku.

Aku membayangkan memiliki istri lain selain Widut dengan sepenuh tenaga. Hanya saja setiap kali membayangkan hal itu selalu berujung pada hal yang sama yaitu merasa tidak nyaman. Aku merasa tidak bisa bersenang-senang sendiri sedangkan keluargaku merasa sedih. Bayangkan saja misalnya aku sedang asyik bercengkerama dengan istri lain dan di saat itu Widut merasa terabaikan. Hal ini yang sebetulnya selalu menjadi ending dari membayangkan melakukan poligami.

Syarat poligami yang tidak bisa kupenuhi adalah membiarkan istri yang susah payah merawat anakku dan mengasuhku seperti ibu mengasuh anaknya sepanjang hari tersakiti hatinya karena aku melakukan poligami. Sungguh aku tidak tega membiarkannya merasa sedih dan merasa terabaikan. Keikhlasannya menjadi istri seorang gembel sepertiku tentu saja membuatku merasa durhaka jika sampai berani melakukan poligami.

Jujur saja, sebetulnya mencari wanita lain untuk dipersunting tidak begitu sulit. Jurus SSI tingkat dewa bisa digunakan dan dibuktikan kurang dari satu minggu. Lha wong gak usah mencari saja sudah ada yang menawarkan diri menjadi istri simpanan. Widut sampe geleng-geleng sendiri membaca sms orang itu.

Temanku berkata begini

Melihat cewek cantik menjadi pedagang sayur membuat tergiur.
Melihat cewek cantik mbecak untuk membiayai kuliahnya membuat terkesima.
Melihat cewek cantik menjadi tukang kebun membuat kagum.

Melihat istri di rumah yang selalu siap siang dan malam menemani, mengurus rumah tangga, bahkan terkadang terkesan menjadi seperti babu malah biasa saja.

Waras, mbah?

Begitulah. Sebetulnya membayangkan melakukan poligami itu seringkali malah menambah rasa sayangku pada Widut. Hanya saja yang namanya wanita secara umum tentu tidak senang jika pasangannya membahas atau bercanda mengenai poligami. Widut juga begitu. Katanya hampir semua hal yang aku katakan selalu benar-benar terjadi dan dia tidak mau candaanku mengenai poligami benar-benar terjadi. Untuk itu lah jika aku keceplosan bercanda tentang poligami biasanya akan aku kunci dengan candaan lain yang berlawanan dengan itu. Satu dikurangi satu adalah nol. Paham kan maksudku?

Tahukah Kamu Arti makrososiologi?

mak·ro·so·si·o·lo·gi n sosiologi yg mengkaji masyarakat sbg suatu sistem dl keseluruhannya
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close