Nusagatizen

Kenapa Pemerintah Tidak Blokir Iklan Vulgar di Facebook?

Pemerintah Indonesia tampak tak konsisten rupanya. Hal ini bisa dilihat dengan berlakunya tebang pilih penegakan aturan yang diberlakukan.

Dalam hal pengelolan dan pembatasan konten digital, Kominfo bekerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama ini membuat kominfo leluasa untuk memblokir konten-konten yang dianggap tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Beberapa contoh pembatasan itu antara lain, pemblokiran konten pornografi, situs  yang menyebarkan faham ektremisme, dan judi online yang dilakukan oleh ISP. Di sisi lain, Lembaga Sensor Indonesia bersama KPAI juga menjadi pembantu kominfo dalam membtasi konten yang dianggap kurang pas untuk ditampilkan di televisi Indonesia.

Pemblokiran oleh ISP ataupun sensor yang dilakukan Lembaga Sensor tersebut seakan-akan hanya sekedarnya saja. Sebagai contoh, ketika kita mengetik keyword berbau porno di Google, masih banyak konten porno yang dengan mudah kita temukan. Pun demikian dengan Lembaga sensor. Meskipun di Indonesia ada lembaga sensor, nytanya masih banyak ditemukan video yang sebenarnya tak layak lulus sensor beredar di Indonesia. Entah berupa VCD ataupun konten berbayar TV.

Tak hanya itu, kalau berbicara tentang konten negtif, Youtube sebenarnya adalah tempat yang sangat ideal untuk menikmatinya. Disamping bandwith servernya yang besar dan stabil, pilihan konten negatif lumayan sangat banyak. Mulai dari pornografi, kekerasan seksual, penyebaran faham ektremis, provokasi, dan lain sebagainya ada di Youtube.

Facebook pun demikian. Konten negatif banyak tersebar di sana. Banyak akun kloningan/abal-abal yang hanya mengejar trafik web dengan mudahnya membuat berita asal-asalan, provokasi, tendensius, rasis, dan lain sebagainya.

Yang paling kusayangkan adalah iklan vulgar di Facebook yang tidak ada pembatasan di Indonesia. Kita semua tahu kalau iklan di Facebook bisa menarget siapa saja. Tidak seperti akun facebook atau fans page yang hanya bisa menjangkau teman dan fansnya saja.

Lha wong lembaga sensor saja terkadang lebay. Pantat sapi saja terkadang di sensor. La ini gambar payudara yang hampir tampak bulet kok ndak disensor? La piye to?

Tahukah Kamu Arti satiris?

sa·ti·ris 1 n pengarang satire; penulis sajak sindiran; 2 a bersifat menyindir atau mengejek; mengandung sindiran atau ejekan
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close