Nusagatrip

Jatuh Cinta (Lagi) dengan Sendang Senjoyo, Wonderful Indonesia di Jawa Tengah

Angin semilir membelai wajah. Pelan, seperti tangan seorang ibu yang sedang menidurkan anak-anaknya Gemericik air memanjakan indera pendengaran. Dingin merambat dari telapak kaki yang kurendam di air. Kubiarkan ikan-ikan berenang mendekat, menyapa telapak kakiku dengan manja dan menimbulkan efek geli. Menikmati Sendang Senjoyo, Wonderful Indonesia yang letaknya di perbatasan Salatiga-Kabupaten Semarang adalah agenda rutin keluarga kecil kami setiap satu bulan sekali.

Wonderful Indonesia
Wonderful Indonesia

Aku tertawa melihat si K dan Abahnya saling menyipratkan air. Berendam di air yang jenih bersama ikan-ikan yang berenang lincah. Gelak tawa, deru air dan obrolan bahagia dari orang-orang yang sedang menikmati suasana Sendang menyatu, mendamaikan kalbu.

 
Ikan di Sendang Senjoyo
Ikan di Sendang Senjoyo
 

Kulemparkan pandangan ke sisi utara pada pohon-pohon beringin raksasa yang sudah berusia ratusan tahun. Kuhirup nafas dalam-dalam. Kupejamkan mata dan memutar kenangan. 

Damai yang kurasakan disini, rasanya sangat sayang untuk kunikmati sendiri.

Mataku terpaku pada pohon besar di dekat Kali Lanang. Air di Kali dekat pohon besar itu sangat jernih. Batu andesit dengan ukiran nan artistik mengelilingi tepi kolam, mengingatkanku pada dongeng Bapak.

Berenang di Sendang Senjoyo
Berenang di Sendang Senjoyo

Sendang Senjoyo dan Mitos yang Melingkupi

Mbiyen ana raja kang asma Sanjaya. Melarikan diri dari perang besar bersama prajuritnya. Ia menemukan tempat yang teduh di kelilingi pohon besar dan sumber air. Raja itu memerintahkan pengikutnya untuk membangun candi dan petirtaan.”

Aku mengamati Kali Lanang dengan seksama. Kedalamannya sekitar 2 meter. Alas kolam terbuat dari kerikil bulat yang ditata rapi. Batu andesit dengan ukiran yang meliuk indah khas peninggalan Hindu-Budha mengelilingi tepi kolam. Airnya sangat bening. Segar dan alami, langsung dari mata air yang menyembur dari dasar Kali Lanang. Membayangkan segarnya berendam di Kali Lanang, dongeng Bapak tentang Raja Sanjaya yang moksa kembali berputar.

Sak banjure candi lan petirtaan rampung, Raja Sanjaya kungkum nang Kali Lanang kuwi, banjur moksa.”

Moksa. Mataku menekuri pohon beringin besar. Tepat di bawahnya, ada sesaji yang menguarkan bau wangi. Ya, Sendang Senjoyo menyatu dengan mitosnya. Mitos yang menjaga pohon-pohon raksasa dari penebangan. Menjaga air tetap deras mengalir sekalipun di musim kemarau nan panjang.

Menikmati Sejuknya Naungan Pohon-pohon Raksasa

Si K menggigil, kami berniat untuk mengakhiri petualangan di Sendang Senjoyo. Namun, saat aku ingin melepas bajunya, ia menolak keras. Sepertinya belum puas menghabiskan harinya bersama air yang jernih. Kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak di sepetak tanah di bawah pohon beringin besar sembari menikmati bekal yang telah kusiapkan dari rumah.

Sendang-Senjoyo
Sepetak Tanah tempat Bercengkerama di Sendang-Senjoyo

Sepetak tanah ini terletak di sisi barat Sendang Senjoyo. Kami harus menyeberang jembatan, melewati sungai besar dengan air yang mengalir sangat deras. Sepetak tanah yang sangat nyaman untuk bercengkerama sembari menikmati jembak. 

Aku sangat menikmati duduk di bawah naungan pohon-pohon raksasa. Berbincang dengan abah K. Si K asik bermain di rerumputan dengan bajunya yang masih basah. Sesekali sengaja berdiam diri, memutar kembali kenangan yang kulewati di bawah pohon raksasa ini.

Riuhnya adik-adik Sanggar Pelangi kala kami melaksanakan outbond kembali menari-nari di pelupuk mata. Sepetak tanah di bawah beringin besar ini sangat cocok untuk menikmati waktu bersama anak-anak. Beberapa kali menikmati heningnya tempat ini untuk menulis bersama teman-teman pegiat literasi. 

Pojok Utara-Barat Sendang Senjoyo
Pojok Utara-Barat Sendang Senjoyo, Seru untuk Outbond

Sungai Jernih dan Dongeng Rambut Mas Karebet

Puas beristirahat di bawah naungan beringin raksasa. Kami beranjak melewati pematang, menuju ke sisi timur-utara Sendang Senjoyo. Kugendong si K. Tanganku menggenggam erat tangan abah K. Kami harus berhati-hati melewati bebatuan dan di air sungai yang jernih. Arusnya cenderung tenang, kedalaman hanya sebetis orang dewasa. Namun, bebatuannya masih dibiarkan terserak alami. Jika tidak hati-hati, kami akan terjerembab.

Salah Satu Spot Sungai Sendang Senjoyo
Salah Satu Spot Sungai Sendang Senjoyo, foto dokumen pribadi

Si K berteriak girang. Ia bergelenjotan di gendongan, tidak sabar untuk segera turun bermain air. Sungai dangkal di sisi timur-utara Sendang Senjoyo adalah tempat favorit si K. Ia bisa bermain disana dengan bebas tanpa takut tenggelam atau terbawa arus. Tanpa teriakan Ibu, tanpa genggaman erat tangan abah yang kekar.

Sungai Dangkal di Sendang Senjoyo, spot favorit anak-anak untuk bermain air. Foto dokumen pribadi
Sungai Dangkal di Sendang Senjoyo, spot favorit anak-anak untuk bermain air. Foto dokumen pribadi

Aku duduk di atas batu besar, kurendamkan kaki ke dalam air sungai. Pohon talas berjajar rapi. Terlihat perbukitan dengan pohon-pohon berukuran besar mengelilingi Sendang Senjoyo layaknya benteng menjaga penghuninya dari intaian musuh. Sesekali terlihat ikan-ikan kecil berenang mendekat. Kuedarkan pandangan pada ceruk yang di kelilingi gerombolan talas, terlihat gelembung-gelembung besar yang keluar dari ceruk. Ah, ini rupanya salah satu mata air Sendang Senjoyo.

Njoyo jaman semana kuwi banyune deres. Nek ora ati-ati bisa keli. Kowe reti Mas Karebet? Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya yang menjadi Sultan Pajang, memotong rambutnya, lalu disumpalkan di arus yang deras itu. Rambut Mas Karebet itu lah yang membuat sungai di Sendang Senjoyo sekarang stabil, tidak deras. Juga menjadi penyaring, sehingga airnya bening hingga kini.” dongeng Bapak versi lain kembali menari-nari. 

Aku jatuh cinta lagi tanpa tapi. Sendang Senjoyo dengan jernih airnya, beringin raksasanya, juga magis yang melingkupinya.

Sampai Nanti, Bila Umur Masih Panjang Kita Bertemu Lagi

Aku memanggil si K untuk segera naik ke atas batu. Badannya menggigil. Kulitnya keriput. Bibirnya nyaris membiru. Segera kuganti bajunya setelah sebelumnya kukeringkan dengan handuk. Si K sudah hangat dalam dekapan gendongan jarik. Aku dan abah K beranjak untuk menuju parkiran. Kuangsurkan uang dua ribu kepada tukang parkir.

Ya, untuk menikmati semua kemolekan Sendang Senjoyo, kami hanya membayar parkir dua ribu rupiah.

Spot Sendang Senjoyo dilihat dari Area Parkir
Spot Sendang Senjoyo dilihat dari Area Parkir

Sendang Senjoyo terletak di perbatasan Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Terbuka untuk siapa saja. Jika ingin menuju ke Sendang Senjoyo, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi. Jalannya sudah cukup mulus,kendaraan roda empat bisa masuk dengan leluasa dengan area parkir yang cukup luas. Jika menggunakan transportasi umum, kita bisa naik Bus Solo-Semarang atau angkutan kota Salatiga nomor 6, turun di SMK Telkon Tunas Harapan. Jalannya agak jauh, tetapi jangan khawatir, ojek online ataupun ojek pangkalan sudah tersedia disini.

Cara Menuju Sendang Senjoyo
Cara Menuju Sendang Senjoyo

Puas menikmati Sendang Senjoyo kami beranjak pulang ke rumah. Diiringi pohon-pohon raksasa yang daunnya bergoyang-goyang layaknya sedang menghantar tamunya pulang.

Sampai nanti, bila umur masih panjang, kita bertemu lagi.

 

***

Kamu punya cerita Wonderful Indonesia yang lain? Yuk, ikutan blog competition Wonderful Indonesia, pamerkan kemolekan Indonesia ke khayalak.

 

 

 

Tahukah Kamu Arti satih?

sa·tih Mk v, me·nya·tih v mendenda
Kata Kunci
Selengkapnya...

Widi Utami

Deaf Blogger, Emak K.
Close