Nusagatizen

Jangan Cekik Akhlaqul Karimah dengan Tali Aqidah

Ada sebagian saudara kita, yang menyalah artikan penghormatan kepada orang-orang mulia, sebagai bentuk penghambaan terhadap selain Allah SWT. Padahal keduanya, penghormatan dan penghambaan, takdhim dan ta’abbud, adalah dua hal yang berbeda. Saya menghormati Simbah Kiai Maimun Zubair, Simbah Kiai Mustofa Bisri, bukan berarti saya menyembah beliau berdua. Saya mencium tangan para ulama, bukan berarti saya menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa. Saya berdiri membungkuk di hadapan para kiai, atau duduk menunduk ketika berziarah ke makam para wali, bukan berarti saya menduakan Allah al-Wahid al-Ahad. Penghormatan terhadap ulama, sebenarnya merupakan perintah Allah SWT. Allah melarang para sahabat untuk tidak berbicara kepada Nabi dengan nada yang lebih tinggi dari Nabi, melarang sahabat untuk tidak memanggil Rasulullah dengan panggilan “jangkar” (memanggil langsung namanya), sejatinya adalah pelajaran bagi kita untuk menghormati para ulama yang menjadi pewaris Rasulullah SAW. 

Kesalahpahaman dalam memaknai penghormatan terhadap ciptaan Allah yang memang pantas untuk dihormati, sebagai penghambaan terhadapnya dan sekaligus tindakan yang bisa menyekutukan Sang Pencipta, adalah kekeliruan fatal dalam beragama, yang bisa melahirkan seorang yang sangat tauhid tapi tidak kenal akan tatakrama, seorang yang sangat kencang memegang tali aqidah hingga menjerat leher akhlaqul karimah. Tanpa disadari, orang yang bertauhid tanpa berakhlak, sedang meniti jalan dan menempuh laku,  meniru ia yang pertama kali salah memaknai “penghormatan terhadap makhluk Tuhan” sebagai bentuk “penyekutuan terhadap-Nya”. Siapakah ia? Siapakah ia, yang pertama kali membangkang perintah Allah untuk sujud kepada ciptaan-Nya sebagai bentuk penghormatan terhadap makhluk-Nya yang paling mulia? Siapakah ia, yang membangkang untuk sujud kepada Adam, karena merasa lebih baik darinya? Siapakah ia, yang merasa paling tauhid, sehingga tidak mau untuk menghormati ciptaan Allah yang terbuat dari tanah liat, yang justru kedudukannya lebih mulia di sisi-Nya daripada ia yang tercipta dari api? Dia lah Iblis, yang pertama kali salah memaknai “Takdhim” atau penghormatan, sebagai “Ta’abbud” penghambaan, sehingga jatuh tersungkur dalam lembah kesombongan dan kehinaan, sehingga tersingkir dari kedudukan tinggi dan kemuliaan.

Semoga Allah senantiasa menuntun tapak kaki pikiran, hati dan perbuatan kita, sehingga tidak salah menjejakkan langkah dalam tapak kaki Iblis yang pelan-pelan justru menuntun kita menuju kesengsaraan abadi. Wallahul musta’aan…

Diambil dari akun Facebook Sahal Japara.

Tahukah Kamu Arti dubius?

du·bi·us a 1 bersifat ragu-ragu; 2 bersifat meragukan (misalnya karena mempunyai dua pengertian)
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close