Nusagastory

Jakarta dan Kenanganku Tentangnya

Jakarta dalam benakku identik dengan rungsing, macet dan orang-orang yang saling berbicara bersahut-sahutan. Setiap diajak ke Jakarta, kenangan tentang perjalanan di Kopaja akan terus terngiang-ngiang dan membuatku enggan. Apalagi ketika abah K ada tawaran untuk bekerja di Ibu Kota dan harus on site disana, mending tetap bertahan di kampung halaman meski Jakarta kabarnya sudah mulai berbenah dengan commuter line-nya dan banyaknya pilihan apartemen di Jakarta yang bisa ditinggali. Enggak lagi identik dengan kampung-kampung kumuh yang rawan kebakaran.

Jakarta dan Kisah tentang Telinga yang Istimewa

Medio 2012, aku ke Jakarta untuk memeriksa lebih dalam tentang telingaku. Saat itu, aku menginap di rumah keluarga Uni Eva dan bang Am selama dua minggu.  Di Klinik milik pertamina tempat dimana bang Am bekerja, telingaku diperiksa oleh dokter spesialis THT. Apalagi yang diperiksa jika bukan kepekaan pendengaran.

Aku masuk ke kotak audiometri dengan perasaan yang sama saat periksa di spesialis THT Salatiga, serba enggak jelas. Embuh dan pesimistis. Komentar dokter tetap sama; tidak ada kerusakan di gendang telinga dan ambang batas pendengaranku 87.5 dan 72.5 dengan grafik yang naik turun. Bedanya, di klinik tempat bang Am bekerja, dokter menjelaskan bahwa grafik naik turun tersebut menandakan bahwa telingaku tidak peka pada bunyi-bunyi konsonan.

Pantas, meski aku sudah mengeraskan volume televisi, menggunakan alat bantu dengar, yang bisa kutangkap hanyalah sengauan enggak jelas. Aku tetap harus membaca bibir untuk memahami penjelasan lawan bicara. Bang Am mengajakku untuk bertemu dengan ahli Alat Bantu Dengar. Dokter dan bang Am meyakinkan bahwa jika dilatih terus menerus, telingaku lama-lama akan bisa menangkap maksud suara yang diterima. Sayang, aku tidak sabar melewati tantangan ini dan memilih untuk mengambil jalan lain.

Kopaja dan Kemacetan Jakarta

Jika ada yang bertanya apa yang paling membuatku malas ketika berada di Jakarta, kopaja lah jawabannya. Betapa enggak nyamannya berada di dalam Kopaja. Bangkunya enggak nyaman, enggak ada AC, engap, panas macet. Masih ditambah hiburan yang rasanya enggak kunjung berhenti; pengamen.

Pengamen di Kopaja terasa sangat kasar bagiku yang tinggal di daerah. Di daerah, meski ada pengamen, tetapi pengamennya rata-rata sopan. Saat di Kopaja, aku shock dengan pengamen yang memaksa dan memasang tampang sangar seolah-olah akan melukai jika tidak mengisi kantong permen yang dibawanya. Bahkan pengamennya berani membangunkan penumpang yang sedang tertidur.

Uni Eva sampai tersenyum dan menjelaskan beginilah kerasnya kehidupan di Jakarta dan semuanya harus terbiasa dengan hal ini. Jakarta adalah kota dimana aku enggak berani menyeberang sendirian. Selama dua minggu berada di Jakarta, belum pernah sekalipun aku bepergian sendirian dan enggak ada niat untuk ngebolang sama sekali. Takut ilang dan enggak bisa balik lagi. Hahahaha.

Telingaku yang Istimewa dan Logat Bicara Ibu Kota

Salah satu hal lucu yang selalu kutertawakan saat mengingatnya adalah kesulitanku untuk mengikuti pembicaraan orang Ibu Kota. Cepat, keras, saling bersahutan dan kayak enggak punya jeda. Aku yang orang Jawa, terbiasa membaca bibir dengan logat lemah gemulai langsung jetlag begitu berbicara dengan orang yang mempunyai logat Ibu Kota.

Aku sering meminta Uni Eva dan keluarganya untuk memperlambat kecepatan bicara. Lha piye, Rek, rasanya kayak anak baru jalan diajak lari maraton. Hahahaha. Logat bicara Ibu Kota yang serba cepat juga mencerminkan gerak cepat warga Ibu Kota. Semua serba thas-thes. Jalan kaki udah kayak lari. Mana ada jalan santai menikmati pemandangan, yang ada jalan bekerjaran dengan waktu, bekerjaran dengan kereta, dengan bis yang enggak bakal berhenti menunggu penumpang turun. Bisnya cuma melanin jalan doang dan penumpang kayak harus lompat. Hahaha.

Dua minggu di Jakarta, dua minggu di Lampung, aku terbiasa dnegan logat bicara yang serba cepat dan ketika kembali ke Salatiga kayak menghadapi slow motion. Wkwkwkwk.

Meskipun begitu, jika ada kesempatan untuk iburan ke Jakarta aku tetap akan berangkat menikmati Ibu Kota, tetapi tidak untuk menetap. Mengunjungi situs sejarah dan silaturrahim secara nyata dengan orang-orang yang dikenal adalah salah satu cara untuk mengistirahatkan otak dari urusan dunia yang enggak habis-habis.

 

 

 

Tanya Jawab Anda memiliki pertanyaan seputar artikel yang dibahas atau topik lain? Silahkan ajukan pertanyaan Anda melalui program Tanya Nusagates atau posting di Forum Nusagates.
Konsultasi terkait tugas sekolah atau tugas kuliah juga diperbolehkan.
Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tanggapan Kamu?

Back to top button
Close
Close