Beranda blog Halaman 78

Mbok'e, Bahagiakah Engkau di Sana?

    0

    Mbok’e! Begitulah biasa aku memanggilnya. Beliau adalah ibu dari ibuku. Dengan kata lain, beliau adalah nenekku.

    Nenek telah wafat setahun yang lalu. Ketika itu, aku dalam perjalanan ke Pati, ke tempat kerja di PT. Adisanekta Podomarem Group. Karena saat itu keuanganku menipis, aku tidak pulang meskipun kesedihan yang kurasakan sangat dalam.

    Usai sholat maghrib tangisku pecah. Kehilangan nenek membuatku merasa sangat sedih hingga tak mampu menahan airmataku. Terlebih lagi, aki tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman beliau. Aku hanya bisa mendoakan dari jauh. Dengan suara terbata-bata kubacakan surat Tabarok dan Yasin dan dilanjut dengan tahlil untuk kuhadiahkan kepada nenek. 

    Nenek adalah wanita terbaik setelah ibuku yang mengajariku tentang makna hidup. Beliau sangat tekun beribadah. Hingga ajal menjemput, beliau tetap istiqomah sholat berjamaah. Ketika nyawanya diambil, nenek hanya melewatkan satu sholat saja yaitu ashar.

    Sore itu, nenek mengeluh kepalanya pusing. Ketika dibopong ke tempat tidur, nenek bilang, “aku rasane wis ra kuat”. Bu lek dan keluarga yang lain segera menghubungi petugas medis. Menjelang maghrib, nenek telah meninggalkan kita semua.

    Kabar ketiadaan nenek membuat kami tergunjang. Pun warga sekitar. Siang itu, nenek masih terlihat biasa saja merawat kambing. Beliau juga masih kuat ke warung membelikan obat untuk ayamnya yang sakit. Namun, sore harinya ternyata nenek harus berpisah dengan kami.

    Aku hanya bisa mengirim doa kepada nenek. Di saat rinduku pada nenek kian membuncah seperti saat ini, aku sangat berharap bisa bertemu dengan nenek dalam mimpi. Ingin rasanya mendengar suaranya yang lembut dan meminta nasehat-nasehatnya yang bijak.

    Nenek lah yang mengenalkanku kepada thoriqoh. Kebaikan budi pekerti dan keistiqomahan nenek dalam menjalankan amalan-amalan thoriqoh membuatku sangat ingin membaiatkan diri ikut thoriqoh. Namun, ketika datang ke pondok Al-Fithrah Surabaya, pengurusnya bilang kalau sekarang sedang masa fathroh atau kekosongan mursyid sehingga untuk saat ini tidak bisa menerima pembaiatan murid thoriqoh.

    Aku berharap suatu saat bisa mengikuti thoriqoh untuk memperbaiki diri. Semoga rinduku pada nenek menambahkan kekuatan dan semangat dalam meneladani kehidupannya.

    Mbok’e! Aku menyayangimu. Semoga engkau bahagia di sana.

    Cheers
    Nusagates

    Begadang Membuat Merasa Mengantuk Sepanjang Hari

      0

      Sebagai seorang yang berprofesi sebagai pegawai lepas penulis kode, aku sering kali begadang sepanjang malam. Tidak tidur sama sekali dalam waktu 24 jam adalah hal yang biasa bagiku. Terlebih ketika kode yang harus ditulis cukup banyak dan deadlinenya mepet semua. Jatah tidur akan sangat berkurang.

      Dampak begadang sepanjang malam yang sering aku alami adalah merasa mengantuk sepanjang hari. Meskipun pagi-pagi usai sholat subuh biasanya tidur dan bangun ketika waktu dzuhur, rasa kantuk itu tidak hilang. Rasanya ingin melanjutkan tidur lagi usai sholat dzuhur. Rasa malas untuk memulai pekerjaan menjangkit dan sulit untuk dihindari.

      Ketika rasa kantuk itu diikuti dan memutuskan tidur lagi maka sampai malam tiba rasa kantuk itu tidak akan hilang. Kondisi ini diperparah ketika udara dingin akibat gerimis atau hujan yang mengguyur. Rasanya meninggalkan selimut akan sangat terasa berat.

      Kopi pahit buatan istri tidak juga mampu mengurangi rasa kantuk. Percepatan debaran detak jantung yang disebabkan oleh kafein dalam kopi tidak juga membuat mata menjadi cerah dan membuang rasa kantuk.

      Cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk yang mendera adalah dengan cara menjalankan ide-ide yang konyol dan menantang sebagai pemanasan untuk memulai pekerjaan. Biasanya aku memilih ide konyol yang tidak jauh dari urusan menulis kode. Misalnya membuat web pishing untuk ditargetkan kepada gadis cabe-cabean usia SMA. Tantangannya adalah bagaimana cara meyakinkan mereka untuk mau mengakses web pishing tersebut. Intrik dengan kekuatan penuh dimainkan untuk mengurangi saraf ngantuk memonopoli energi. Ketika saraf ngantuk kekurangan energi maka rasa kantuk itu akan berkurang secara perlahan.

      Pemanasan untuk menghilangkan rasa kantuk ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam. Tergantung seberapa besar tantangan dari ide konyol yang digunakan.

      Cukup sekian, ya. Aku sudah ngantuk lagi karena kemarin malam begadang sepanjang malam. So, malam ini harus tidur biar besok tidak membutuhkan ide konyol lagi untuk memulai pekerjaan.

      Cheers
      Nusagates

      Cara Upload Gambar Menggunakan Ajax dan PHP

        0

        Tutorial yang akan aku bagikan kali ini mengenai cara membuat uploader gambar menggunakan Ajax dan PHP. Sebenarnya tidak hanya itu yang dibutuhkan. Kita masih juga membutuhkan JQuery, CSS, dan HTML. Tutorial ini kubuat karena ternyata memang masih banyak yang kesulitan untuk mengupload gambar atau file lain melalui ajax. Rata-rata cara upload gambar yang ada di internet langsung eksekusi lewat PHP. Entah menggunakan method POST ataupun GET.

        Nah! Kebetulan kali ini aku mau buat tutorial yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Langsung saja kita mulai.

        Langkah pertama, kita siapkan form terlebih dahulu untuk menghandel pengguna di sisi klien. Kita buat sebuah file dengan nama index.html atau index.php. Lalu tambahkan tag input dan button di dalamnya.

        <form id="gambar">
                  <div class="form-group">
                    <label for="input-gambar">Pilih Gambar</label>
                    <input type="file" class="form-control" name="gambar" accept="image/jpeg"/>
                  </div>
                </form>

        Pada form di atas, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah id form dalam hal ini, aku menggunakan nama id gambar id=”gambar” , name pada tag input (aku menggunakan gambar).  Nama id form dengan name pada tag input tidak harus sama. Terakhir adalah atribut accept (pada contoh diatas valuenya adalah image/jpeg). Atribut ini untuk mencegah pengguna untuk memilih file yang tidak diperbolehkan untuk diupload. Dengan menambahkan atribut ini maka semua file yang mime typenya tidak didefinisikan tidak akan tampak.

        Kedua, kita buat sebuah tombol dengan id upload.

        <button id=”upload” class=”btn btn-info”>Upload</button>

        Id tombol atau button di atas nanti akan digunakan untuk selector jQuery.

        Ketiga, buat sebuah div dengan id/class  tampil-gambar. Pada tutorial ini, aku menggunakan id.

        <div class=”tampil-gambar”></div>

        Keempat, pastikan jQuery atau file pendukung lainnya sudah siap atau sudah diincludkan. Setelah itu, kita buat handlernya ketika tombol upload diklik menggunakan jQuery.

        $(function () {
        $("#upload").on("click", function () {
        
        kode selanjutnya di sini...
        
        });
        });

        Perlu diperhatikan:

        $(function(){ }); bisa diganti dengan $(document).ready(function(){ });

        $(“#upload”).on(“click”, function(){ }); tidak bisa diganti dengan $(“#upload”).click(function(){ }); Meskipun keduanya sama-sama bisa menghandel event tetapi hasilnya berbeda. Jika diganti dengan kode yang kedua tersebut maka data gambar tidak bisa dikirim menggunakan ajax. Dalam kata lain, data yang dikirimkan selalu kosong (empty).

        Selanjutnya, kita mengambil data gambar dari tag input kemudian disimpan ke dalam variabel data (namanya tidak harus data).

        var data = new FormData($(“#gambar”)[0]);

        Membuat variabel untuk tomboal agar lebih mudah memanipulasinya.

        var btn = $(this);

        Ketika tombol diklik, kita rubah teksnya menjadi memroses… atau teks lainnya.

        btn.html(“<i class=’fa fa-spin fa-spinner’></i> Memroses…”);

        Keterangan: kombinasi class fa fa-spin fa-spinner akan menampilkan ikon oval yang berputar. Untuk menggunakan class ini dibutuhkan Font Awesome. jika font tersebut tidak ada, tidak akan merusak tampilan. Hanya ikon berputar tidak tampak.

        Selanjutnya kita cek dulu apakah pengguna sudah memilih gambar apa belum. Jika belum, maka ketika tombol upload diklik kita tampilkan alert/pemberitahuan kalau gambar belum dipilih. Sebaliknya kalau sudah memilih gambar dan klik tombol upload maka kita eksekusi ajax untuk upload. Logika untuk ngecek pengguna sudah memilih gambar atau belum seperti di bawah ini:

        if ($("#gambar input[type=file]").get(0).files.length!==0) {
        alert("Anda Belum Memilih Gambar");
        }
        else{
        Eksekusi ajak di sini...
        }

        Cara di atas bisa disederhanakan. Namun, agar tutorial ini bisa dipahami berbagai karakter dan pengetahuan pembaca maka dibiarkan seperti itu biar mudah dipahami.

        Selanjutnya kita buat ajaxnya untuk menangani pengiriman data gambar ke php dan mengambil hasilnya untuk ditampilkan ke pengguna. Script ajax tersebut adalah:

        $.ajax({
                          url: "data.php",
                          method: "post",
                          cache: false,
                          contentType: false,
                          processData: false,
                          data: data,
                          success: function (msg) {
                              if (msg === "0") {
                                  alert("Upload Gagal!");
                              } else {
                                  setTimeout(function ()
                                  {
                                      $(".tampil-gambar").html("<img  class='img-responsive img-thumbnail img-circle' src='gambar/" + msg + "?foo=" + new Date().getTime() + "'/>");
                                  }, 500);
        
                              }
                              btn.html("Upload");
                          }
                      });

        Yang perlu diperhatikan dalam script ajax di sini adalah penggunaan cache: false,  contentType: false, processData: false. Tanpa ketiganya, data yang dikirimkan ajax adalah 0 alias kosong.

        Kedua penggunaan fungsi setTimeout() digunakan untuk menampilkan gambar ketika gambar yang diupload berbeda namun di server namanya sama (overwrite). Tanpa menggunakan fungsi ini sebenarya bisa. Cukup menambahkan random kueri url seprti contoh do atas yaitu “?foo=”+new Date().getTime() dengan menambahkan kueri url dengan value yang unik maka gambar akan tetap berubah meskipun namanya ketika diupload ke server sama seperti gambar sebelumnya(overwrite).

        Terakhir adalah handler untuk upload dari sisi server menggunakan PHP. Buat file PHP dengan nama data.php di folder yang sama dengan index.html atau index.php. Ketikkan script berikut:

        $file = !empty($_FILES['gambar']) ? $_FILES['gambar'] : null; // digunakan untuk mengambil data gambar
          if (!$file || !$file['size'])exit('0'); // ketika ukuran/size gambar kosong langsung exit.
          if ($file['error'])exit("0"); // ketika proses upload error langsung exit
          if (!preg_match('~/jp(e|)g$~', $file['type']))exit("0"); // ketika tipe file tidak jpg/jpeg exit
          if (!is_dir("gambar/"))exit("0"); // jika folder gambar tidak ada langsung exit.
          $nama = 'gambar.jpg';
          if (move_uploaded_file($file["tmp_name"], 'gambar/' . $nama)) {
            echo $nama;
          }

        Keterangan: Angka 0 (nol) bisa diganti dengan keterangan error sesuai jenisnya masing-masing dan ditampilkan ke klien melalui ajax respose.

        Script index.php atau index.html lengkap adalah seperti ini:

        <!DOCTYPE HTML>
        <html>
          <head>
            <link href="https://nusagates.com/demo/bootstrap/css/bootstrap.min.css" rel="stylesheet">
            <link href="https://nusagates.com/demo/style.css" rel="stylesheet">
            <script src="https://nusagates.com/demo/js/jQuery-2.1.4.min.js"></script>
            <title>Demo Nusagates</title>
            <meta charset="utf-8">
            <meta name="viewport" content="width=device-width, initial-scale=1, shrink-to-fit=no">
          </head>
          <body>
            <nav class="navbar navbar-toggleable-md navbar-inverse bg-inverse fixed-top">
              <button class="navbar-toggler navbar-toggler-right" type="button" data-toggle="collapse" data-target="#navbarsExampleDefault" aria-controls="navbarsExampleDefault" aria-expanded="false" aria-label="Toggle navigation">
                <span class="navbar-toggler-icon"></span>
              </button>
              <a class="navbar-brand" href="#">Demo</a>
        
              <div class="collapse navbar-collapse" id="navbarsExampleDefault">
                <ul class="navbar-nav mr-auto">
                  <li class="nav-item active">
                    <a class="nav-link" href="#">Home <span class="sr-only">(current)</span></a>
                  </li>
                  <li class="nav-item">
                    <a class="nav-link" href="#">Link</a>
                  </li>
                  <li class="nav-item">
                    <a class="nav-link disabled" href="#">Disabled</a>
                  </li>
                  <li class="nav-item dropdown">
                    <a class="nav-link dropdown-toggle" href="http://example.com" id="dropdown01" data-toggle="dropdown" aria-haspopup="true" aria-expanded="false">Dropdown</a>
                    <div class="dropdown-menu" aria-labelledby="dropdown01">
                      <a class="dropdown-item" href="#">Action</a>
                      <a class="dropdown-item" href="#">Another action</a>
                      <a class="dropdown-item" href="#">Something else here</a>
                    </div>
                  </li>
                </ul>
                <form class="form-inline my-2 my-lg-0">
                  <input class="form-control mr-sm-2" type="text" placeholder="Search">
                  <button class="btn btn-outline-success my-2 my-sm-0" type="submit">Search</button>
                </form>
              </div>
            </nav><div class="container">
          <div class="starter-template">
            <h1>Upload File Dengan jQuery - Ajax - PHP</h1>
            <p class="lead">
              Demo upload file menggunakan jQuery, Ajax, dan PHP bisa dilihat dan dicoba pada demo di bawah ini. <br/><br/><hr/>
            <div class="row text-left">
              <div class="col-md-6">
                <form id="gambar">
                  <div class="form-group">
                    <label for="input-gambar">Pilih Gambar</label>
                    <input type="file" class="form-control" name="gambar" accept="image/jpeg"/>
                  </div>
                </form>
                <button id="upload" class="btn btn-info">Upload</button>
              </div>
              <div class="col-md-6">
                <div class="tampil-gambar"></div>
              </div>
            </div>
            </p>
          </div>
        </div>
        <script>
          $(function () {
              $("#upload").on("click", function () {
                  var data = new FormData($("#gambar")[0]);
                  var btn = $(this);
                  btn.html("<i class='fa fa-spin fa-spinner'></i> Memroses...");
                  if ($("#gambar input[type=file]").get(0).files.length!==0) {
                      $.ajax({
                          url: "data.php",
                          method: "post",
                          cache: false,
                          contentType: false,
                          processData: false,
                          data: data,
                          success: function (msg) {
                              if (msg === "0") {
                                  alert("Upload Gagal!");
                              } else {
                                  setTimeout(function ()
                                  {
                                      $(".tampil-gambar").html("<img  class='img-responsive img-thumbnail img-circle' src='gambar/" + msg + "?foo=" + new Date().getTime() + "'/>");
                                  }, 500);
        
                              }
                              btn.html("Upload");
                          }
                      });
                  }
                  else{
                    alert("Silahkan pilih gambar");
                    btn.html("Upload");
                  }
              });
          });
        </script>
        <script src="https://nusagates.com/demo/bootstrap/js/bootstrap.min.js"></script>
        </body>
        </html>

        Demo Upload gambar menggunakan Ajax dan PHP ini bisa dilihat di halaman ini. Jika ada pertanyaan lebih lanjut atau ada kendala ketika mencoba tutorial ini bisa menghubungi admin melalui kolom komentar, Google Hangout atau email ke nusagates@gmail.com, atau melalui sosial media yang tersedia. Terimakasih telah berkenan mampir.

         

        Cheers
        Nusagate

        ​Demi Agama, Orang Rela Berbuat Dosa.

        Suatu hari, Abu Nawas berjalan di tengah pasar sambil menengadah melihat ke dalam topinya. Orang banyak memperhatikannya dengan wajah heran. Apakah Abu Nawas telah gila? Apalagi dia melihat ke dalam topinya sambil tersenyum.
        Salah seorang datang menghampirinya dan bertanya, ”Wahai saudaraku, apa yang sedang kamu lihat di dalam topi itu?” ”Aku sedang melihat surga, lengkap dengan barisan bidadari,” jawab Abu Nawas. ”Coba aku lihat! Aku tidak yakin kamu bisa melihat seperti yang saya lihat,” kata orang itu.

         ”Mengapa?” tanya Abu Nawas, dan menambahkan, ”Hanya orang beriman dan saleh saja yang bisa lihat surga di topi ini.”

        Orang itu tergoda dan kemudian melihat ke dalam topi. Sejenak dia berkata, ”Benar. Aku melihat surga di topi ini dan juga bidadari.” Orang itu berteriak dan didengar orang banyak. Abu Nawas tersenyum. 

        Banyak orang kemudian ingin melihat surga di dalam topi. Tetapi, Abu Nawas mengingatkan, ”Hanya orang beriman dan saleh yang bisa lihat surga di dalam topi ini. Yang tak beriman tidak akan melihat apa pun.” 

        Satu demi satu orang melihat ke dalam topi Abu Nawas itu. Ada yang dengan tegas menyatakan melihat surga, dan ada juga yang lalu mengatakan, Abu Nawas berbohong. Abu Nawas tetap tenang saja sambil menebar senyum.

         Akhirnya, yang tidak melihat surga di dalam topi itu melapor kepada Raja dengan mengatakan, Abu Nawas menyebarkan kebohongan.

        Raja pun memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya. ”Abu Nawas. Benarkah kamu bilang, orang dapat melihat surga di dalam topimu?” tanya Raja.

        ”Benar, Raja. Tetapi, yang bisa lihat hanya orang beriman dan saleh. Yang tidak bisa melihat itu artinya dia tidak beriman dan tidak saleh,” jawabnya tenang.

        ”Oh, begitu? Coba saya buktikan, apakah benar ceritamu itu,” kata Raja, yang lalu melihat ke dalam topi. Setelah melihat ke dalam topi, Raja terdiam. Dalam hati Raja berkata, ”Benar, tidak tampak surga di dalam topi ini. Tetapi, kalau aku bilang tidak ada surga, orang banyak akan mengatakan bahwa aku tidak beriman. Tentu akan hancur reputasiku.”

         Lantas Raja berkata, ”Benar! Saya sebagai saksi, di dalam topi Abu Nawas kita bisa melihat surga dengan sederetan bidadari.” Setelah Raja mengatakan hal itu, orang yang mendengarnya menerima cerita Abu Nawas karena khawatir berbeda dengan Raja, dan yang lebih penting akan dicap sebagai tidak beriman.

        ~…….~

        Bersenjatakan ”surga”, Abu Nawas mampu membuat orang—yang takut kehilangan jabatan, kehilangan kekuasaan, tidak populer, dan dianggap tidak beriman—membuang akal sehat, mematikan akal sehat, dan melakukan kebodohan. Karena itu, masuk akal yang dikatakan oleh Lucretius (penyair Romawi 99-55 SM) “tantum religio potuit suadere malorum”, betapa hebatnya agama sampai bisa mendorong berbuat jahat.

        Kejahatan karena agama dalam sejarah manusia banyak terjadi di mana-mana, di seluruh dunia, termasuk di negeri kita. Dunia pernah diwarnai dengan Perang 30 Tahun (1618-1648) antara Katolik dan Protestan di wilayah yang sekarang menjadi Jerman, perang di Irlandia Utara antara Protestan dan Katolik, Perang Salib, konflik Sunni dan Syiah di Irak, konflik Hindu dan Muslim di India, dan masih banyak lagi, termasuk kekejaman-kekejaman karena agama.

         Fanatisme agama yang berlebihan, yang kelewat batas, telah meruntuhkan toleransi antarmanusia yang aneka ragam ini. Agama digunakan sebagai senjata untuk melegalkan semua cara, termasuk untuk tujuan-tujuan politik.

        Demi agama, orang bisa menyakiti orang lain, seperti yang terjadi di Myanmar, Suriah, Nigeria, Pakistan, Afganistan, Somalia, dan jangan lupa termasuk Indonesia. 

        Bahkan, teriakan Donald Trump ketika kampanye dan kebijakannya pun bermuatan kebencian agama dan ras. Kalau keberadaan agama harus dibela dengan kekerasan, apa sumbangannya terhadap peradaban manusia? Bukankah toleransi, saling menghormati, saling menghargai, persaudaraan, merupakan ungkapan keberadaban manusia? 

        {KOMPAS,  26 Februari 2017, Trias Kuncahyono} dengan penggubahan judul.

        Politik dan Agama
        Ilustrasi Agama dan Politik

        Prakash Jha dan Proyeksi Politik di Sinema Bollywood

        Ini tulisan Guru saya, Ustadz Chaerul Anwar, dalam acara pengajian bagi siswa di Musholla Ibnu Rusyd, di MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo, kurang lebih 16 tahun silam, menyelipkan cerita apabila film India adalah sinema yang berani dan apa adanya menyajikan realitas politik secara blak-blakan. Menteri korup, aparat kepolisian penerima suap, pejabat yang berkolusi dengan gangster, pengusaha yang menyogok penguasa demi tender, dan busuknya dunia politik lainnya. Plot di atas sedikit menempatkan film Bollywood di atas film bikinan sineas Indonesia yang, saat Orde Baru berkuasa, ceritanya hanya begitu-begitu saja.

        Baik, mungkin guru saya sudah lupa pernah menyatakan hal demikian, hehehe, tapi bagi saya apa yang beliau katakan masih relevan hingga kini, khususnya manakala saya menikmati film India. Salah, anda salah, kalau masih menganggap Bollywood hari ini sama dengan era Dharmendra yang dikeroyok massa satu kampung tapi masih baik-baik saja dan justru pengeroyoknya yang babak belur, atau zaman Mithun Chakraborty yang dengan posisi di atas sepeda onthel masih bisa menghajar selusin preman bersenjata tongkat hoki, atau ketika Anil Kapoor menjadi Inspektur Vijay di mana penjahatnya jatuh duluan sebelum dipukul. Tidak, Bollywood dalam satu dasawarsa terakhir lebih berwarna. Bukan lagi dengan plot hitam putih, dan cerita asmara, melainkan lebih dari itu, banyak jenisnya: sci-fi, horror, politik, kriminal, detektif, thriller, biopic, pendidikan, drama-ironi-satire dan sebagainya.

        Pertumbuhan ekonomi India yang relatif stabil diiringi dengan kemauan para produser dan sutradara untuk mengembangkan kualitas garapannya saya kira menjadi salah satu faktor yang cukup mempengaruhi daya tarik Bollywood. Ini belum menghitung pola kerjasama para produser Bollywood dengan rumah produksi Hollywood, seperti yang dijalani Aamir Khan dengan Walt Disney dalam “Dangal”, maupun keterlibatan Fox Studios dan Dreamworks dalam beberapa produksi film madzhab Mumbai sebelumnya. 

        Bandul Revolusi dari Johar

        Akhir era 1980-an hingga dasawarsa 1990-an, di saat pamor Rishi Kapoor, Mithun Chakraborty dan Jeetendra ngedrop, bintang kejora dinasti Khan mulai kelihatan. Kuartet Khan: Aamir, Salman, Sakh Rukh, sampai Saif Ali (kemudian menyusul Fardeen Khan bin Feeroz Khan). Mereka bersaing dengan pemilik wajah ganteng berminyak, otot yang mengawat dan bulu dada yang dipamerkan dalam setiap adegan adu jotos: Sunny Deol, Sanjay Dutt, Jackie Shroff, Sunil Shetty dan Akshay Kumar. Ditambah satu orang playboy berkumis tebal: Anil Kapoor. Semua  muncul dengan karakternya: baik hati, menang dalam palagan jalanan menghadapi lawan (yang pasti jelek-jelek dan kumuh! hahaha), pembela kebenaran, sayang ibu dan adik perempuan, dicintai dan mencintai seorang gadis, dan jago menari. Plot yang khas! Ini nyaris ditemui dalam film tahun 1990-an. Madhuri Dixit, Juhi Chawla, Manisha Koirala, Raveena Tandon, Karishma Kapoor adalah deretan ratu sinema yang menjadi heroine-nya para hero Mumbai. 

        Lalu revolusi datang. Shah Rukh Khan, yang biasanya hanya menjadi pemeran pendamping, atau pemeran utama dengan ciri khas alis melengkung di “Darr”, “Karan Arjun”, “Dilwale Dulhaniya Le Jayenge”, tampil dalam revolusi film yang ditabuh sutradara muda, Karan Johar, melalui, ah, anda tahu sendiri lah film yang dibintangi bersama Kajol dan Rani Mukherjee itu. 

        Mengapa saya sebut revolusi? Karena Karan Johar melakukan sesuatu yang bakal mempengaruhi sinematografi Bollywood selama hampir satu dasawarsa berikutnya: menghilangkan tampilan Mumbai yang kumuh, meniadakan Delhi yang semrawut, mengandangkan mobil Ambassador yang bertuknya mirip VW Kodok itu, tak ada adegan adu jotos dengan lakon–meminjam istilah Cak Mahfud Ikhwan—angry young man, tak ada juga laki-laki dengan otot gagah dan bulu dada yang lebat, juga tak ada polisi India yang buncit, berkumis, dengan seragam coklat dan datangnya telat. 

        Johar menampilkan sesuatu yang baru: film dengan fashion yang berwarna-warni, glamour, penampilan para aktor yang ke-Barat-Baratan tapi tetap menghormat bendera India, laki-laki yang cengeng (saya kira ini tetap dari dulu!), dan jalinan kisah cinta yang rumit. Dia memadukan kembali chemistry yang melekat antara Shah Rukh Khan dengan Kajol sejak Dilwale Dulhaniya Le Jayenge, yang dengan segera mengobati kerinduan publik India setelah duet Dharmendra-Hema Malini yang telah pensiun, Amitabh Bachchan-Rekha yang pudar, maupun Aamir Khan-Pooja Bhat yang melejit lalu tenggelam. Ya, persis kita yang mengamini kecocokan Nicholas Saputra-Dian Sastro, Reza Rahadian-Bunga Citra Lestari, maupun Si Buta Dari Goa Hantu dengan Kliwon di pundaknya. Hahaha….

        Apa yang dimulai Karan Johar dengan segera menjadi tren di Bollywood. Pamer keglamouran, mobil mewah, syuting kebanyakan di Eropa, dan mengisahkan kelas menengah India yang tinggal di Barat, menjadi menjadi tren berikutnya di era 2000-an hinga satu dasawarsa berikutnya. Film “Kabhie Khusie Kabhie Gham”, “Kal Ho Na Hoo”, “Krrishh”, “Kabhi  Alvida Na Kehna” dan serial “Dhoom”, antara lain mewakili aspek ini. Setidaknya ini bisa kita lihat dari berbagai film yang dibintangi trio Khan: Shah Rukh, Salman, dan Aamir, maupun Hrithik Roshan dan sebagainya. Semua serba wah—sesuatu yang dimunculkan kembali oleh Rohit Shetty melalui “Dilwale” (2015) dan jeblok di pasaran.

        Mungkin dalam kesempatan lain akan saya ulas pengaruh Johar dalam perfilman Bollywood lebih lanjut. Dalam tulisan ini, sejujurnya, saya jatuh cinta pada produk garapan Prakash Jha, baik sebagai sutradara maupun produser. Berbeda dengan gaya Karan Johar dengan sodoran film-film romatis dengan cerita kompleks dan pemandangan indah; Yash Raj yang selalu menampilkan kisah cinta romantis; Ashutosh Gowariker yang realis; Rohit Shetty yang selalu menampilkan corak warna yang fun, mobil mewah dan ledakan dalam berbagai karyanya; Sanjay Leela Bhansali yang menampilkan unsur glamour, klasik, dan tatacahaya yang menakjubkan; penuh special efek seperti karya Rakesh Roshan; plot yang tidak diduga seperti karya Rajkumar Hirani; film dengan sudut padang gelap seperti garapan Nishikant Kamat; hingga garapan Rakeysh Omprakash Mehra  yang selalu ada adegan orang mabuk itu, hahaha. Namun, dari sekian banyak sutradara yang saya sebutkan, bagi saya Prakash Jha ini unik.

        Sebatas pemahaman saya, Prakash Jha spesialis sutradara maupun produser film bertema politik. Latarbelakangnya sebagai pegiat LSM dan aktivis partai lokal membuatnya memilih berkutat pada isu sosial-politik melalui sinema bikinannya. Ada beberapa karyanya yang sudah saya tonton. Antara lain Mrityudand (1997), Apaharan (2005), Raajneti (2010), Chakravyuh (2012), dan Satyagraha (2013). Semua bertema politik, termasuk yang belum saya tonton: Damul (1984), Gangaajal (2003) Aarakshan (2011). Khusus untuk Dil Kya Kare (1999), saya nonton, tapi ini bukan film intrik politik, melainkan keluarga.

        Melalui Mrityudand (1997), Jha mengerek ketidakadilan jender, segregasi kasta dan pandangan minor terhadap perempuan. Dalam Apaharan (2005) Jha menyoroti sistem rekrutmen polisi di negaranya yang korup dan penculikan yang menjadi bisnis terselubung. Sedangkan dalam Rajneeti (2010), dia mengangkat kembali intrik ala Mahabharata dalam konteks perpolitikan modern di India dan silangsengkarut dinasti politik di dalamnya. Sedangkan melalui Chakravyuh (2012), Jha mengangkat kisah kaum Maois yang memperjuangkan ideloginya. 

        Tapi, bagi saya, Satyagraha (2013) adalah karya terbaik Jha. Tampaknya ada beberapa aktor langganan Jha yang senantiasa dia libatkan dalam berbagai karyanya, termasuk dalam Satyagraha ini: Kareena Kapoor, Arjun Rampal, Ajay Devgan, Amitabh Bachchan, dan Manoj Bajpai (yang selalu jadi lakon antagonis). Kecuali Kareena, keempat  pria ini sudah bekerjasama dalam beberapa proyek garapan Jha sebelumnya.

        Jha seolah mendobrak kebekuan film-film Bollywod yang terpaku pada pakem asmara, maupun kisah hitam putih antara si kaya dan miskin, antara tuan tanah dengan petani kere, dan kisah klasik lainnya. Dia menerabaskan dengan menggeret hal-hal yang tabu dalam politik tapi benar-benar ada: pengokohan dinasti politik, pengusaha tukang sogok, makelar dalam tender pembangunan fasilitas publik, polisi korup, administrasi yang bobrok dan segala macam hitam putih dunia politik.

         Setidaknya ini yang dia angkat dalam beberapa sinema garapannya, yang kemudian dia gabungkan kesemuanya dalam Satyagraha (2013). Sesuai judul yang diambil dari istilah gerakan damai yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi puluhan tahun silam, Satyagraha mengisahkan seorang guru tua, Dwarka Anand (diperankan oleh Amitabh Bachhan) yang menggerakkan revolusi di sebuah kita kecil. Revolusi melawan sistem korup yang dibantu pengusaha Manav (Ajay Devgan), aktivis LSM politik yang diperankan dengan apik oleh Arjun Rampal, serta jaringan publikasi yang dimotori oleh wartawati Yasmin Ahmed (Kareena Kapoor). Semua pola kerja politik yang kotor disajikan lengkap dengan berbagai intrik dan tekanan psikologis para penggerak revolusi. Harus diakui, Jha memang jago mengocok plot dalam beberapa karyanya. Sedangkan Amitabh Bachchan, seperti Sean Connery di Hollywood, semakin tua semakin berwibawa dengan aktingnya yang masih jempolan.

        Garapan Jha lainnya, Rajneeti (2010), memang bagus, tapi sangat rumit dan kompleks bagi yang belum memahami sitem politik di India maupun jalan cerita Mahabharata. Sedangkan untuk memahami Chakravyuh (2012), minimal kudu mengerti latarbelakang kaum komunis madzhab Mao Zedong ini melakukan perlawanan terhadap pemerintahan India. 

        Harus diakui, garapan-garapan Jha turut memperkaya wajah sinema Bollywood yang semakin  berkembang dengan corak tema yang beragam dalam satu dasawarsa terakhir ini. Khususnya yang berkaitan dengan dimensi sosial politik garapan sutradara lain. Misalnya Rang de Basanti (2007) yang mengisahkan para mahasiswa skeptis yang menempuh jalan para martir di masa lalu, beserta jalinan skandal pembelian pesawat MiG dari Rusia yang melibatkan kementerian pertahanan India, jenderal AU dan para pengusaha impor alutsista. 

        “Madaari” (2015) mengetengahkan kisah sederhana. Seorang bapak yang menuntut keadilan kepada pemerintah akibat anak kesayangannya tewas dalam peristiwa ambruknya jembatan. Dia nekat menculik anak kesayangan menteri dalam negeri untuk membongkar skandal pembangunan jembatan. Anak yang kehilangan anaknya, menteri dalam negeri yang mementingkan reputasi politiknya dibanding nyawa anaknya, pemborong yang menyogok bendaraha partai agar diberi tender, maupun pemborong yang mengurangi kualitas bahan baku agar bisa mengambil keuntungan. Semua diolah dengan bagus oleh Nishikant Kamat, dan diperankan dengan baik oleh Irrfan Khan, aktor yang saat berakting terlihat sangat alami dan mengalir. Ini sebenarnya film thriller yang dikemas dengan bungkus politik. Kalau film thriller lainnya yang bagus, “Talaash” (2012)-nya Aamir Khan, “Kahaani” (2012)-nya Vidya Balan dan Nawazuddin Shiddiqui,  serta “Drishyam” (2015)-nya Ajay Devgan, saya kira pantas diberi nilai A.

        Saya yakin, masih banyak film Bollywood bergenre politik yang belum saya tonton. Namun, yang terbaru, “Anna” (2016), saya kira masuk daftar tonton berikutnya. Ini adalah biopic yang mengisahkan Kisan Baburao Hazare alias Anna Hazare, pejuang anti kekerasan yang mempelopori pemogokan massal yang membuat pemerintah India mengesahkan UU Antikorupsi. 

        Jika politik diartikan Who Get What, How and Why, sebagaimana kata Harold D. Laswell, maka beberapa judul yang saya sebutkan di atas tampaknya layak untuk disebut sebagai film bergenre politik. Dan jenis ini, saya yakin, akan terus berkembang di Bollywood. Resikonya, jumlah lagu semakin minim, kalaupun ada lebih ngepop dengan suara khas penyanyi playback generasi terbaru yang mulai terkerek seperti Kunal Ganjawala, Vishal Dadlani, Arjit Singh, Antara Mitra, dan lain sebagainya yang perlahan-lahan menggeser suara penyanyi playback favorit saya: Kumar Sanu, Udit Narayan, Sonu Nigam, Abhijeet, Alka Yagnik dan Sunidhi Chauhan. Ini yang saya sayangkan, tapi apapun itu, keep calm and humko humise churalo…..

        Wallahu A’lam Bisshawab

        Penulis
        Rijal Mumazziq .Z

        Menata Niat Menjadi Warga NU

          0

          Saya mantep ber-NU meski sampai sekarang juga belum punya KartaNU. Di NU, saya niati ndandani awak alias memperbaiki diri sebagaimana pesennya KH. A. Muchith Muzadi. Karena itu ya harus siap berproses. Siap tombok, siap urunan dan siap gegeran wkwkwk…

          Maka, kalau ada yang bilang “Nggak NU, NU an. Sing penting Aswaja.” ya nggak masalah. Itu hak yang ngomong, kok. Tapi, monggo dicermati, yang kemana-mana bilang begitu biasanya juga nggak pernah merasakan suka duka berproses di NU. 

          KH. Mftahul Achyar
          KH. Mftahul Achyar

          Kalaupun ada yang pernah jadi pengurus NU kemudian berhenti lalu bilang begitu, KAYAKNYA salah niat sejak awal: niat memperbaiki NU, weleh, bukan niat memperbaiki diri melalui NU. Akhirnya ya kegeden niat, malah terpontal-pontal. Nggak tahan dengan tantangan. Maklum, niat memperbaiki bahtera yang sedang melaju. 

          Ada juga yang tidak sadar diri dan tidak tahu diri. Ini biasanya dialami oleh orang yang sudah gumede sejak awal. Karena sudah menganggap dirinya gede, maka ketika idealismenya dihadapkan pada dinamika organisasi, dia tidak mau bersikap REALISTIS dan tabrak sana-sini lalu menganggap apabila orang lain harus tunduk pada keinginannya. Padahal, kita tahu, organisasi adalah wadah kompromi gagasan, bahkan pertarungan ide. Dibutuhkan kecemerlangan menyampaikan ide, komunikasi yang baik antar orang-orang yang ada di dalam organisasi, dan daya pikat agar gagasannya diterima. Nah, ketika orang ini tidak mampu mengkomunikasikan idenya dengan baik kepada orang lain, dia akan membuat front tersendiri. Puncaknya, biasanya ya malah menjelek-jelekkan organisasi yang pernah diikutinya. Ada? Banyak. Hahaha Yang terakhir ini punya tipikal PEKERJA tolol yang selalu menyalahkan ALAT apabila kerjanya nggak beres dan  karyanya jelek.

          Lha wong para kiai sepuh yang sudah puluhan tahun mengabdi melalui NU saja nggak rewel, kok yang seumuran jagung niat ndandani NU malah umek rewel. 

          Apakah saya ta’ashub? Tenang saja, ini cuma cuap-cuap kok, karena ibuuuu memberiku Combantrin, agar caciiiing ca-cing KO…

          Penulis
          Rijal Mumazziq Z.

          Karena Menjambret, Pria Ini Batal Menikah

            0

            Melaka, 22 Feb – Seorang calon pengantin nekat menjambret seorang wanita warga Indonesia di jalan Pantai Peringit, Malaka tengah. Menurut Sinar Online, tersangka menjambret wanita tersebut untuk mencari tambahan uang untuk biaya pernikahan yang akan dilangsungkan pada bulan maret ini.

            Aksi penjambretan tersebut gagal lantaran ia terjatuh dari sepeda motor ketika seorang laki-laki yang melihat kejadian tersebut langsung mengejar dan menabraknya menggunakan sepeda motor.

            Sementara itu, Kepala Polisi Melaka Tengah, Asisten Komisaris Shaikh Abdul Adzis Shaikh Abdullah berkata berdasarkan pemeriksaan awal diketahui tersangka tersebut nekat melakukan penjambretan dikarenakan terdesak kebutuhan untuk biaya pernikahan yang akan dilangsungkannya bulan maret ini.

            Selain itu, menurut Abdul Adziz, tersangka penjambretan tersebut merupakan seorang residivis yang telah beberapa kali melakukan kejahatan yang sama.

            Sumber [link url=’http://www.siakapkeli.my/2017/02/lelaki-sanggup-meragut-selepas-terdesak.html’][/link]

            Pesawat PM Israel Dilarang Melintasi Indonesia

              0

              Nusagates News: Pesawat udara yang ditumpangi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dilarang melintasi zona udara Indonesia ketika hendak menuju Australia. Perjalanan dari Singapura ke Australia yang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit menjadi lebih dari 11 jam perjalanan. Hal ini disebabkan pesawat udara yang ditumpangi Netanyahu harus memutar ke timur Indonesia.

              Pesawat PM Israel tiba di bandara udara internasional Kingsford Smith, Sydney pada hari Rabu, sekitar pukul 6.30. Rencananya, Netanyahu akan melakukan kunjungan selama empat hari di Australia.

              Sementara itu, mengutip berita dari The Guardian, seorang delegasi Netanyahu mengisahkan perjalan mereka yang terlambat disebabkan karena menghindari ruang udara Indonesia dan harus melintasi wilayah udara negara lain.

              Indonesia merupakan negara yang dihuni mayoritas umat Islam dan telah menunjukkan dukungannya kepada Palestina untuk mendapatkan hak kedaulatan dan kemerdekaan dari pendudukan rezim Israel sejak tahun 1948.

              Indonesia  bersama Malaysia, Brunei Darussalam, dan 20 anggota Organisasi Serikat Islam (OIC) lainnya tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Pada maret tahun lalu, Netanyahu mengajak Indonesia untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, namun ditolak.

              Cheers
              Nusagates

              Mengajak Hati Menerima Kenyataan Hidup

                0

                Kehidupan di dunia ini penuh dengan ujian. Kaya, miskin, sehat, sakit, susah, senang, pintar, bodoh, ataupun lainnya merupakan kepingan-kepingan materi ujian yang telah dikehendaki Tuhan untuk untuk kita hadapi.

                Seorang laki-laki bisa saja diuji dengan wanita. Pun sebaliknya, wanita diuji dengan laki-laki. Pada hakikatnya, ujian itu diberikan untuk melihat seberapa jauh keteguhan hati seorang hamba dalam mengabdikan diri pada Tuhannya.

                Kita diperintah untuk bersyukur manakala menghadapi ujian berbentuk sebuah kenikmatan. Rasa syukur tidaklah cukup diungkapkan hanya dengan ucapan. Kita perlu mewujudkannya dalam bentuk tindakan yang nyata.

                Ketika ujian yang dihadapkan pada kita berbentuk suatu musibah atau hal yang membuat hati kita bersedih, kita diperintahkan untuk mengajak hati agar bersabar. Kata orang, sabar itu ada batasnya. Memang! Kalau kita membatasi diri dengan aturan-aturan yang kita rancang berdasarkan hawa nafsu, kita akan memiliki kesabaran yang terbatas. Namun, kalau kita berusaha mengikuti arus takdir, maka kesabaran kita akan cukup luas untuk menampung kepingan ujian yang dihadapkan pada kita. Begitulah janji Tuhan! Ia tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan manusia yang diuji. Jadi, ketika diuji kemudian kita merasa tidak mampu dan menganggap kesabaran kita habis, itu tandanya kita sendiri yang telah membatasi diri.

                Ketika tidak ada dada untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud. Begitulah kira-kira kalimat yang sering muncul digunakan untuk menguatkan diri seseorang. Kalimat itu bisa menjadi mantra untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan disaat kita merasa paling sengsara dan terabaikan di dunia ini.

                Jika kita mampu mendudukkan hati pada tempatnya. Bersabar atas musibah dan bersyukur atas nikmat, maka kita tidak akan mudah bersedih. Kalaupun kita terpaksa bersedih maka kesedihan itu akan berbuah kenikmatan.

                Cheers
                Nusagates

                Ceritaku 6 Jam Bersama Uber

                  0

                  Uber merupakan moda transportasi andalan ketika aku ada keperluan di Jakarta. Karena mobilitas di Jakarta yang cukup tinggi dan tidak membawa kendaraan sendiri, maka layanan transportasi umum menjadi pilihan dan Uber lah yang menjadi pilihan utama untuk sementara ini.

                  Cerita yang akan kubagikan ini terjadi 2 hari yang lalu, Selasa 21 Februari 2017, bersama seorang teman.

                  Pagi itu, usai menginap di tempat teman, temanku memesan Uber dari Univeritas Budi Luhur. Tujuan kami adalah ke Senayan. Di tengah guyuran hujan, kami menunggu driver di sebelah jembatan dekat Universitas Budi Luhur. Beberapa menit kemudian, driver datang dan kami pun bergegas naik.

                  Pagi itu, suasananya sungguh tidak enak. Jalanan yang kami tempuh tampak begitu macet. Aku pun tak menduga kemacetan akan semakin parah ketika sampai di Cileduk.

                  Ketika di Cileduk, pergerakan mobil yang kami tumpangi sangat lambat. Maju beberapa meter kemudian berhenti lagi. Begitu seterusnya. Di tengah-tengah kemacetan, driver meminta izin ke toilet sebentar jika sampai di sebuah fasilitas umum di depan. Namun, laju kendaraan yang begitu lambat membuatnya harus menahan sampai kurang lebih satu jam. Padahal jarak fasilitas umum tersebut dari kami hanya beberapa meter saja. Ketika sudah melewati kemacetan, kulihat di depan tengah terjadi banjir. Banjir itulah yang menyebabkan macet. Kulihat banyak orang berkerumun mengambil foto banjir tersebut. Seorang pengatur lalu lintas menyarankan kami balik arah kalau ragu untuk menerjang banjir. Meskipun rute yang akan kami jalani semakin jauh, driver memutuskan untuk balik arah.

                  Rute balik arah tidak macet. Rasanya sangat lega setelah terjebak macet hampir 3 jam untuk jarak tempuh yang bisa ditempuh dengan kondisi normal hanya 40 menit saja. Namun, apesnya, ketika sampai di Senayan, kemacetan itu terjadi lagi. Kulihat sedang ada demo. Kutanya temanku demo apa, katanya, itu demo 212. Masak demo yang katanya untuk kebaikan kok malah merampas kenyamanan orang lain, batinku.

                  Kami sampai di tujuan menjelang adzan dhuhur. 3 jam perjalanan. Kami meminta driver untuk menunggu karena agenda di Senayan hanya sebentar. Driver pun menyarankan kami untuk mengubah rute perjalanan ke perjalanan selanjutnya. Kami pun mengikutinya. Setelah itu kami menemui seseorang yang telah menunggu sejak pukul 10.

                  Usai menyelesaikan agenda di Senayan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Kami harus melewati kerumunan pendemo yang tergabung dalam aksi 212. Perlahan-lahan mobil yang kami tumpangi melaju hingga akhirnya terbebas dari kemacetan.

                  Akhirnya kami sampai di tujuan ke dua. Sebenarnya, kami meminta driver menunggu kami lagi, namun karena alasan mau menjemput istri, dia meminta kami untuk order driver yang lain saja. Kami pun menurut. Perhalanan kami diakhiri. Namun, alangkah kagetnya ketika melihat tagihan yang harus kami bayar sebesar Rp. 657.000.00. Kami sempat mengajukan keberatan. Perhalanan dari Univerritas Budi Luhur ke Senayan dilanjut ke Mampang Prapatan kok bisa segitu tingginya, gerutu kami.

                  Kami mengajukan keberatan kepada driver atas tarif yang dikenakan pada kami. Dia pun sebenarnya menyetujui dan mempersilahkan kami untuk membayar separohnya saja. Namun, karena kami tahu itu bukan kesalahan driver, kami membatalkan keberatan. Kami akan tetap membayarnya hanya saja sisanya ditransfer karena kebetulan waktu itu kami hanya membawa cadangan cash sedikit. Driver pum menyetujuinya. Kami pun meminta nomer rekening dan screenshot bukti tagihan driver.

                  Tagihan uber yang harus kami bayar
                  Tagihan uber yang harus kami bayar
                  Rincian Biaya Uber Yang Harus Kami Bayar
                  Rincian Biaya Uber Yang Harus Kami Bayar

                  Setelah melihat rincian tersebut, kami baru tahu kalau ada perbedaan harga yang cukup tinggi antara jam-jam macet (rush hours) dengan jam normal. 

                  Maafkan kami yang sempat menolak bayar, pak driver. Kami belum tahu rumus yang digunakan uber. Tapi, itungan jam macet dikali 3 itu cukup membuat kami tersenyum kecut. Aku tidak tahu kalau naik bemo, kopaja, atau moda lainnya apa juga diberlakukan biaya khusus untuk jam-jam macet. Mungkin lain kali nyoba angkutan tersebut dan mengomparasikan harganya biar gak penasaran. 😅 Dah Gitu aja.

                  Cheers
                  Nusagates