Nusagatizen

Heboh Tengku Zulkarnain Membandingkan Batik dengan Jubah

Masih ingat kata pepatah “mulutmu harimaumu”?. Aku tak mengerti mengapa seseorang yang diagungkan dan dipanggil dengan ustadz bisa dengan mudahnya mengangkat hal-hal yang kontroversi di tengah-tengah publik yang semakin tercerabut rasa persatuannya. Bukankah Rasulullah bersabda yang dapat dipahami jika tidak bisa berkata baik maka hendaklah kita diam.

Beberapa hari yang lalu, seorang pengguna Twitter dengan nama Tengku Zulkarnain membuat twitter yang berusaha membedakan mana yang lebih baik antara jubah dengan batik. Suatu komparasi yang tampak memaksa karena antara keduanya tidaklah dari jenis atau sifat yang sama. Intinya tidak memenuhi syarat untuk dikomparasi. Tapi aku tak akan membahas keduanya.

Jubah memanglah baik untuk dipakai. Jubah memang pakaian yang disukai Rasulullah. Memuji jubah tidaklah mengapa tapi jika memuji jubah itu disertai dengan tendensi untuk merendahkan orang lain, budaya orang lain, atau pekerjaan orang lain yang menyebabkan orang tersebut sakit hati tidaklah dianjurkan.

Mungkin ada yang bilang, “gitu aja sakit hati. Dasar Cengeng! Kan gak ada kata-kata yang menistakan batik.”. Ok! Tak mengapa. Seandainya… ini seandainya loh. Logika simbah Zulkarnain dipakai orang lain yang tidak menyukai jubah dengan permisalan begini “Koteka untuk menutup penis lebih baik daripada jubah untuk alas mesum”. Apa hubungannya koteka dengan jubah? Kira-kira sakit hati atau biasa saja? Gak perlu dijawab di sini! Renungilah.

Batik itu sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Meskipun hanya beberapa persen saja yang menggunakan batik asli. Sisanya yaa gitu deh… menggunakan motif batik cetakan pabrik. Tapi mbah… jangan dikira meskipun banyak yang pakai batik KW tapi kualitas nasionalismenya juga KW. Ya… meskipun ada juga sih yang cuma ikut-ikutan (anut grubyuk: jawa) saja. Akhirnya ya cuma jadi bahan selfi ketika ikut aksi bela ini, bela itu, bella safira, eh..

Mbah, panjenengan tahu gak berapa jumlah penenun batik asli di Indonesia? Berapa jumlah pabrik kain bermotif batik? Berapa pekerjanya? Berapa banyak orang pembuat kemeja, kebaya, selendang, dan aneka pernik pakaian berbahan kain batik? Berapa jumlah distributor batik? Berapa jumlah sopir pengantar batik? Berapa jumlah penjual batik di pasar-pasar atau di pusat perbelanjaan? Berapa banyak kah anak-anak yang disekolahkan dari produksi batik? Berapa banyak penghafal Qur’an yang dibiayai dari usaha batik? Jika seandainya simbah mau merenung berapa banyak orang yang kemungkinan sakit hati karena twit yang dibuat hanya sekian menit itu kira-kira takut apa malah bangga ya? Beneran gak takut kalau orang-orang yang merasa tersakiti hatinya itu berbondong-bondong menuntut pengadilan di akhirat kelak? Ya iya lah di akhirat! Kalau di dunia nanti malah dituduh kriminalisasi ulama kan malah tambah runyam.

Twit Tengku Zulkarnain tentang Batik dan Jubah
Twit Tengku Zulkarnain tentang Batik dan Jubah

Tahukah Kamu Arti kumulonimbus?

ku·mu·lo·nim·bus n Met awan tebal yg dapat menjulang tinggi menyerupai menara atau gunung, sebagian puncaknya mulus atau menyerupai serabut yg hampir rata
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close