Nusagatizen

Facebook Menjadi Senjata Politik

Sebuah Fenomena Media Sosial Saat Ini

Menjelang pemilu raya tahun 2019 ini, pendukung suatu partai atau tokoh yang dicalonkan untuk menduduki jabatan tertentu sudah mulai menggunakan Facebook sebagai senjata politik. Aneka macam meme, poster, video, dan berbagaimacam hasil olahan digital mewarnai semarak kampanye melalui sosial media, dalam hal ini Facebook. Adegan saling serang tampak menjadi sesuatu yang biasa ditemui meskipun sebetulnya tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena berpotensi menimbulkan konflik horizontal yang berkepanjangan.

Analisis demografi pengguna yang disediakan oleh Facebook melalui insight Facebook for Bussiness dapat digunakan untuk menetapkan target audien yang pas untuk mempromosikan seorang tokoh. Pengguna yang menyukai agama akan diberi sajian mengenai tokoh tersebut yang sangat agamis dan peduli dengan masalah-masalah keagaman. Pengguna yang menyukai bisnis bisa diberi sajian tema kampanye seputar hal itu. Hal ini sebetulnya sangat efisien jika digunakan untuk melakukan kampanye hal-hal positif.

Biaya Kampanye Murah

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tidak semua masyarakat mengenal tokoh-tokoh yang layak untuk diusung pada pemilu raya 2019. Masyarakat yang tinggal di daerah-daerah pinggiran mungkin saja tidak tahu menahu mengenai  elit politik yang sedang disiapkan untuk maju ke laga pemilu raya. Untuk itu, sosialisasi sangat diperlukan. Selain untuk mengenalkan elit politik tersebut ke masyarakat, sosialisasi juga dapat digunakan untuk menarik simpati para calon pemilih agar berkenan memilihnya di pemilu raya yang akan datang.

Kampanye model lama dengan cara melakukan tour ke daerah-daerah tentu saja membutuhkan biaya yang cukup besar. Apalagi jika politik uang masih dilakukan maka kebutuhan modal untuk kampanye model ini akan sangat membengkak. Untuk itulah, Facebook menjadi pilihan yang sepertinya ampuh untuk digunakan melakukan kampanye dengan biaya murah tetapi tepat sasaran.

Kampanye menggunakan Facebook bisa dilakukan dengan cara organik atau menerbitkan materi kampanye di akun pribadi ataupun fanspage. Namun jangkauan kampanye model ini kurang luas dan tidak bisa menarget pengguna yang sesuai keinginan. Berbeda dengan kampanye melalui layanan periklanan Facebook yang memberi kebebasan pengiklan untuk menetapkan target audiennya berdasarkan minat tertentu. Jangkauannya lebih luas tetapi bisa dibuat lebih spesifik sehingga tembakannya bisa tepat sasaran.

Penyalahgunaan Facebook Sebagai Alat Kampanye

Facebook sebagai alat politik tetap saja memiliki dua sisi yang berbeda. Ia bisa digunakan untuk menyebarkan hal-hal yang positif tetapi bisa juga digunakan untuk membagikan konten-konten negatif. Hal ini tentu saja tergantung masing-masing penggunanya.

Penyalahgunaan Facebook sebagai alat politik sering kali terjadi adalah black campaign (kampanye hitam/jahat). Kubu-kubu yang bersebrangan seakan-akan berlomba untuk menyerang lawannya dengan materi-materi yang rawan konflik seperti menggunakan isu sara, ras, agama, golongan, dan lain sebagainya. Meme, poster, video, ataupun aneka olahan digital lainnya yang menjelekk-jelekkan kubu lawan tampak biasa saja mereka lakukan. Seakan tak peduli dampak negatif dari yang dilakukannya itu.

Aturan pemerintah mengenai transaksi elektronik sepertinya tidak begitu efektif untuk menertibkan pengguna-pengguna Facebook yang melakukan ujaran kebencian, membuat atau membagikan berita hoax, ataupun menyerang tokoh tertentu. Memang ada sebagian yang diproses sesuai undang-undang yang berlaku akan tetapi masih banyak yang lolos dari jeratan hukum tersebut.

DMCA.com Protection Status
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close