Nusagatizen

Emak-emak Gendong

Sesuk adol jahene makde Tun, yo, Nduk. Sopo reti iso gawe tuku buku.1” ujar Ibu saat aku melaporkan jika membutuhkan buku paket penunjang.
Keesokan harinya, aku ikut ibu ke rumah makde Tun yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumah. Ibu menenteng lipatan garung goni dan timbangan gantung. Di pundaknya tersampir selendang kecil lusuh berwarna coklat tua. 
Dhe, ning ngendi jahene?2” celetuk Ibu saat sampai di halaman rumah makde Tun. Perempuan berambut keriting yang tengah nginang3 itu segera menggiring ibu ke kandang sapi. 
Tumpukan jahe terlihat tak jauh dari tumpukan rumput hijau persediaan pakan sapi. Aku turut menemani Ibu memilah-milih jahe. Mengelompokkan jahe berdasarkan jenis dan kualitasnya. Jahe gajah, jahe merah atau jahe keriting. Jahe yang busuk dipisahkan untuk dibuang. Setelah dipilah, jahe dimasukkan ke dalam karung untuk kemudian di timbang.
Timbangan yang telah dililit selendang diikat kuat-kuat di celah-celah pintu sebelum digunakan untuk menimbang karung berisi jahe. Makde Tun membantu Ibu mengangkat karung dengan susur masih bersarang di mulutnya. Ketika sudah selesai menimbang, biasanya Ibu akan menawar harga jahe. Tetapi, kali ini lain, Ibu sedang tidak punya uang untuk membayar jahe, kesepakatan dengan makde Tun agak berbeda; dibantu menjualkan jahenya dengan selisih harga limaratus per kg dari hasil penjualan di pasar, uang akan diantar nanti sore selepas Ibu menjual jahe ke pasar.
Rutinitas seperti itulah yang dilakoni Ibu untuk membiayai sekolahku hingga lulus SMA. Berbagai macam hasil pertanian yang dijual orang-orang di kampung menjadi salah satu perantara rejeki. Alpukat, cabe, pisang, pepaya, hingga jagung. Selepas SMA, Ibu beralih membuka usaha warung makan. Masih banyak teman-teman seperjuangan Ibu dulu yang masih setia melakoni profesi yang sama; emak-emak gendong.
Setiap sore menjelang maghrib, terlihat emak-emak berkeliling kampung dengan selendang terlilit di bahu, tangan memegang timbangan gantung dan karung goni. Mereka bertanya ke setiap rumah, adakah hasil pertanian atau peternakan yang bisa dibeli. Emak-emak perkasa yang menggendong hasil pertanian atau peternakan yang dibelinya dari petani keliling kampung, kembali mencari rumah-rumah yang akan menjual hasil pertaniannya hingga malam menjelang. Jika tiba musim panen aktivitas emak-emak ini bisa sampai larut malam.
Petani di kampung biasanya tergolong orang yang lugu. Tak jarang ada tengkulak yang membeli hasil pertaniannya jauh di bawah harga pasaran. Emak-emak gendong inilah yang menjadi penyelamat petani dari ulah para tengkulak nakal. Selisih harga yang digunakan emak gendong tidak terlalu jauh dengan harga pasaran.
Setelah sore sebelumnya bergerilya dari rumah ke rumah, saat pagi menjelang, emak-emak gendong ini akan standbye di tempat-tempat strategis untuk mencegat orang-orang yang akan membawa hasil pertaniannya ke pasar sembari mempersiapkan dagangannya untuk kembali di jual.
Kami, anak-anak kampung, sangat menyukai aktivitas yang mendadak ramai di pagi hari. Hari minggu pagi biasanya anak-anak kampung akan berkumpul di tempat emak-emak gendong ini mempersiapkan dagangannya. Kami akan mengusik aktivitas mereka, entah memilah-milah cabe hijau dan cabe merah, entah membantu ngureki4 jagung, entah membantu memilah-milah rimpang jahe ataupun mengikat kacang panjang dan sayuran lain. Hasil pertanian yang sudah dipilah-pilah itu bisa meningkatkan nilai jual daripada hasil pertanian yang masih dicampur. Setelah semuanya siap, ada mobil pick up yang akan membantu emak-emak gendong membawa dagangannya ke pasar. Biasanya setelah dagangan emak-emak gendong terangkut dan masih ada space di pick up, pick up tersebut akan menjemput emak gendong di wilayah lain.

Dokumentasi Pribadi
Aku berulang kali ikut rombongan emak-emak gendong ini saat masih kecil. Mengamati aktivitas mereka di pasar, dari mengangkut karung-karung tersebut ke tempat jual beli hasil pertanian, menimbang kembali di hadapan pembeli, hingga menghitung modal serta keuntungan yang diperoleh. 
Keberadaan emak-emak gendong ini sangat sentral di kampung kami. Saat ibu masih menjadi emak gendong, keberadaan mass market ini menjadi salah satu sumber rejeki utama untuk biaya sekolah. Sekarang, saat Ibu sudah tidak menjadi bagiannya, emak-emak gendong inilah yang menjadi andalan saat panen datang. Kami selamat dari akal-akalan para tengkulak nakal yang seringkali berbohong jika harga tengah turun melalui peran emak gendong yang membeli hasil panen dengan selisih harga yang wajar. Keberadaan emak-emak gendong juga membantu kami yang seolah tidak punya waktu untuk panen hasil kebun, mereka siap membeli langsung dari tegalan, alias membeli sekaligus memanen hasil kebun kami.
Dokumentasi Pribadi
Tak jarang, ketika ada petani yang tengah membutuhkan uang, sementara hasil kebun belum siap dipanen, emak-emak gendong ini menjadi tempat jujugan petani agar membeli hasil kebunnya dengan sistem bayar di awal. Jual-beli yang dilakukan berbeda dengan sistem jual beli ijon, dimana tengkulak membeli dengan harga jauh di bawah harga pasaran karena masih hijau–belum siap panen–. Jual-beli yang dilakukan oleh emak-emak gendong lebih manusiawi, membayar harga komoditi sekarang dengan selisih harga tertentu, kelak jika ternyata harga komoditi naik atau jumlah hasil panen melebihi perkiraan, emak-emak gendong ini akan menambahkan uang kepada petani.
#TerimakasihEmakGendong, #ThankYouMassMarket. Keberadaanmu telah memudahkan untuk memasarkan hasil kebun kami.

Dokumentasi Pribadi

Minimnya modal yang dimiliki oleh beberapa Em
ak Gendong kadangkala membuat emak gendong terpaksa menjual dagangannya ke Pedagang Besar. Alur distribusi yang panjang ini menyebabkan untung yang diperoleh Emak Gendong tidak maksimal. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang terpaksa kredit ke bank titil yang banyak beredar di pasar. Bank milik perseorangan dengan bunga tinggi yang merupakan nama lain dari rentenir. Emak-emak Gendong yang meminjam modal dari bank titil ini biasanya kewalahan untuk mengangsur cicilan plus bunga yang dibayar perhari. Tak jarang, dengan keuntungan yang tidak maksimal itu mereka mengalami kerugian karena harus membayar bunga bank titil yang terlalu tinggi.

Adanya program menabung untuk memberdayakan UMKM, muncul harapan agar Emak-emak Gendong ini bisa berkembang melalui program yang digadang-gadang oleh bank BTPN menjadi bagian penggerak ekonomi petani yang memperpendek alur distribusi hasil pertanian, menghilangkan tengkulak-tengkulak nakal yang terus berkeliaran, serta menghubungkan petani dengan produsen atau pengusaha yang membutuhkan bahan mentah dari para petani.

Kurang pas rasanya jika hanya sekedar mengharapkan orang lain yang berperan dalam pemberdayaan Emak-emak Gendong ini. Aku pun mencoba membaca lebih lanjut tentang keterlibatan nasabah bank BTPN dalam program ini. Ternyata, nasabah bank BTPN bisa berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi UMKM dengan cara menabung. Cara yang paling mudah untuk orang (sok) sibuk seperti aku yang merasa tak punya waktu lagi untuk sekedar mengurus kebun dan memasrahkan urusan kebun dengan mengutus orang lain.

Lalu, Seperti Apakah Program Menabung untuk Memberdayakan ini?

Simak simulasi menabung beriku ini;

  1. Ketik menabunguntukmemberdayakan.com atau klik Menabung untuk Memberdayakan, kemudian klik Mulai Simulasi.
  2. Pilih cara login. Aku mencoba Manual Simulasi, kemudian mengisi data yang diminta dan klik Mulai Simulasi button.
  3. Setelah itu, menentukan besaran dana dan jangka waktu menabung yang direncanakan.
  4. Besaran dana yang terkumpul dan contoh profil UMKM yang turut diberdayakan dengan program ini akan ditampilkan dalam microsite. Kita juga bisa membaca profil-profil UMKM di dalam halaman website ini.

Berikut ini ada video tutorial yang memungkinkan kita untuk melihat step bye step secara langsung tentang simulasi menabung di bank BTPN.

Ah, semoga harapan untuk Emak-emak Gendong ini mewujud nyata. Menggerakkan ekonomi di kampung yang seringkali dipermainkan oleh tengkulak-tengkulak nakal.

Catatan:
1. Besuk jual jahenya makde Tun, ya, Nduk. Siapa tahu bisa digunakan untuk membeli buku.
2. Dhe, dimana jahenya?
3. Nginang, aktivitas mengunyah daun sirih, tembakau dan jintan yang biasanya dilakukan oleh mbah-mbah putri di kampung.
4. Ngureki, memisahkan biji jagung dari bonggol jagung.

Penulis
Widi Utami

Tahukah Kamu Arti cicit-2?

ci·cit2 n tiruan bunyi suara tikus atau anak burung;

men·ci·cit v bersuara 'cit, cit' (seperti tikus atau anak burung)
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close