Eco Enzyme: Mengenal Eco Enzyme, Cara Membuat Eco Enzyme

Eco Enzyme. Ada yang sudah pernah dengar? Apakah Eco enzyme itu? Bagaimana cara membuat dan apa manfaat eco enzyme? Katanya, ini pernah viral sekitar tahun 2020. Katanya. Saya sendiri enggak tahu ada rame-rame di tahun itu selain berita covid-19 awal. Saya justru baru tahu setahun setelahnya, tepatnya sekitar bulan Juli 2021. Jauh sebelum itu, saya punya keresahan melihat sampah kulit buah yang dibuang begitu saja. Feeling saya mengatakan bahwa kulit buah ini berguna. Tapi saya masih enggak punya ide sama sekali untuk diolah apa. Sampai akhirnya, sekitar akhir Juni tahun lalu, hidayah itu akhirnya datang -sebut saja begitu.

Saat itu seorang teman online sedang membuat postingan dengan menyebut istilah yang masih asing di telinga saya, eco enzyme. Sambil mengumpulkan niat, saya yang gak tahu sama sekali dengan istilah baru itu kemudian tergerak untuk mencari tahu lebih dalam. Dari sana lah kemudian saya mendapatkan AHA moment, “Hei, bukannya ini yang saya cari selama ini?”, begitu kira-kira yang saya pekikkan dalam hati. Apa pasal? Pasalnya masalah sampah kulit buah yang jadi pikiran saya nyambung dengan konsep eco enzyme.

Akhirnya, niat pun berlanjut pada eksekusi. Juli 2021 adalah momentum bersejarah dalam per-eco enzyme-an dalam hidup saya.Karena saat itulah saya memberanikan diri mencoba membuat eco enzyme untuk pertama kalinya. Tapi sayang, belum sempat saya panen, eco enzyme perdana itu dibuang suami karena dia mengira saya menyimpan sampah di dalam toples. Dan pada akhirnya eco enzyme prematur itu dibuang sak toples-toplesnya. Sungguh terlaluuuu kauuu, Romaaa!

Terus?

Ya, bikin lagi lah. Pantang menyerah untuk masa depan bumi.

Apa itu Eco Enzyme?

Eco artinya lingkungan dan enzyme artinya enzyme (dari buah dan sayuran). Bagi saya 2 kata itu sungguh sederhana tapi meaningful. Secara practical, eco enzyme adalah pemanfaatan enzyme dari kulit buah dan sayuran agar bermanfaat bagi lingkungan.

Eco Enzyme: Mengenal Eco Enzyme, Cara Membuat Eco Enzyme 1
Pencetus Eco Enzyme, dr Rosukan

Dari artikel yang saya telusuri, Eco Enzyme adalah hasil penelitian Dr. Rosukan Poompanvong. Dari namanya ada yang bisa nebak beliau dari mana? Betul, Thailand. Selama 30 tahun penelitian, akhirnya eco enzyme sekarang dikenal di seluruh dunia sebagai solusi banyak hal, sebut saja; solusi pengolahan limbah dapur, alternatif pestisida alami, alternatif pupuk organik, cairan pembersih ramah lingkungan sampai solusi preventif untuk perawatan saluran pembuangan (agar tidak mudah tersumbat).

Wow, too good to be true…

Iya, makanya kamu jangan terlalu percaya dulu sebelum selesai bacanya, Saya Latifika akan menuliskan a to z tentang eco enzyme untuk pembaca Nusagates. Kalian tahu kompos? Nah, kompos dan eco enzyme ini ada kemiripan lho, karena sama-sama punya prinsip: mengolah  limbah dapur dan memanfaatkan proses fermentasi.

Tapi, bedanya kalau kompos menggunakan media tanah sedangkan eco enzyme menggunakan air. Karena medianya air, hasil fermentasi eco enzyme pun jadi punya manfaat yang lebih luas karena sifat “mengalir” nya,  seperti Ruc!ka, mengalir sampai jaauuuh

Kenapa Harus Eco Enzyme?

WHY oh WHY?

Baiklah sebelum menjawab pertanyaan ini, saya mau nanya. Hmmm….pernah tidak kalian merasa sayang membuang kulit buah dan batang sayur? Kalo iya, kita TOSS dulu! Saya punya perasaan “sayang” ini sudah lama. Perasaan ini jeleknya bikin saya kadang ngupas kulit buah tipis-tipis. Wkakakakak. Jadi, kalo makan mangga, nanas, kadang masih ada ijo-ijonya. Ya Allah, meditnya hamba, kulit aja di “sayang”. Ya, karena saya tadi sudah bilang kalau saya yakin di kulit buah itu ada sesuatu yang masih bermanfaat. Karena bukan anak Biologi, jadi saya gak dapat jawaban itu sejak awal.

Tapi, beda setelah baca dan menyimak obrolan para senior. No more medit lagi, karena ketika saya mengupas kulit buah saya tidak melemparnya begitu saja ke tempat sampah lagi, melainkan menyulapnya menjadi eco enzyme.

If there is a will, there is a way

Hmmm, jadi kita harus nih bikin eco enzyme?

Ya, gak harus sih. Cuman, kalian mungkin perlu alurnya sampai ketemu jawaban dari WHY nya. Jadi, begini kronologinya, Teman-teman;

1. Sampah dapur adalah penyumbang sampah  nomor wahid di TPA (data Kementrian Lingkungan Hidup 2020)

2. Sampah organik yang terkumpul dalam gunungan sampah TPA akan melepaskan gas metana -disebutkan 21x lebih merusak ozone daripada karbondioksida.

3. Bumi sedang menghadapi masa genting karena rusaknya ozone yang semakin melebar.

Climate change, perubahan iklim yang memunculkan bencana di berbagai negara -yang juga banyak diklaim sebagai bencana terparah sepanjang sejarah negara mereka yang disebabkan karena pemanasan global. Sudah pada ngerasain kan akhir-akhir ini cuaca ekstrim banget. Yang kebakaran hutan bisa sampai kayak kebakaran satu negara (Turki 2020), dan yang banjir bisa sampai banjir bandang (Indonesia 2020-till?). Hiks, subhanallah….

Padahal masalahnya sepele, kan? “CUMA” dari sampah. Tapi akibatnya sama sekali gak bisa disepelekan. (Eh, gak juga sih, sebagian juga tentu saja disumbang oleh asap karbon yang dihasilkan corong-corong besar di seluruh dunia, tapi kita gak bisa bahas ini, kita akan bahas dari apa yang bisa kita –orang-orang kecil- lakukan untuk bumi kita)

Fakta tentang Sampah Organik yang Menjadi Alasan Kuat Membuat Eco Enzyme

Selain poin di atas, ada juga beberapa fakta yang membuat saya makin tidak terbendung untuk mengolah sampah dapur menjadi eco enzyme (lagi dan lagi), di antaranya adalah;

1. Kulit buah dan batang sayur yang kita buang tidak berakhir di gunungan TPA dan menambah kontribusi gas metana penyebab efek rumah kaca.

2. Sebaliknya, mereka akan kita fermentasikan dan teruraikan oleh bakteri baik, siap menjadi pupuk dan pestida alami bagi tanaman.

3. Air fermentasi eco enzyme sangat kaya akan enzyme yang berasal dari kulit buah dan sayur yang akan bekerja dengan bakteri baik sehingga menciptakan cairan multifungsi, bahkan saya memakainya ketika eksim atau alergi dingin, bentol-bentol nan gatal di kulit hilang. Bonusnya kulit jadi mulus. Biidznillah.

4. Bisa digunakan sebagai cairan pembersih lantai pengganti karbol, bisa juga digunakan untuk menyiram tanaman, tanaman menjadi subur, atau dibuang ke kandang hewan ternak, maka bau kotoran akan berkurang signifikan. Saya sering melakukannyasiram cairan eco enzyme  ke lantai sekitar kandang anabul di luar, bau pup dan pipis menghilang entah kemana. Saya juga rutin menyiramkan ke lubang WC, WC pun jadi tidak pernah berbau lagi.

5. Karena kaya akan enzyme dan bakteri baik, cairan ini bisa menyembuhkan luka terbuka (yang ringan seperti tergores pisau seperti yang sering saya alami) dan radang di kuku tangan kanan saya.

6. Hasil fermentasi eco enzyme di pekan pertama menghasilkan gas NO3 yang akan dilepaskan sebagai O3 ke langit. O3 adalah gas yang kita kenal sebagai ozone (sumber: zewrowaste.id)

Fakta-fakta  itulah yang membuat saya ketagihan membuatnya lagi.

Ohya, masih ingat cerita suami yang membuang eco enzyme perdana saya? Alhamdulillah, eco enzyme kedua ketiga dst aman ya, Boend. Apalagi kalau melihat di poin ke 5, masalah di radang kuku saya yang pelan-pelan membaik setelah 4 tahun lamanya merana -karena radangnya bikin kuku saya rusak dan tampilannya jadi gak banget- pak suami pun akhirnya jadi luluh sedikit demi sedikit.

Sedikit cerita, saya memang selalu melaporkan perubahan kuku saya dengan suami. Selain karena ini adalah kabar baik, tentu saja ini sebagai alibi agar tidak ada lagi eco enzyme yang dibuang. Dengan nada memelas saya berkata tolong jangan dibuang lagi karena harusnya kita bersyukur dengan makhluk-makhluk renik ini.

Sedikit cerita lagi, suami sering memakai cairan desinfektan untuk membersihkan alat kerjanya. Cairan ini tidak hanya membunuh bakteri jahat tapi juga bakteri baik. Dan itu jika dibuang ke saluran pembuangan maka akan rentan tersumbat karena bakteri pengurai mati karena seringnya tersiram cairan desinfektan. Nah, dengan menyiramkan eco enzyme ke saluran pembuatan, artinya saya menciptakan kembali bakteri pengurai di pipa-pipa saluran pembuangan.

Bagaimana Cara Membuat Eco Enzyme?

Selain benefit yang banyak saya rasakan dan sesuai dengan “idealisme” saya yang “sayang membuat kulit buah”, Eco Enzyme ini juga sangat mudah sekali dibuat. Jadi bener kata para senior, kalau sudah pernah buat eco enzyme pasti mau lagi, mau lagi, mau mau mauu terus bikin lagi.

Saya sudah pernah 2x membuat vlog tentang pembuatan eco enzyme dan berkali-kali sharing di story IG dan status WA ketika saya membuat dan panen eco enzyme. Tapi, di sini saya akan menuliskannya khusus untuk kalian.

Eco Enzyme: Mengenal Eco Enzyme, Cara Membuat Eco Enzyme 2
Sumber: Earth Hour Malang

A. Alat dan Bahan Membuat Eco Enzyme

1. Toples atau container plastik (jangan kaca, please!)

2. Bahan organik; kulit buah dan sayur (lebih banyak kulit buah lebih bagus, agar hasil eco enzyme segar)

3. Gula merah atau gula aren

4. Air bersih

5. Timbangan

Eco enzyme dibuat dengan formulasi dalam gram dengan rumus gula:bahan organik:air 1:3:10.

Rumus ini dihapal ya benar-benar agar tidak terbalik, agar hasilnya bagus, fermentasi eco enzyme tidak berbau busuk dan tidak menghasilkan jamur berbahaya

B. Step by Step membuat Eco Enzyme

1. Timbang bahan organik yang sudah kita kumpulkan, fresh sangat dianjurkan, hindari yang sudah berulat dan busuk. Cacah dan sisihkan.

2. Jika sudah mendapatkan berat bahan organik, angka tersebut kita bagi 3 untuk mendapatkan berat gula merah/aren.

3. Timbang gula merah/aren sesuai dengan hitungan no.2. Serut dan sisihkan.

4. Jika sudah dapat berat gula merah/aren, kalikan 10 untuk mendapatkan berat air bersih.

5. Timbang air dalam wadah yang akan digunakan untuk fermentasi, sesuai dengan angka yang kita dapat di no.4

6. Masukkan bahan organik dan gula merah yang sudah disiapkan ke dalam wadah berisi air yang sudah ditimbang beratnya.

7. Aduk sampai gula merah tercampur

8. Tutup rapat sampai 3 bulan

9. Letakkan di tempat yang terkena cahaya matahari pagi agar fermentasi bagus. Jika tidak ada, letakkan di mana saja asal jauh dari tempat kotor dan berbau. Saya sendiri lebih suka menaruhnya di luar rumah.

Berikut beberapa pertanyaan yang paling sering saya dapatkan ketika sharing di status atau story.

QnA Eco Enzyme

1. Buah apa yang bisa dipakai?

Jawab: Semua buah asal sudah masak bisa dipakai, kecuali yang banyak getahnya seperti nangka dan cempedak. Cempedak mah dimakan aja kulitnya, enak tuh jadi mandai, tanya anak Kalimantan.

Buah mentah juga tidak direkomendasikan karena enzyme nya tidak banyak.

2. Berapa jenis buah yang bisa dimasukkan?

Jawab: Idealnya minimal 5 karena prinsipnya makin beragam kulit buah yang dimasukkan, maka enzyme nya akan lebih kaya. Tapi jika punya satu saja juga tidak masalah, saya sering koq cuma satu macam saja.

3. Buah apa yang paling bagus untuk dijadikan eco enzyme?

Jawab: Kalau mau hasil fermentasi beraroma segar sitrun, bisa pakai nanas, lemon, jeruk. Buah-buahan dengan senyawa citrus punya daya bersih yang paling baik. Tidak ada mereka? No worries. Bisa pakai apa aja termasuk kulit pisang, tapi jangan kaget nanti kalo hasil fermentasinya hitam, tapi ini gak masalah.

4. Bagaimana ciri eco enzyme berhasil?

Jawab: 1. Jika baunya bau segar tape, 2. Jika terbentuk jamur putih berupa serbuk di atas permukaan air atau lembaran jelly (Mama Enzyme), 3. Tidak ada belatung

5. Bagaimana ciri eco enzyme gagal?

Jawab: 1. Jika baunya bau busuk seperti air selokan atau TPS, 2. Jika terbentuk jamur hitam atau jamur putih tapi berbentuk lembaran tebal, 3. Muncul belatung

6. Bagaimana remedi jika eco enzyme gagal?

Jawab: 1. Tambahkan gula merah/aren, 2. Pindahkan tempatnya ke bawah sinar matahari selama 3-5 hari

7. Apakah eco enzyme bisa diminum?
Jawab: BIG NO NO NO. Eco enzyme hanya untuk pemakaian luar saja

Sudah kepanjangan nih saya rasa. Semoga bisa dipahami ya. Kalau tidak bisa, mohon dimaafkan karena saya masih pemula juga. Tapi honestly, saya memang suka sekali sharing soal eco enzyme karena benar-benar AHA moment saat itu begitu membekas di benak saya ditambah kebermanfaatan hasil eco enzyme yang benar-benar saya rasakan.

Semoga kalian bisa merasakan hal yang sama. Selamat mencoba

Sampaikan pendapatmu di sini.
Widi Utami
Widi Utamihttp://widiutami.com
Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain

Bacaan Menarik Lainnya

Tanggapan Kamu?

Baru Terbit