Sabtu , 23 September 2017
Home » Drama Timnas U-19 dan Tidak Rasionalnya Sepak Bola Kita |

Drama Timnas U-19 dan Tidak Rasionalnya Sepak Bola Kita |

Tadi malam, timnas U-19 tersingkir dari Piala Asia di Myanmar menyusul kekalahan 0-1 atas Australia. Di pertandingan sebelumnya, Evan Dimas dkk juga kalah 1-3 dari Uzbekistan. Kekalahan yang sebetulnya biasa-biasa saja, tapi disikapi seolah-olah para penggawa itu merupakan rombongan Vietkong yang habis dibombardir Rambo.

Ini kan perkara tumpah darah, kekalahan yang biasa-biasa saja bagaimana?

Begini. Jika mengikuti  sepak terjang timnas U-19 sejak lolos ke putaran final Piala Asia tahun lalu, Anda mestinya paham betapa kekalahan mereka  sejatinya dengan mudah dapat diprediksi.

Semua bermula ketika Maldini Pali cs sukses menghantam Korea Selatan 3-2, di laga terakhir kualifikasi. Sejak saat itu, timnas U-19 tak ubahnya serombongan dewa yang dielu-elukan kaumnya. Sikap tersebut sebenarnya bukan suatu masalah, mengingat sepak bola negeri ini memang identik dengan sakit hati dan rasa malu, maka tak perlu diherankan jika euforia atas kemenangan itu terus-menerus dirayakan.

Akan tetapi, apresiasi berlebih itulah yang justru jadi blunder. Para pemburu untung dengan cerdik mencium bau fulus. Mereka lantas melakukan langkah taktis dengan mengeksploitasi timnas U-19. Cukup dengan memberi kosmetik bernama “nasionalisme”, maka anak-anak itu kini tak ubahnya jersey nomor 7 Angel Di Maria di Manchester United: barang jualan.

Apa yang terjadi setelahnya hanyalah perpanjangan dari logika dasar kapitalisme, jual dan keruk laba sebesar-besarnya.

Lihatlah, buku-buku bertemakan timnas U-19  dibuat sebanyak mungkin, lalu parade iklan, (Anda tentu tahu, bukan, mereka membintangi iklan apa? Iklan sosis? Sembarangan. Jelas-jelas iklan pupuk kandang) kemudian diseret untuk mengikuti beragam talk show di televisi, dipaksa menjawab pertanyaan yang itu-itu saja, hingga yang terbaru dibuatkan film dengan judul yang sangat norak: Garuda U-19.

Semua kegiatan itu belum menghitung berbagai laga uji coba keliling Indonesia—yang lebih mirip sirkus di zaman Victoria—hingga ke luar negeri. Semua dilakukan berbulan-bulan lamanya. Terus menerus, kontinu, nyaris tanpa jeda.

Banyak orang dengan sinis mengatakan, betapa membosankannya sirkus keliling U-19 . Tak sedikit yang menyalahkan pihak manajemen timnas, dan merasa iba dengan kondisi (baik fisik maupun psikis) para pemain. Beberapa lagi tak sanggup menahan kemuakannya hingga memilih tak peduli.  Kesemuanya telah mengkhawatirkan dampak buruk dari publisitas berlebihan.

Harus diakui, hingga derajat tertentu, glorifikasi atas timnas U-19 itu tidak salah-salah amat. Bobroknya segala lini kehidupan negeri ini membuat sosok superhero, suka atau tidak, begitu dinanti oleh ratusan juta rakyatnya. Bagi para pebisnis, tentu saja ini adalah ladang uang. Eksploitasi pun dimulai dengan cara jenius: menjual (mimpi) superhero sepak bola.

Hingga akhirnya kita lihat tadi malam, timnas U-19 akhirnya dipentalkan kembali ke bumi. Berbagai media memberitakan kesedihan anak-anak itu. Foto-foto yang menampakkan ekspresi menangis para penggawa timnas U-19 menjadi headline di mana-mana.

Sejenak, kita seperti menonton reality show di televisi yang menjadikan kemiskinan sebagai komoditas penguras air mata.

Lucunya, banyak sekali yang mendadak merasa harus membela timnas U-19. Mereka inilah para suporter yang menyikapi kekalahan tadi malam dengan penuh drama. Mereka melarang orang-orang mengkritik, mengkritik balik, atau memaksakan kritik harus dengan solusi. Memangnya sejak kapan seorang kritikus film harus membuat film tandingan atas film yang dikritiknya?

Seolah-olah perbaikan mutu sepak bola negeri ini hanya mungkin terjadi dengan memberikan dukungan tanpa henti. Kritik dianggap sebagai tindakan haram yang melawan akidah.

Saya pun memahami, memang kurang tepat jika hanya mengkritik para pemain. Sebab dalam hal ini, mereka adalah korban dari ketololan sistem pengelolaan ala PSSI dan kemarukan para pemburu rente.

Tapi jika anak-anak U-19 harus disembunyikan dari berbagai kritik, apa yang akan mereka pelajari?

Saya tak yakin untuk menjawabnya. Kita sepertinya memang lebih suka mengurusi bumbu-bumbu telenovela, ketimbang memberi fondasi rasionalitas dalam sepak bola. Kita lebih suka drama perebutan kekuasaan antar politisi di PSSI, daripada membangun sistem reguler kompetisi yunior. Kita lebih suka dramatisasi dan slogan motivasi, ketimbang memperkuat literasi dan berjiwa besar mengkritik diri sendiri. Tapi tidak apa-apa, toh hanya di Indonesia sikap seperti ini dipertahankan. Silakan berbangga karena telah menjadi orisinal.

Kalau saya ikut ujian lalu ditanya tentang karakter sepakbola Indonesia, mudah sekali jawabnya: drama.





Penulis
Eddward S. Kennedy

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2014/10/drama-timnas-u-19-dan-tidak-rasionalnya-sepak-bola-kita/’][/link]

Masukkan Email kamu untuk mendapat artikel gratis dari Nusagates.com:

About

Berikan tanggapan kalian agar Nusagates semakin lebih baik.