Nusagachild

Drama Kehamilan Trimester Pertama Emak K

Kata orang, kehamilan trimester pertama adalah precious moments, penuh keharuan, menanti dengan berdebar-debar, hingga setiap hari menghitung mundur kapan Hari Perkiraan Lahir tiba. Ternyata, buatku ‘kata orang’ tentang hamil pertama sungguh mengawang-awang. Kehamilanku yang pertama penuh drama. D.R.A.M.A yang akan kukenang sepanjang hayat.

Drama dimulai tiga hari setelah test pack menunjukkan dua garis tanda kehidupan di rahimku. Sungguh Robbuna sedang Mengajakku Bercanda, Ia MembeDi hari keempat setelah test pack, aku mengalami bercak darah merah.

Dasar generasi milenial, bukannya segera pergi ke tenaga kesehatan terdekat, aku malah browsing di rimba Google dan mendapati diriku tersesat di artikel yang sungguh menguras emosi; TANDA-TANDA AWAL KEGUGURAN.

Aku menangis. Cengeng dan super sensitif.

Keadaan ekonomi yang belum stabil membuat kami berfikir ulang untuk sekedar berkunjung ke spesialis Obgyn. Kami nekat ke spesialis obgyn dengan membawa kesepakatan: jika uangnya kurang, maka obat enggak ditebus. Kami hanya membawa uang 400k saat itu.

“Kantung janin masih ada, tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan.” ujar pak Mufti Siradj, sembari menjelaskan kepada kami hasil USG yang terpampang di layar.

Aku menelan ludah. Diam.

“Nanti kesini dua minggu lagi, saya resepkan obat yang harus diminum. ” pungkas beliau.

Sampai di Apotik, tercenganglah kami dengan tagihan yang harus dibayar. 80 k untuk USG dan konsultasi dokter spesialis Obgyn, 300k untuk obat yang diresepkan oleh dokter. Uang di dompet hanya tersisa 20 k. Bhahaha. Obatnya untuk 2 minggu full. Ada obat penguat kandungan yang bikin mual saat diminum. Simalakama, diminum bikin muntah parah, enggak diminum kepikiran titipan Robbuna di rahim.

Flek berlalu. Ternyata, flek tadi merupakan penyesuaian tubuh. Bukan tanda bahaya. Baiknya sih, jika mengalami flek langsung periksa ke Obgyn untuk menyelidiki penyebabnya. Bukan malah browsing dan tersesat di rimba kekhawatiran.

Drama Kehamilan Trimester Pertama Belum Berakhir

Setelah melewati fase flek yang membuatku deg-deg an enggak karuan karena kebanyakan membaca artikel peringatan dini keguguran, aku masih dihadapkan dengan drama kehamilan trimester pertama yang rasanya enggak bisa ditebak dimana ujungnya.

Saliva Melimpah Ruah, Meludah Dimana-mana

Salivaku melimpah ruah. Rasa-rasa enggak dikasih kesempatan barang lima menit untuk menikmati kondisi rahang mulut yang kosong. Bawaannya mau meludah melulu, bahkan saat tidur pun. Sampai-sampai aku enggak pernah menutup jendela karena harus meludah setiap kali terbangun.

Kenapa enggak ditampung di kantung plastik?

BIG NO! Aku jijik dengan air ludahku sendiri. Pantang banget menampung air ludah. Jika melihat ludahku sendiri, pert langsung memberontak dan memuntahkan isinya. GEMESH.

Saliva yang melimpah ruah ini baru berhenti di usia lima bulan atau dua puluh minggu kehamilan. Hahaha, kalau ingat masa itu rasanya… Aduhai, K, begitulah drama saat kamu masih di perut Ibu.

Maghrib Sickness

Umumnya Ibu hamil akan mengalami morning sickness. Aku mengalaminya sepanjang hari, tetapi SANGAT PARAH saat Maghrib tiba. Jika pagi sampai sore paling muntah biasa enggak sampai lima menit, saat Maghrib tiba bisa setengah jam di kamar mandi. Malam saat tidur pun keinginan untuk muntah itu datang.

Saat itu aku enggak doyan makan, hanya makan buah saja, itu pun nyaris keluar semua bersama muntahan. Hanya bisa berdoa, semoga ini menjadi sarana tirakat untuk anak yang sedang kukandung. Enggak ada obat penghilang rasa mual, enggak ada susu karena aku mual mencium baunya, enggak ada camilan karena aku mual mencium bau bawang dan MSG.

Berat Badanku baru bertambah saat mual dan muntah berakhir di usia kehamilan ke tujuh. Sebelum-sebelumnya stuck di angka 45, sampai-sampai diberikan peringatan dini kurang berat badan. Heuheuu.

Gatal di Seluruh Badan, Sawan?

Trimester pertama, selain mual-muntah dan flek, aku juga diserang dengan gatal yang mendadak timbul di seluruh badan. Bintiknya kecil dan rata, semakin digaruk semakin menyebar. Gatalnya super gatal, kayak gatal karena cacar air. Tidak ada indikasi penyakit karena gatalnya tidak disertai demam. Dokter tidak berani memberikan obat, hanya menyarankan aku mandi lebih bersih lagi.

Saking stressnya melihat aku bedrest terus-terusan karena enggak punya asupan makan yang cukup disertai gatal enggak jelas, Ibu dan Mbah menyangka aku terserang sawan.  Kunyahan dlinga bengle dibalurkan keseluruh tubuhku, komplit dengan air ludah dan doa-doa yang terapal dari mulut Ibu. Hm? Ada yang bergidik? Wkwkwk

Abah K mencoba cara lain: antiseptik cair tanpa campuran apapun. Setiap malam tiba, abah K akan melumuri seluruh tubuhku yang gatal dengan antiseptik cair. Super duper perih, bahkan aku sampai nangis kalau antiseptik tersebut menyentuh bagian gatal yang terluka karena kugaruk.

 

Drama ya? Hahaha. Aku pun jika ingat cerita kehamilan trimester pertama hanya bisa tertawa. Padahal dulu nangis-nangis kayak sudah enggak punya harapan hidup lagi saking lemas dan tiadanya asupan makan. Sering iri dengan ibu-ibu yang hamilnya baik-baik saja, kuat wira-wiri kesana kemari. Tetapi, setelah melewati segala dramanya, aku menyadari satu hal. Mungkin ini cara Robbuna agar aku tidak memandang kehidupan hanya sebatas hitam dan putih saja.

Sebagaimana setiap orang punya ujian sendiri-sendiri, pun begitu dengan kehamilan yang dialami oleh setiap Ibu. Jangankan Ibu yang berbeda, setiap kehamilan pada satu Ibu saja memiliki ceritanya sendiri. Sebab, setiap anak adalah spesial, dengan kisahnya sendiri sejak di kandung Ibunda.

Tahukah Kamu Arti agrowisata?

ag·ro·wi·sa·ta n wisata yg sasarannya adalah pertanian (perkebunan, kehutanan, dsb)
Kata Kunci
Selengkapnya...

Widi Utami

Deaf Blogger, Emak K.
Close