Drama BPJS PBI vs BPJS Mandiri

Pagi itu kami sedang santai di rumah, tiba-tiba bu RW datang, memberikan empat keping kartu. Kami terdiam ketika menyimak pemberitahuannya jika BPJS kami sudah beralih ke BPJS PBI dan enggak perlu membayar lagi. Kaget? Jelas, teringat drama 2 tahun lalu saat kami mengurus pergantian BPJS PBI ke Mandiri. Sekarang malah diganti menjadi BPJS PBI kembali tanpa persetujuan kami.

Alasan Mengubah BPJS PBI ke BPJS Mandiri

Dua tahun yang lalu kami mengubah BPJS PBI ke BPJS Mandiri karena merasa sudah saatnya kami membayar BPJS sendiri, enggak lagi minta subsidi pemerintah. MAlu dengan hobi keluyuran dan staycation, tetapi BPJSnya masih subsidi pemerintah. Hiks.

BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) mendapatkan bantuan gratis dari pemerintah sehingga tidak perlu membayar iuran BPJS. Kalo dikutip dari website BPJS sendiri, “BPJS Penerima Bantuan Iuran diperuntukan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu sebagaimana diamanatkan UU SJSN. Mereka yang menjadi peserta BPJS PBI ini adalah orang-orang yang ditetapkan Pemerintah dan diatur melalui Peraturan Pemerintah”

Nah lho, masa hobi keluyuran dan staycation ngaku fakir miskin? Kan malu aku. Makanya aku memutuskan untuk mengubah kepersetaan dari BPJS PBI ke BPJS Mandiri karena merasa enggak layak mendapatkan kesempatan untuk dibayarin pemerintah, tetapi, malah… diubah kembali ke PBI. Kadang tuh yang kita kira baik, belum tentu baik untuk orang lain. 🙁

“Kan enak, gratis. Enggak usah bayar setiap bulan.”

Yha, mohon maaf, enggak semua orang menyukai hal-hal yang gratis. Kadang ada beban juga sudah mampu kok masih minta yang gratisan. Mungkin maksudnya baik, melayani sepenuh hati agar warganya senang karena tidak perlu membayar BPJS lagi, tetapi jika tanpa konfirmasi terlebih dahulu seperti ini kan aku juga yang puyeng. 🙁

Pengalaman Menikmati Fasilitas BPJS Mandiri 2018-2020

Kami sudah menggunakan BPJS MAndiri sejak 2019 dan menikmati fasilitasnya dua kali. Pertamakali menggunakan fasilitas BPJS saat aku harus operasi impaksi gigi bungsu. Saat itu aku harus operasi 4 buah gigi bungsu sekaligus. Aku menggunakan BPJS kelas II di RSUD Salatiga.

Cepet dan cakep banget layanannya. Bahkan kami enggak perlu wira-wiri mengurus administrasi operasi impaksi gigi. Tinggal setor KTP dan BPJS doang, then… petugas administrasi yang mengurus semuanya. Bahkan gosip kalau operasi pakai BPJS bakal antre lama berhasil dipatahkan, aku langsung dijadwal operasi 1 minggu kemudian setelah kontrol dengan dokter spesialis orodontitek. Dari awal persiapan operasi-kontrol gratis tanpa tambahan biaya.

Pengalaman kedua saat Kevin harus opname di RS Banyumanik. Saat itu layanan faskes 1 kami masih di Salatiga. Kevin kejang demam saat di kontrakan Semarang langsung kami bawa ke IGD. Sudah siap-siap bakal bayar dengan uang cash karena BPJS faskes 1nya di Salatiga.

Ternyata bisa diproses pake BPJS. Keren euy, admin RS ramah, enggak beda-bedain. Enggak ada cerita harus wira-wiri ngurus surat, admin cuma minta KTP ortu dan BPJS anak doang. Gratis? Enggak, karena aku sempat telat bayar iuran jadi ada dendanya. Hahaha

Proteksi/ asuransi kesehatan memang bukan ditujukan untuk investasi, ia seperti bamper yang akan melindungi kita saat terjadi hal-hal yang darurat. Yha, enggak ngarep terjadi sesuatu tetapi berjaga-jaga akan kemungkinan buruk juga perlu dilakukan selain ikhtiar dan pasrah total kepada Pencipta. BPJS kesehatan untuk aku sudah cukup membantu banget, makanya aku bertekad untuk ngubah lagi ke mandiri. Nanti kalo ada yang usil ngubah ke PBI lagi ya embuh. wkwkkwk.

Enggak cuma kesehatan saja yang butuh diasuransikan. Kepemilikan yang bernilai cukup besar juga perlu diasuransikan. Istilah orang jawa sih, biar enggak keblondrok. Mobil, rumah, bahkan gadget pun sekarang sudah bisa diasuransikan. Sudah banyak pilihan asuransi mobil di Indonesia yang bisa kita pilih agar biaya servis mobil bisa terproteksi karena jika mau dibayar tunai cukup menguras kantong.

Tanggapan Kamu?